Langsung ke konten utama

Terapi Perilaku

 

Kemarin pagi, Senin (14/9/2020), sambil mencecap kopi, membayang di benakku wajah orang-orang yang kembali harus menjalani aktivitas kantor dari rumah, seiring diberlakukannya kembali PSBB yang diperketat di DKI Jakarta mulai kemarin. Tetapi, tidak jelas benar wajah-wajah itu menyiratkan semringah kegirangan atau mecucu menggambarkan kekesalan. Ya, WFH harus kembali mereka jalani karena eskalasi orang positif Covid-19 di Provinsi DKI melaju kencang ’balapan’ dengan Provinsi Jawa Timur. WFH maksudnya work from home, ya. Bukan We Fell in love with a person Have never met.

Matahari meninggi, eh kopi malah menyurut ke dasar cangkir. Sudah agak siang rupanya. Perlahan aku susuri jalan Imam Bonjol ke arah Bambu Kuning, ketika lewat di Pasar SMEP tertangkap mataku sesosok pria sedang push up ditunggui aparat TNI. Aku paham, pasti ia sedang menjalani sanksi akibat tidak menjalankan protokol kesehatan, karena di mulutnya tidak tersampir masker jenis apa pun. Di Pasar Koga, ketika ada selinap bayangan aparat polisi datang, pedagang di pasar gegas memasangkan masker di mulutnya sambil memberi kode, ”Polisi, Polisi” ke pedagang lainnya. Duh, Gusti!

Orang-orang ternyata lebih takut terhadap polisi daripada virus corona. Masa pandemi Covid-19 belum lagi karuan kapan berakhir, eh ada temuan para ahli kalau virus Covid-19 sudah bermutasi pula ke jenis D614G yang 10 kali lipat lebih cepat penularannya. Atau barangkali lebih dahsyat efek mematikannya? Menangkal penularan virus Covid-19 dengan menjalankan protokol kesehatan 3M secara disiplin saja belum tentu kita kebal dari tertular virus apalagi kalau abai. Orang-orang yang kena sanksi di pasar, jalan, atau tempat keramaian lainnya karena tidak pakai masker itu, nyatanya masih cengar-cengir saja.

Di beberapa tempat strategis sudah dipasang banner ”kawasan wajib masker”, namun banner tinggal banner. Ibarat anjay menggonggong kafilah tetap berlalu. Peraturan dibuat untuk dilanggar seolah menjadi kebenaran yang sejatinya tidak benar. Maka, satu-astunya terapi perilaku yang harus ditegakkan agar masyarakat taat menjalankan protokol kesehatan 3M, adalah dengan memberi sanksi tegas tanpa kompromi. Satgas penanganan Covid-19 dari pemerintah daerah dibantu aparat gabungan TNI, Polri, dan Pol PP, harus terus patroli. Gas teroooos, jangan kasih kendor pokoknya, Pak!

Di Provinsi DKI bahkan preman pasar dilibatkan untuk menegakkan kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan di lingkungan pasar. Apa pun pertimbangannya, namun asumsi bahwa menanamkan perilaku baik, oleh orang baik saja belum tentu diikuti, apalagi oleh preman. Tetapi, barangkali pihak Polda Metro Jaya terlebih dahulu akan memberikan bimbingan teknis sebelum menerjunkan mereka. Bimtek itu semacam rambu-rambu, hal-hal apa yang akan dilakukan agar kehadiran mereka bisa diterima dengan baik oleh masyarakat dan pesan yang mereka sampaikan mungkin lebih mengena. Dicoba saja dulu, tak lebih daripada itu. Mengkonon belih?

Kepada sebagian masyarakat yang masih belum sepenuhnya paham akan pentingnya menjalankan protokol kesehatan secara disiplin, minimal 3M, memang harus ditanamkan terapi perilaku dengan menerapkan sanksi tegas. Penduduk DKI yang heterogen dengan tingkat intelektual yang tinggi pun masih ada warga yang terjaring razia masker di jalan-jalan. Apakah karena kurang ditanamkan terapi perilaku? Belum tentu! Bisa jadi karena tingkat kesadaran secara pribadi yang masih rendah. Barangkali benar adanya, pihak Polda Metrojaya perlu melibatkan preman pasar.

Kalau Polisi, TNI, Pol PP, atau preman pasar lebih ditakuti daripada virus Covid-19, perilaku demikianlah yang membuat pemandangan orang-orang berkerumun, tidak menjaga jarak, bahkan tidak memakai masker bisa dijumpai di beberapa tempat. Kondisi seperti itu sehingga eskalasi orang positif Covid-19 di DKI terus meningkat meski PSBB transisi diperpanjang berulang. Agar lebih menukik ke sasaran penekanan laju persebaran virus, terapi perilaku taat menjalankan 3M terus digencarkan. PSBB yang diperketat, meski berat mudah-mudahan menjadi obat.

 

#TerusMenulisBiarTakOleng               

 

     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...