Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak 1987

Sansai

andai sejuta kabut itu
tirai cakrawala Langit-Mu
adalah kepastian gugusan mega
untuk nanti pecah jadi hujan
di pelataran tanah merah-Mu
niscaya tanga-tangan segera tengadah
berebut panjatkan syukur

betapa lelah menanti anugerah
betapa sendu wajah menunggu
hasrat menggapai gugusan mega itu
jangan hanya terbentang di Langit-Mu
tercurahlah, luruhlah di bumi pijakan

tapi kabut-kabut itu
hanya menampak di angan harapan
Cakrawala-Mu begitu cerah
Udara Bumi-Mu begitu gerah
hasrat yang semula membara
malah terbakar lunglai
yang tinggal hanya mata menatap nanar
dan batin begitu kelu, rasa begitu sansai

Batu, Malang, Tahun Baru 1987

Kelabu

jemari lentik siapa
yang coba mengusik perhatian angin
mengajak singgah di beranda kelam
menyimak nada-nada falsetto
denting gitar yang tak pas setelannya
alangkah sendu itu lagu
tertegun aku dibuainya

hati siapa
yang tak gundah gulana
bila kekasih dicinta tak apel padanya
menghadirkan ceria lewat canda tawa
di malam Minggu sebagaimana biasanya
apa gerangan sebab, tanya pun berkelindan

hati siapa
yang tak berbunga-bunga
sejak sore mematut diri di depan kaca
merias wajah agar tampak rupawan
ketika nyatanya tak sia-sia ia ber-make-up
kekasih yang ditunggu hadir di muka pintu

hati siapa
yang tak begitu bahagia
duduk berbincang di sudut ruang
atau bersilang jemari jalan bergandengan
sepanjang koridor plaza menuju bioskop
nonton film dengan cerita percintaan semusim

sedang di kamar yang terkunci ini
hatiku kelabu dicekam rindu
rundung tanya menohok, menuding-tuding
mengapa kekasih tak datang apel padaku
jemukah dia akan rasa cinta
tercelakah diri ini, membuat daya tariknya menipis 
atau ada sikapku yang membuat hatinya tersakiti

oh, kekasih hati
jangan kau buat aku terpenjara dalam prasangka
dan hanya bisa meraba-raba perasaanmu
andai ada salahku yang begitu menyakitkan
hanya maafmu, penegas bahwa kau cinta aku
bila tak dengan kata-kata, isyarat cukup bagiku
perlihatkanlah isyarat itu lewat binar matamu
dan tentang aku, tak usah kau ragu
untukmu jua kusandarkan cinta

Malang, Sabtu larut malam, 4 April 1987

Serenada Malam

ketika senja mulai jatuh
kekhawatiranku kembali mekar
teja merah pergi sambil terbahak
setelah aku gagal cekali pelangi
temaram pun tak berhasil kubujuk
untuk tinggal lebih lama lagi
menemaniku menghadang angin
semua bergegas menuju ufuknya
yang telah janjikan gending malam
tembang pangkur mengalun merdu

aku tinggal dipeluk resah
menunggu datangnya angin malam
untuk kuhadang lalu kucumbu
dalam gelap kamarku yang kecil
setelah neon duapuluh watt kumatikan

antara tembok kelam
dan detak jam yang begitu pelan
kugayutkan nyanyian, serenada malam
yang tak karuan reffreinnya
mengulang-ulang sepenggal bait
silih berganti, namun tak selesai utuh

sekian lagu, sekian irama
telah menguap dari celah bibirku
sekian ratus kata, sekian ribu aksara
kumuntahkan sampai aku lelah

aku lelah, aku pun tertidur
aku mimpi, aku mengigau
kuhisap kata, kuhirup aksara
kujilat liur yang basahi bantal

aku terbangun, aku tersadar
kucoba mengingat-ingat apa yang telah kualami

angin malam yang mestinya kuhadang
ternyata telah lama lewat sambil tertawa
sempat singgah, menelanjangiku
kini telah pergi seiring datangnya pagi
aku hanya terkesima, penuh kecewa
aku menanggung aib yang ditinggalkannya

Jalan Candi Badut, Malang, Medio April 1987

Interupsi

coba kau geraikan rambutmu, kasih
kan kuusapkan jemariku membelainya
agar aku dapat nikmati wanginya

coba kau rebah di pangkuanku, kasih
biar kusibak rambut yang luruh di dahimu
agar aku dapat mengelus keningmu

coba kau pandangi aku, kasih
agar dapat kutangkap dan kunikmati
sinar kasih yang memancar di matamu

coba kau rekahkan bibirmu, kasih
biar aku kecup dengan lembut
kita rasakan bersama manisnya cinta
kita nikmati bersama lezatnya cinta

Malang, Mei 1987

Kutelusuri Lorong Hatimu

kutelusuri lorong hatimu
tingkapnya terkunci rapat sekali
kulihat ada luka menganga
buah dari putus cinta:
kau kini nampak begitu mawas diri

kutelusuri lorong hatimu
tingkapnya terbuka, menanti cinta
rupanya kau tak betah bersepi diri
tapi kenapa kau ragukan ketulusanku
ketika kupersembahkan sekuntum bunga

kutelusuri lorong hatimu
di tingkapnya yang terbuka lebar
kulihat dua asmara bertaut mesra
rupanya telah kau temukan kini
kekasih cendera mata idaman hati

kutelusuri lorong hatimu
kenapa tingkapnya kembali terkunci
rupanya sebuah kenyataan buka suara
ketika cintanya kau terima untuk bersemi
masih juga belum dapat tumbuh abadi
jadinya lukamu pun terkuak kembali 

kutelusuri lorong hatimu
lukamu membuat jiwamu goncang
buah cinta yang belum matang
semakin membuatmu bimbang
antara berupaya mencoba mengkaji lagi
atau hanyut dalam kesendirian saja
mengungkung diri dalam bingkai hari
mengisi lembar-lembar sepi
yang terkoyak dari rangkaian waktu
dengan catatan duka dan dendam
yang membara dalam sekam hatimu

kutelusuri lorong hatimu
tidakkah telingamu tuli, matamu buta
andai kau tahu arti keseimbangan hidup
tentu jiwamu akan tetap tenang
andai kau tahu cara memetik hikmahnya
tentu sikapmu akan lebih dewasa
setiap keputusan mengandung kemungkinan
tepat memutuskan, kemungkinannya bagus
keputusan salah, risiko menanti di ujung
bagaimana agar lempang jalan dititi
harus dikaji secara teliti kemungkinan terbaik
tidak pula tepat berpasrah: ”bagaimana nanti”
dengan menghibur diri: ”yang penting dijalani”

Malang, Mei 1987


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...