Lempuyangan—Dagen
![]() |
Stasiun Lempuyangan (foto: kotajogja.com) |
Jogja—Solo berjarak 60 Km. Jika menggunakan sepeda motor dengan kecepatan 60 Km/jam, maka dapat ditempuh dalam satu jam. Itu berdasar teori jarak dan kecepatan. Faktanya, bila dijalani akan memakan waktu antara 1,5—2 jam karena begitu keluar kota Jogja akan bertemu banyak perempatan bangjo yang abang (merah) lebih lama dibanding ijo. Itu yang membuat waktu tempuh tidak mutlak satu jam, tetapi bisa molor jadi 1,5—2 jam.
Libur Lebaran adalah masa paling crowded lalu lintas kendaraan di sekujur kota Jogja. Ramainya pemudik atau pelancong yang liburan ke kota Jogja, kendaraan yang tumplek niscaya akan membuat kemacetan di mana-mana. Yang jadi korban warga lokal yang akan pulang kerja seringkali tanpa menyana tiba-tiba disuruh putar ke arah jalan lain yang lebih jauh dari jarak yang biasa dilalui dari rumah ke kantor dan/atau sebaliknya.
Seorang karyawan yang akan pulang ke rumah di Jl. Kusbini
dari kantor di Jl. Mataram, tidak habis pikir karena jalan yang ke arah stadion
Kridosono ditutup. Dia terpaksa putar balik ke arah Jl. Pasarkembang, stasiun
Tugu, mblasuk-mblasuk masuk jalan kecil, tetapi tetap
macet di mana-mana. Alhasil, dia yang biasanya pukul 19 atau 20 sudah sampai
rumah, pada malam “jahanam” itu dia baru sampai rumah pukul 22. Puas dia
misuh-misuh di jalalan.
Ada lagi satu keluarga dari Surabaya liburan ke Jogja. Dari
Surabaya naik KA turun stasiun Lempuyangan, hendak ke hotel di Jl. Dagen dengan
taksi online kena macet selama 2 jam. Padahal, 2 jam itu bisa
untuk menempuh Jogja—Solo pergi–pulang dengan asumsi seperti perhitungan di
awal tulisan, yaitu pake sepeda motor dengan kecepatan 60
Km/jam. Ternyata waktu 2 jam itu habis sia-sia hanya untuk perjalanan
Lempuyangan—Dagen. Asu tenan...
Padahal, Lempuyangan—Dagen itu berjarak kurang lebih 1,6 Km. Apabila diakses dengan berjalan kaki, hanya akan memakan waktu 22—27 menit (berdasarkan pemetaan di Google Maps, akan melewati Jl. Lempuyangan Tengah III, Jl. Tegal Lempuyangan, Jl. Hayam Wuruk, Jl. Mas Suharto. Setelah Jl/ Mas Suharto akan melewati bawah jembatan Krétég Kéwék, terus ke Jl. Mataram, sampai ketemu Jl. Malioboro. Nah, tinggal menyeberang saja ke Jl. Dagen).
Dulu waktu ngekos di Klitren Lor, saya sering ke Malioboro berjalan kaki. Ke selatan dahulu (ngidul) menyusuri Jl. Wahidin Sudirohusodo terus masuk arah Jl. Trimo, Jl. Wardani (depan SMPN 5 dekat stadion Kridosono), terus masuk Ledok Tukangan, Jl. Yos Sudarso, Jl. Abu Bakar Ali (keluar pas di samping Hotel Garuda, kini Grand Inna Malioboro Hotel). Berjalan kaki itu ketika sepeda onthel aquh sedang tidak ada di rumah karena ada yang meminjam pakai.
Dulu paling nyaman memang naik becak melewati rute jalan seperti di atas (istilahnya lewat Kota Baru). Atau naik colt kampus, tetapi mesti putar-putar dulu ke kampus UII di Jl. A.M. Sangaji RS. Panti Rapih masuk bundaran Bulak Sumur ke kampus UGM atau mblasuk ke arah RS. Sardjito. Baru kemudian ke arah Jl. Jendral Soedirman, Tugu Putih, belok masuk Jl. Mangkubumi (kini Jl. Margoutomo), masuk Jl. Malioboro. Sekaang ada Bentor (Becak Motor).
Kini, Klitren Lor—Malioboro atau terus masuk Dagen bisa diakses menggunakan taksi online. Rute jalan-jalan (peninggalan trayek idola colt kampus) tersebut di atas juga bisa dijelajahi dengan Trans Jogja, moda transportasi modern yang murah dan lumayan nyaman. Jika tidak ada kemacetan, maka jarak tempuh Klitren Lor—Malioboro 30 menit. Tapi, musim mudik Lebaran, libur sekolah, libur Natal dan Tahun Baru (nataru) tentu akan ada kemacetan.
Komentar
Posting Komentar