Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Argo Cheribon Pagi

Gambar
Kereta Argo Cheribon berangkat dari Jatibarang pukul 07:17 dan tiba di Gambir pukul 09:37. Kereta yang nyaman sehingga meski kelas ekonomi, tapi karena ada kelas eksekutif juga jadi perjalanan tepat waktu, maka para calon penumpang harus on time  agar tidak ketinggalan. Karena check in hotel baru bisa pukul 13:00 sementara perjalan Grab Car hanya 20 menitan termasuk macet dan kecegat di lampu merah, maka sebaiknya nunggu dulu di Gambir sambil cari sarapan. Wajah Jakarta senja hari di luar jendela hotel. Di- booking -in hotel oleh adek dekat Sarinah. Swiss-belHotel atau Swiss-bel Inn. Setelah check in salat lalu tidur hingga senja. Pulang kerja adek ke hotel, habis Isya kami ke Sarinah, cukup jalan kaki karena dekat. Ada live music menampilkan Nyoman Paul Fernando alias Paul Idol, penonton membeludak, maklum ini kan  weekend  pulang kerja para worker nggak  langsung balik ke rumah, kongko dulu sama genk. Ada yang ngemal, kan pekan lalu gaji dah masuk rekenin...

Merehab Makam Kakak

Gambar
Cungkup makam bagian kepala sudah patah, tinggal yang di bagian kaki yang masih utuh. Melewati jembatan "Vina" Talun kemarin, selain untuk wisata kuliner, juga untuk ziarah ke almarhum kakak yang makamnya di bagian belakang terminal Cirebon. Karena dah lama tidak ditiliki, sempat mutar-mutar di seluasnya pemakaman mencari di mana keberadaan makam. Kata abang di dekatnya ada tanaman petai. Setelah ketemu, cungkup makam di bagian kepala sudah patah, hanya sisa di bagian kaki, tapi beruntung namanya di semen makam terbaca samar-samar. Tanaman petai sudah  gak ada ganti pohon ketapang. Artinya, masih ada pohon peneduh pelindung terpaan panas saat ziarah. Cirebon kan suhunya panas, Bro. Nama dibentuk dari pecahan keramik ditempelkan di semen makam bagian kaki. Meski hampir semuanya terlepas, tapi masih membentuk ukiran namanya. Kami sepakat untuk merehab kijing makam dengan menyerahkan pembuatan kepada pengelola makam. "Biayanya duajut," kata bapak yang bernama Aan itu...

Jembatan "Vina" Talun

Gambar
Jembatan layang Talun, tempat jenazah Vina dan Eki dibuang setelah dibunuh genk motor. Kami melewati jembatan Talun tempat jenazah Vina dan Eki diketemukan. Sepasang kekasih itu tewas dibunuh komplotan genk motor bersenjata bambu. Kasus yang terjadi 2016 silam itu sudah "terkubur" dan viral setelah diangkat ke layar lebar. Konon ada 11 pelaku pembunuhan, 8 sudah divonis seumur hidup. Produser film "Vina, setelah tujuh hari" pun dilaporkan ke Bareskrim Polri. Nah, merembet dah urusan. Bakal seru ending kasus ini nanti. Layak ditunggu ini nih . Ada 3 pelaku dinyatakan buron, kemudian direvisi oleh kepolisian menjadi hanya 1 dan sudah ditangkap di Bandung berinisial PS, seorang kuli bangunan. PS, di hadapan awak media usai konperensi pers berkeras menyatakan ia bukan pelaku pembunuhan. Apakah itu artinya polisi main asal tangkap saja? Fakta di persidangan akan membuktikan apakah PS hanya ditersangkakan alias hanya jadi tumbal belaka? Kita nantikan hasil akhirnya. Bag...

Lopis Mbah Satinem

Gambar
Sosok mbah Satinem, penjual lopis legendaris. Sebenarnya banyak kuliner legendaris yang viral di Jogja. Akan tetapi dua ini yang paling sering jadi buah bibir dan diposting di media sosial dan direviu dalam blog. Yaitu gudek mbok Lindu di Jalan Sosrowijayan kemudian lopis mbah Satinem di Jalan Diponegoro. Pembeli lopis mbah Satinem asyik menikmati lopis yang legend, wort it , dan viral itu. Pagi tadi aku dan istri ngopi dekat mbah Satinem jualan. Camilannya bolang-baling atau odading dan kue moci. Selagi menikmati kopi, tiba-tiba pembeli lopis kian ramai, aku pun mendekat ternyata kebagian nomor antrean 10, ya, udah gak papa, gaskenlah. Pembeli mesti antre pake nomor antrean. Satu pincuk lopis kami cangking dibawa serta. Kami meninggalkan Jogja menuju Cirebon, ada banyak kuliner khas kota udang itu yang perlu dijajal. Seperti nasi lengko, sego jamblang, empal gentong, tahu gejrot, dan jika penasaran pada warteg, boleh juga. Warteg alias Warung Tegal sesuai dengan namanya khas Tegal, t...

Memburu Kuliner Legendaris

Gambar
Warung Bu Sum, salah satu dari sekian warung yang legendaris di Pasar Bringharjo. Hari kedua stay di area Malioboro, tugas aku dan istri memburu kuliner legendaris dalam Pasar Bringharjo. Sayangnya sedikit kerancuan, los-los yang ditempati pedagang makanan bercampur baur dengan los-los pedagang batik, perkakas rumah tangga, sayur, dan bahan jamu-jamuan yang aroma khasnya menyeruak. Karena itu, beberapa makanan yang dahulu, tahun '80an, acap aku sambangi saban minggu tak kami temukan, agak gelo jadinya. Beruntung warung makan Bu Sum yang menjual soto ayam dan babat, sate kere, sate jando, dan oseng mercon terdeteksi. Di situlah kami makan siang dengan memilih menu soto babat. Warung Bu Sum Memulai hari, sarapan pagi tadi aku dan istri ngopi di belakang Teras Malioboro. Wuih, ada martabak telor, lumpia, dadar gulung, serta pisang goreng yang sudi menemani dua gelas kopi kami. Di samping kopi ada juga wedang uwuh dan air sereh bisa dipesan. Tinggal pilih mana suka sesuai selera. B...

Terhanyut Akan Nostalgi

Gambar
Wajah baru Mal Malioboro setelah berubah nama menjadi Plaza Malioboro. Aku dan istri sedang menikmati malam di Malioboro. Pedestrian yang dahulu penuh pedagang Kaki 5 kini kosong melompong, bisa dimanfaatkan pelancong main sepeda listrik sewaan, wara-wiri senang-senang. Tulisan 'Mal Malioboro' yang dahulu terpajang di atas bagian depan gedung kini bergantikan tulisan 'Plaza Malioboro' seiring 'dibelah-duanya' bangunan. Bagian depan jadi Plaza dan Belakang jadi Mal Malioboro. Akses masuk Plaza dari Jl. Malioboro (seperti saat masuk ke Mal Malioboro dahulu) sementara akses masuk Mal Malioboro harus dari belakang (Novotel Hotel) atau melalui pintu khusus di Jl. Mataram. Suasana para 'pengukur jalan' menyusuri Malioboro malam tadi. Sepeda listrik sewaan siap dimanfaatkan penikmat Malioboro siang maupun malam. Live music di pedestrian Malioboro setelah pertokoan tutup. Ada pemusik yang menyajikan 'live music' buat sopo sing butuh hiburan pejalan yan...

Lesu Darah

Gambar
Pertashop 'lesu darah' mangkrak tak beroperasi. Nggak habis pikir kenapa pertashop ini tutup berhari-hari (sedekat pengamatan saya) selama wara-wiri di area wisata Pantai Teleng Ria, selama stay di Araya Homestay. Mungkin sudah berbulan-bulan jarak waktu meringkus pertashop ini sehingga tak lagi beroperasi. Karena sepi pembeli? Sepertinya tidak juga. Ada saja pemotor yang lewat terutama ojol, mestinya sesekali butuh menambahkan BBM. Faktanya, tidak seberapa jauh dari tempatnya ada stasiun pengisian BBM yang dioperasikan perusahaan Mobil berjenama Indotrans. Banyak usaha "lesu darah" di masa "krisis" yang tidak begitu kentara benar. Pertashop dari Pertamina dan pertamini yang dikelola perorangan mestinya ajeg , lancar, dan maju. Walaupun ada pesaing Indostation dari Mobil (khusus di Pacitan), di daerah lain entah. Di Bandar Lampung yang banyak pertamini, sedekat amatan saya lancar dan maju. Usaha SPBU mini begitu sangat menolong ketimbang harus jauh-jauh ke ...

Coffee Museum Cafe

Gambar
One cup of hot cappucino at Museum Cafe. (zy) Habis jumatan kemarin kembali balik ke museum dan galeri SBY * ANI. Ini sebagai 'partai tambahan' karena anak mantu dari Surabaya datang, kita meet and great . Koempoel keloearga di Araya Homestay milik mbakyu mbarep yang kami datangi. Empat kamar disediakan bagi kami di samping tetamu lainnya dari luar kota. Di museum kembali mengeksplore apa yang cuma dilihat sekilas sekali lewat pada kunjungan pertama. Tetap saja akan tetapi saya belum terpuaskan juga. Kunjungan kedua kemarin kami masuk ruang teater, semacam bioskop mini, diputar video perihal tujuan dibuatnya museum yang Ibu Ani Yudhoyono inginkan. Kembali menonton ulang video tragedi tsunami Aceh di masa awal kepemimpinan SBY sebagai presiden RI. Kembali menyegarkan ingatan akan suatu kengerian. Ngeri mendalam menyadarkan kenyataan hidup di wilayah lingkar  ring of fire harus tinggi kewaspadaan bahwa ada bencana yang tak terduga mengancam. Jadi, pentingnya jaga kelestari...

Khutbah Basa Jawi

Gambar
Mencoba mengingat-ingat kapan tahun terakhir saya mendengar khutbah Jumat bahasa Jawa. Sepertinya lebih tiga dekade atau tiga dasawarsa. Oh, suwe , yo . Sejauh ingatan, salat Jumat khotibnya membaca teks khutbah berbahasa Jawa saat bekerja di Tangerang dahulu, persisnya tahun 1990an. Iki , yo , suwe maneh . Sesudah itu baru kembali menemukannya tadi ketika salat jumatan di Masjid As Salam, kawasan wisata keluarga Pantai Teleng Ria, Pacitan, Jawa Timur. Masjid kampung yang tidak terlalu besar ini adalah wakaf dari keluarga pengusaha. Ada dua masjid yang mereka wakafkan yang dibangun di kawasan wisata. Pantai Teleng Ria dekat dengan pusat kota sehingga mudah sekali mengaksesnya. Dikelola oleh pihak ketiga, sementara Pantai Pancer Dor dikelola pemda. Pantai Pancer Dor merupakan kawasan konservasi penyu dan geopark penuh tanaman pinus, dibuatkan jalur  jogging track  tempat pengunjung berolahraga. Kembali ke khutbah basa Jawi tadi, meski mengerti artinya, namun saya agak keterer...

Hijau Toska Mempesona

Gambar
Seragam pramugari berwarna hijau toska yang mengesankan nuansa tropis, berkelas, dan menyegarkan. (zy) Kabar tentang seragam baru crew Garuda memantik keingintahuan, seperti apa warna dan desainnya. Ketika numpak montor mabur berlogo kepala burung garuda itu dari Lampung ke Jakarta lanjut ke Jogja, ternyata masih 'warna-warna' lama itulah uniform  yang mereka kenakan. Seragam barunya ke mana dong? Ya, kostum warna orange (yang mencerminkan kesan hangat, ramah, dan penuh energi). Yang warna biru (memberi kesan andal, terpercaya, berwibawa, dan menenangkan). Warna hijau toska (menghadirkan kesan alam tropis yang berkelas dan menyegarkan). Kemudian warna ungu (elegan, inspiratif, dan kreatif). Seragam baru yang belum mereka pakai itu konon lebih moderen dan glamour. Videonya sudah beredar, video itulah yang memantik keingintahuan. Ternyata seragam lama yang sudah mereka pakai selama 20 tahun itu yang saya lihat. Meski seragam lama, tapi tidak terkesan jadul dan ketinggalan za...

Tulang yang Terpisah

Gambar
Hari pertama kami di kota kelahiran Pak SBY, ya, tentu saja mengunjungi Museum & Galeri SBY × ANI. Kesan saya, apa yang ada di dalamnya adalah saksi konkret cinta kasih Pak SBY kepada Bu Ani sejak masa muda hingga keduanya menua bersama lalu dipisahkan. Catatan kiprah Pak SBY sejak masa taruna di Akmil Magelang hingga pelaku sejarah lahirnya reformasi nasional 1998 dilanjutkan reformasi TNI & Polri sesudahnya. Puncak momentumnya ketika Bu Ani mendampingi Pak SBY jadi presiden RI 2004-2014. Banyak diorama yang menggambarkan tugas-tugas yang diemban Pak SBY sebagai militer, menunjukkan kapabilitas beliau yang berjiwa prajurit memang bisa dipertaruhan baik secara regional, nasional, maupun internasional. Luar biasa. Sungguh mengagumkan. Kepulangan kami ke Pacitan kali ini selain buat bertemunya empat bersaudara mbak-mbak dan istri saya ( ragil ). Ada yang mengistilahkannya dengan "ngumpulke balung pisah." Bisa juga, karena mereka berempat beralamat tinggal secara terpisa...

Dua Penerbangan

Gambar
One cup of coffee from Fore Cafe. (zy) Dua penerbangan kami jalani pagi tadi, bandara Radin Inten II ke Soetta pukul 07:12 tiba pukul 08:22. Lalu transit ke YIA pukul 11:22 tiba 12:22. Lanjut dengan rent car ke Pacitan pukul 13:11 tiba pukul 19:17, agak lama karena mampir kulineran di Warung Sambal Lamongan, Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta. Di jeda menunggu waktu transit untuk ganti pesawat, sejenak ngopi morning di Fore Coffee Bandara Soetta. Sengaja pilih kopi panas karena dari rumah menuju bandara pukul 05:20 untuk ngejar waktu boarding pukul 06:10 sehingga nggak sempat ngopi. Kopi yang jadi pilihan varian Hot Caramel Praline Macchiato. Bah, ngeri kali nama kopi itu. Padahal, isinya caramel digerujuk susu UHT jenama tertentu yang dipanaskan lebih kurang tiga menit, terasa dari panasnya saat diseruput tidak sehangat air panas dari dispenser. Tapi, ya, jadilah ketimbang nggak ngopi sama sekali. Sarapannya roti jatah dari pesawat GIA GA73.

Hanya Menanam Sajak

Gambar
sekadar ilustrasi (Kompasiana.com) Aku hanya menanam sajak, malam ini, berumpun-rumpun, maaaf hanya itu yang aku mampu. Sebab aku habis berkeringat, membuat bunting satu koper. Badannya terlihat gendut mengandung baju, celana, beha, jilbab berlembar-lembar, berlapis-lapis, bersusunan hingga penuh dan gendut.   Amis Darah di Pematang Sawah silsilah salah ada tulah tak terbantah tapi, tak ada keinginan menyerah itulah emosi yang menyulut amarah diperdaya bertubi amarah, diam pasrah mengkristal kisah kisah-kisah yang kurang nggenah mengkristal dalam satu wadah “rapat keluarga merembuk masalah” berawal ketidakbecusan pegang amanah dua bersaudara bertikai di pematang sawah o, darah tertumpah pematang sawah dicemari amis darah darah dari bersaudara satu moyang terpisah moyang yang lari ke negeri entah meninggalkan utang berlimpah tergadai akhirnya sebidang tanah tertawalah si tuan tanah BKP, 20 Mei 2024   Kebangkitan Amarah oi, hari kebangkitan na...

Mempertautkan Soul Searching

Gambar
Ilustrasi, pembaca Laskar Pelangi (Nina/Jawa Pos).  Menulis adalah bagian dari soul searching kata Bre Redana, pensiunan wartawan Kompas yang esainya rutin saya baca di rubrik “Udar Rasa” Kompas Minggu. Dua bukunya “Silat, Surat Minggu Bersama Guru” dan “Menulislah Seumur Hidup” baru juga habis saya santap. Rasanya sama lezat dengan tulisan-tulisannya yang pernah saya baca di koran Kompas. Soul searching , pencarian jiwa. Ya, jiwa yang sehat harus ditemukan dengan mencarinya, di mana letaknya, dengan cara bagaimana menemukannya? Menulis adalah cara saya mencatat peristiwa, cara saya mengekalkan teks-teks yang saya baca, cara saya menunda kepikunan, cara saya menolak lupa, cara saya menemukan (sikit jadilah) kepuasan batin. Untuk menemukan jiwa yang sehat, carilah pada raga yang sehat. Raga atau fisik yang sehat akan memancarkan psikis yang sehat, mencerminkan akal yang berpikir jernih. Raga yang diberi asupan makanan bergizi dan bacaan yang memberi pencerahan, niscaya memunc...

Lagi, Ke Batiqa

Gambar
  Nasi briani dan pilihan lauk pauknya Setelah Januari kemarin hotel ini jadi tempat keluarga dikarantina. Malam ini kembali ke sana buat dinner bersama keluarga besar kakak dan saudara-saudaranya. Batiqa Hotel Jl. Jenderal Sudirman. Hotel yang sekilas saya perhatikan di penunjuk lantai dalam lift tidak terdapat angka 4 entah apa pasal. Bolehlah ditelisik mengapa. Karantina (satu malam) jelang besoknya akad dan resepsi anak sulung di GSG Ernawan Khuwa Jukhai. Biar lebih dekat daripada berangkat dari rumah di BKP. Sederhananya biar MUA bisa mengeksekusi lahan garapan dalam satu paket di satu tempat. Coba kalau harus ke sana kemari (rumah kedua keluarga, kan repot). Kembali menyusuri jalanan kota yang tadi siang diguyur hujan deras sampai-sampai terjadi ada sedikit genangan di Jalan Kartini yang memang biasa kebanjiran. Jalan Kartini depan Central Plaza (dahulu Tanjungkarang Plaza alias Artomoro) memang biasa banjir hingga depan Mal Kartini (Moka) ke bawahnya lagi yang ceku...

Memetik Untai Sajak

Gambar
Burung Sriti ( Collocalia Esculenta ) pemburu Capung, image source: Realfood Memetik untai sajak di senja berteman kopi dan putu, rasanya tak ada yang lebih sajak daripada pahit kopi, manis gula aren dan gurih kelapa parut pada putu. Sungguh sajak yang rimanya memantulkan rasa bahagia. Seruling dari uap air mendidih buat mengukus putu betapa merdu. Dari kejauhan sudah tersampaikan suaranya yang melengking. Suara hati yang bahagia rasanya tak senyaring itu. Sebab hati tersembunyi di kedalaman.  Senja Bergurau capung di ujung ranting dihuyung angin badannya terguncang burung sriti penasaran dibuatnya ketika capung mengelak sambil tergelak angin memperdaya, sriti gagal menyergap ketika gerimis tiba capung entah ke mana mengapa tak sukacita menyambut hujan dari semula gerimis perlahan menderas membuat kuyup semua yang diamuknya ranting mati tempat capung semedi bersimbah keringat di hari yang naas sriti berulang kali gagal meringkus capung gagal membawakan anaknya s...