Tentang Sebuah Musim
![]() |
Ilustrasi kekeringan (foto: Honda Power Products Indonesia) |
Gejala Insomnia
Puisi Zabidi Yakub
Mengaduhlah sampai jauh,
ke langit ketujuh
Aduhkan keluh, langitkan
doa, aduh... aduh... Aamiin
Musim berganti tanpa
diberitahu peramal cuaca
Kemarau terlampau cepat
tiba, menjebak semua
Kita terima meski tidak
menyiapkan apa-apa
Hanya punya gejala insomnia, makanya mampu tetap terjaga
Peramal cuaca memang begitu, suka bercanda
Tandon kosong, lupa
diisi saat hujan berlimpah
Kita tidak siap, kita
semua alpa, sejatinya
Kekeringan melanda,
keluh kesah membahana
Tuhan kita
panggil-panggil Nama-Nya, kita cari-cari Alamat-Nya
Dalam lirih doa, dalam
aduh berpiuh, berpusar ke mana-mana
Padahal, Dia begitu dekat, ada di antara azan dan ikamah
Para pencari hujan, mendambakan bertemu Tuhan
Dahaga terasa oleh apa
dan siapa di mana
Flora, fauna, primata,
dan manusia tentu saja
Tak apa-apa. Biar dahaga
jiwa, hati tetap terbasuh doa
Jaga baik-baik gejala
insomnia, biar bisa melangitkan doa
Dalam kesahajaan,
menjalani musim yang telanjur berganti
Kemarau tidak akan betah, nanti dia pergi ke antah berantah
Tentang insomnia, ‘cuaca’ yang tak bisa diramal
Musim memengaruhi sikap. Mengapa?
Di kala hujan, orang digigil rindu kehilangan
Mencari jalan pulang, menemukan kehangatan
Di kala panas, orang dikepung api cemburu
Komentar
Posting Komentar