Warna Jiwa
![]() |
Ilustrasi foto milik tvonenews.com |
“Saya tahu ada yang mengatakan saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tau apa-apa, fir’aun, tolol. Ya ndak apa-apa, sebagai pribadi saya menerima saja.” Demikian “curhat” Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan yang dibacakannya di sidang tahunan DPR/MPR/DPD, Rabu (16/8/2023).
Di sisi lain Jokowi
merasa sedih karena budaya saling menghormati mulai pudar. “Tapi yang membuat
saya sedih, budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa ini kok kelihatannya
mulai hilang,” ujarnya. Menurut dia kebebasan di negeri ini kini disalahgunakan
untuk menyampaikan ujaran kebencian.
Jokowi juga menyinggung
istilah “Pak Lurah” yang santer didengungkan sejumlah politikus terkait siapa
capres-cawapresnya? “Belum ada arahan Pak Lurah.” Jokowi sempat mikir siapa
sosok “Pak Lurah” yang dimaksud. Belakangan ia mengetahui siapa sosok “Pak
Lurah” yang dimaksud, ternyata dirinya.
“Saya bukan Pak Lurah,
saya Presiden Republik Indonesia,” tegas Jokowi. “Curhatan” Jokowi di pidato
kenegaraannya itu kontan menuai beragam komentar dari warganet. Berbagai
perspektif mengemuka. Ada yang membela, ada pula yang mem-bully. Ada
yang menenangkan, ada yang mengeruhkan.
Bagi saya, sikap nerimo Pak
Jokowi terhadap segala “celaan” menunjukkan waran jiwa yang ia punya cukup
variatif seperti halnya warna pelangi yang mejikuhibiniu (merah,
jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu). Tak ada warna hitam yang
mencerminkan noda sehingga mengotori warna lainnya.
Dalam kenyataan kita
sering kali melihat hitam sebagai ‘noda’ pada warna putih, atau sebaliknya
putih menjadi ‘noda’ bagi warna hitam. Kenapa? Karena pikiran kita tidak
menerima keberadaan hitam pada putih atau putih pada hitam. Hitam atau putih
kita sebut ‘noda’ karena tidak kita inginkan.
Sikap legawa Presiden
Jokowi dalam menerima berbagai “celaan” bukan berarti ia sadar hal-hal tercela
itu ada pada dirinya, melainkan ia ikhlas menerima segalanya sebagai
warna-warni milik Tuhan. Di momen ikhlas itulah warna yang orang lain
menganggapnya ‘noda’, baginya itu warna kodrat Ilahiah.
Warna jiwa Pak Jokowi
begitu bersinar. Kalaupun memang ada cela, ya, karena sebagai manusia Jokowi
punya potensi untuk salah sebagai kekurangan dari hal benar yang ia lakukan.
Yang baik dan benar, kita nikmati sebagai kelebihannya. Yang salah dan kurang,
kita kritik dengan cara yang baik dan elegan.
Memperingati HUT ke-78 Kemerdekaan RI ini kita kaji ulang makna independean day sebagai hari yang amat menggembirakan. Walaupun lagu Rungkad yang punya makna “terpeleset” dilantunkan Putri Ariani, janganlah membuat kita terpeleset dalam bersikap, agar warna jiwa kita yang santun tidak menjadi ternoda.
Komentar
Posting Komentar