Salip Menyalip

Ilustrasi ketidaktertiban berhenti di lampu merah. (liputan6.com,)

Hanya bisa membatin, kalau urusan ngebadog, orang salip menyalip. Coba kalau disuruh kerja atau dimintai tolong, semua kayak berpangku tangan. Yang enak-enak, rela dikejar hingga ke lubang semut sekalipun. Yang bikin soro, huh... siapa peduli. Ditunjukkan karakter seseorang.

Orang akan panik manakala berita kelangkaan gas tiga kilogram sampai ke telinga mereka. Tahan meninggalkan pekerjaan demi antre gas melon. Kerumunan manusia kalap seketika itu membentuk barisan tanpa perlu dikomando dan diminta, saling salip. Lagi-lagi, karakter.

Urusan ngebadog dan gas langka, fenomena yang amat mudah mengarahkan kerumunan manusia membentuk barisan antre tidak perlu dikomando. Sepertinya takut sekali kalau tidak kebagian. Karena itulah, ketika diminta tertib susah sekali untuk menaatinya karena kalap.

Di jalan raya pun saling salip, lampu merah diterobos atau berhenti di paling depan, zebra cross yang semestinya hak para pejalan kaki tetap saja ‘dirampas’ entah dengan alasan apa. Tanpa sadar di perempatan jalan ada etle yang mengintai gerak-geriknya. Kena tilang, nangis.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Angin Laut Pantura

Rumah 60 Ribuan