Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2024

Penuh Kejutan

Gambar
Buket bunga hidup yang diterima istri dari anak-anak kelas IX-A, Rabu (31/1/2023). Buket bunga by: @Floristbyboo Pelukan Berulang Apa yang menghangatkan selain selimut? Berdiang di perapian barangkali lebih hangat. Tetapi, yang paling sederhana adalah berpelukan. Selain menghangatkan, pelukan bisa menghadirkan rasa nyaman. Di momen perpisahan dengan anak-anak didiknya semua, ada pertukaran pelukan atau dekapan antara istri saya dengan pelajar putri kelas IX-B, IX-C, dan IX-A, tiga hari berturut-turut sejak Senin (29/1) hingga Rabu (31/1). Puaskah pelajar putri yang dipeluk itu? Tentu saja. Hadirkah perasaan nyaman pada mereka? Sangat iya. Tetapi, sepertinya ada di antara mereka yang merasa kurang puas. Karenanya, di hari terakhir istri sekolah, Rabu (31/1), pelajar putri yang meski sudah dipeluki hari Senin dan Selasa, balik menyambangi istri ke kantor Koperasi untuk minta kembali dipeluk dan bertangis-tangisan sampai sepuas-puasnya. Pelukan berulang itu niscaya akan dikenang mas...

Orang Tua Pengganti

Gambar
Buket bunga dari anak-anak kelas IX-C merupakan rangkaian bunga hidup bukan dibuat dari kertas, (Selasa, 30 Januari 2024) “ Guru adalah orang tua pengganti ”  atau  “ guru adalah orang tua di sekolah ” . Adagium seperti itu barangkali tidak keliru. Anak disekolahkan oleh orang tuanya, tentu tujuannya baik, yaitu untuk dididik oleh guru. Orang tua menyerahkan dengan penuh kepercayaan. Pada era terdahulu, orang tua tak terlalu ikut campur dengan cara apa guru-guru di sekolah menfifik anak-anak mereka. Sehingga  “ kekerasan ”  terhadap anak didik oleh guru dalam konteks mendidik, tak pernah sampai timbulkan salah paham apalagi pelaporan. Jadi, di situlah makna “menyerahkan dengan penuh kepercayaan” dimaksud. Beda dengan era sekarang, “kekerasan” oleh guru terhadap anak didiknya dalam konteks mendidik, bisa berujung pelaporan kepada pihak berwajib lalu masuk ke ranah pengadilan. Akhirnya apa yang terjadi? Guru atas alasan takut dilaporkan ke polisi bila melakukan “keke...

Air Mata Anak-anak

Gambar
Masih ada sisa senyum dan tawa ceria dari tetes air mata anak-anak IX-B yang mengabadikan momen terakhir kebersamaan mereka dengan ibu guru mereka yang akan purna bakti besok Kamis. (foto: kyla IX-B) Pulang dari mengajar, istri membopong buket bunga. Rupanya itu persembahan anak-anak didiknya di kelas IX-B. Tidak hanya bingkisan buket bunga itu, dia juga mendapat tangisan dari anak-anak yang mulai hari Kamis nanti akan ditinggalkannya. Air mata anak-anak yang menangisi guru mereka yang akan purna bhakti, tentu bukan sekadar menangis asal nangis, melainkan air mata mengandung kesedihan sebab sedang nyamna-nyamannya belajar tiba-tiba berhenti di tengah jalan tidak sampai akhir semester. Penginnya anak-anak itu diantarkan dia sampai akhir semester atau ujian kenaikan kelas Juni nanti, tetapi apadaya istri saya pensiunnya TMT 1 Februari ini. Mau tidak-mau anak-anak itu harus rela melepasnya dan ikhlas menerima guru pengganti, apa pun rasanya. Setiap guru punya cara mengajar masing-ma...

Saudara Seperantauan

Gambar
Ilustrasi, image source: Inamigratory Berteleponan dengan abang Ari di Jatibarang, saya tiba-tiba menyinggung Bang Yos yang dianggap “saudara kandung” oleh abang Ari. Apa pasal? Karena mereka berdua sama-sama perantau di sana. Sesama dari Pulau Sumatra. Bang Yos adalah perantau dari minang. Ternyata Bang Yos sudah berpulang pada 1 Juli 2021 silam karena “dimangsa” Covid-19. Perawakannya yang lumayan gemuk barangkali saja menyimpan berbagai penyakit yang bisa jadi memicu datangnya serangan jantung tiba-tiba dan wafat. Jahat betul, ya, Covid-19. Di masa Covid-19 melanda, orang meninggal dunia di rumah sakit oleh penyakit apa pun akan “di-covid-kan” entah mengapa begitu. Konon ada kompensasi dari pemerintah yang diterima rumah sakit yang merawat pasien. Semacam ada transaksional terhadap nyawa. Jadi, semakin banyak pasien meninggal di rumah sakit yang di-covid-kan, maka semakin banyak cuan kompensasi yang mengucur ke rumah sakit. Tak urung kan upaya meng-covid-kan pasein y...

Telusur Penyebab

Gambar
Image source: youtube tvone General check up adalah prosedur baku yang harusnya dilakukan secara berkala untuk memantau tingkat kesehatan. Tetapi, belum jadi kebiasaan karena terkendala mahalnya biaya. Karena itu, tidak semua orang bisa atau mampu melakukannya. Ketika tingkat kesehatan sudah tidak baik-baik saja karena ada penyakit kronis di dalam tubuh, barulah general check up dilakukan untuk menemukan di bagian mana dalam tubuh seseorang yang bermasalah. Ginjal, paru, liver, jantung, dll. diperiksa. Penyakit jantung selain dipicu oleh hipertensi dan ada penyumbatan pada aliran darah arteri, bisa juga terjadi sebagai akibat dari kerusakan di organ ginjal. Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan, ginjal yang rusak akan berpengaruh pada jantung. Bahkan tidak hanya jantung, liver dan paru juga bisa terganggu fungsinya apabila ginjal rusak atau biasa diistilahkan dengan gagal ginjal. Orang yang gagal ginjal akan menjalani cuci darah secara rutin seumur hidup hingga akhirnya mati juga. Ce...

Investasi Kesehatan

Gambar
Image source: April's Diary Menyimak penuturan abang Fathon yang bercerita bagaimana ngah Ima menjelang wafatnya yang tidak tampak seperti orang sakaratul maut pada umumnya. Tak ubahnya orang tidur biasa. Sedari koma pukul 03 pagi hingga napas terakhirnya tanggal di pukul 11:20. Saya jadi teringat pernah memposting tulisan tentang pesohor meninggal usia muda karena sakit jantung. Mereka yaitu Irene Justine (22), Cecep Reza (31), Mike Mohede (32), Dendi Mulyadi Pasha atau Dendy Mike’s (42) yang merupakan vokalis band Mike’s Apartment. Irene Justine meninggal di lokasi suting di stasiun TV sesaat setelah jatuh pingsan. Cecep Reza meninggal saat sedang tidur. Mike Mohede tidur siang usai main PS bareng manajernya Indra Djamal, tetapi rupanya Mike tak sadarkan diri, meninggal dalam perjalanan ke RS. Mereka mengalami henti jantung ( cardiac arrest ) atau kematian jantung mendadak ( sudden cardiac death ), yaitu kondisi jantung secara mendadak berhenti berdetak karena gangguan iram...

Sambol Blutak

Gambar
Sambal matah durian Nah, apa pula sambol blutak itu. Bermula cerita, waktu pulang ke Ranau dalam balutan dukacita Senin (22/1) kemarin, sore Selasa di acara niga-hari ngah Ima, agar tidak kelaparan saat tahlil bakda magrib hingga usai Isya’, kami makan terlebih dahulu. Terhidanglah sambal matah ikan mujahir dan gulai peros mujahir. Penasaran dengan nikmatnya sambal matah ikan mujahir itu, siang tadi saya buat sambal matah durian. Itung-itung, “tak ada tempoyak, durian pun jadi” atau “tak ada ikan, apa pun jadi.” Nah, cilakanya, “apa pun” itu tidak dinyana durian yang mengambil peran sebagai pemeran pengganti. Jadi apa pun, deh. Sebelum saya comot saat makan siang, terlebih dahulu saya jepret pake kamera ponsel, kemudian saya unggah di WAG Bani Abdurahman, yakni grup “cawe-cawe” yang menghimpun keturunan tamong Abdurahman yang ada di Ranau, Jabodetabek, Bandung, Indramayu, Pekalongan, Yogya, Bandar Lampung, dan OKI. Ada yang comment sambol blutak tadi. Saya yang baru tahu kali ini jad...

Memanggul Sedih

Gambar
Ilustrasi orang bersedih. Image source: Strategi.id Saya berdua istri hanya bisa membersamai sahibul musibah dua malam saja. Malam Selasa dan Rabu atau tahlil hari/malam kedua dan niga hari atau niga malam. Keesokan harinya, Rabu, 24/1/2024, kami berdua kembali ke Bandar Lampung, memanggul sedih. Sedih rasanya meninggalkan abang Fathon sendiri di rumah. Sepeninggal ngah Ima, nanti di bulan suci Ramadan ia akan bangun makan sahur sendiri. Dua anaknya, yang sulung dan ragil menetap di Ogan Ilir dan Indralaya sebagai guru SMA dan SD di sana. Bukan saya dan istri saja yang pulang sehabis niga hari, melainkan anak sulung dan ragilnya itu juga harus segera kembali ke Ogan Ilir dan Indralaya, tentu tidak mudah berlama-lama meninggalkan pekerjaan sebagai guru. Kegiatan belajar siswa akan terganggu. Abang saya Ari yang dari Jatibarang juga pulang bersama Yayu Iyah pada siang hari naik bus Ranau Indah sampai Bekasi. Ditinggalkan serentak oleh anak-anak dan adik-adiknya begitu, entah apa ya...

Menemukan Kemajuan

Gambar
Jemaah pentakziah antre mengambil makan di meja prasmanan di bawah tarup yang sederhana. (foto: zabidi yakub) Tahlil hari/malam ketiga ( niga hari ) bakda magrib dilaksanakan di surau Muhajirin. Selesai tahlil langsung disambung salat Isya. Kemudian jemaah ke rumah sahibul musibah untuk menyantap hidangan makan malam a   la prasmanan. Menikmati hidangan yang disajikan a la tanjar buntor , sebuah tradisi di daerah Lampung dan Palembang yang mulai memudar. (foto: Baceday Media) Sudah tidak ada lagi hidangan  a la tanjar buntor atau tanjar kejung seperti dahulu. Entah sejak kapan cara prasmanan ini diterapkan dan oleh siapa yang memulainya. Tetapi, dipikir-pikir model prasmanan lebih praktis, maka mulai banyak dipakai. Saya jadi seperti menemukan kemajuan budaya sekaligus kehilangan budaya. Budaya hidangan  a la tanjar buntor atau tanjar kejung yang biasa dilakukan di masa lalu ternyata sudah digantikan budaya hidangan a la prasmanan yang simpel. Hidangan ...

JTTS yang Bikin Saro

Gambar
Bus ALMIRA trayek Belitang-Lampung-Yogya sedang melintas di JTTS ruas Natar--Terbanggi. (foto: zabidi yakub) Ternyata JTTS itu bergelombang. Beruntung saja merasakannya hanya dari get Natar hingga exit tol Terbanggi, tidak panjang-panjang amat. Kalau saja sampai Pelembang sano , cacam lokak saro badan. Kalau yang arah Bakauheni memang sudah sering melewatinya, yang arah Terbanggi baru hari ini tadi. Teraso nian bedanyo . Nyata terkesan terburu-buru penyelesaiannya. Demi peresmian yang dipaksakan. Pulang kampung juga akhirnya setelah ditunda-tunda sekian lama. Dan, lebih bisa terlaksana karena kabar duka yang amat tidak terduga. Ngah Ima berpulang kemarin siang dan hari ini baru ada travel ke Ranau. Perjalanan yang sedikit membagongkan, sudah lama sekali tidak merasakan goncangan berkendara di jalan lintas sumatra yang bergelombang. Serasa naik motor boat di danau Ranau saat sedang berombak. Tetapi, sedikit terhibur ketika singgah makan di RM Lumayan 2. Pindang tulang panas yang...

Sang Pemilik Waktu

Gambar
Image source: YouTube IP-ICBS Riau Pukul 10:07 pagi tadi abang Ari di Jatibarang menelepon mengabarkan bahwa ngah Ima dalam keadaan koma sejak tadi malam. Saya lalu menelepon Evi anaknya ngah Ima yang di Ogan Ilir. Rupanya mereka sekeluarga dan adiknya Asror sekeluarga sudah sejak hari Rabu ada di Ranau. Sepertinya mereka sudah diberitahu abah mereka dan disuruh pulang karena kesehatan mak mereka ngedrop . Saya langsung menelepon salah seorang driver travel, menanyakan apakah ada travel ke Ranau sore ini. Ternyata tidak ada travel ke Ranau yang jalan malam hari. Berarti besok pagi baru ada. Saya dan istri kemudian pergi ke Tanjungsenang mengantarkan kue dan nangka ke rumah mbak Sas. Sayang, mereka lagi pergi. Azan zuhur bergema, saya gegas ke masjid di Jl. Ratu Dibalau. Barangkali saya baru 200 meter dari rumah menuju masjid, telepon berdering dan diangkat istri saya. Kabar duka terdengar di seberang telepon, ngah Ima sudah berangkat pulang ke haribaan Ilahi Rabbi sekira pukul 11...

Pujakesuma

Gambar
Sekretariat DPW Paguyuban Keluarga Besar Pujakesuma Provinsi Lampung. (foto: zy) Pujakesuma adalah organisasi yang beranggotakan masyarakat keturunan Jawa yang menetap di Pulau Sumatra. Organisasi ini eksis dan hidup, ada dewan pimpinan pusat dan wilayah. Di Provinsi Lampung, kantor DPW-nya beralamat di Jl. Sultan Badarudin. Merupakan akronim “putra Jawa kelahiran Sumatra”. Nah, bagaimana dengan anak hasil persilangan dari orang tua yang beretnis Jawa dan Sumatra, tetapi tidak dilahirkan di Sumatra? Ambil contoh, saya Sumatra dan istri saya Jawa, anak kami dua dilahirkan di Jawa. Ketika mengetahui ada organisasi Pujakesuma sebagai akronim dari “putra Jawa kelahiran Sumatra”, saya lantas secara iseng memelesetkannya menjadi “putra Jawa keturunan Sumatra” sehingga bisa disampirkan kepada anak-anak yang ayah mereka orang Sumatra. Kepada abang saya yang juga beristrikan orang Jawa, saya pernah berseloroh bahwa anak-anaknya adalah “pujakesuma” alias putra Jawa keturunan Sumatra. Abang s...

Penyakit Berinisial “X”

Gambar
Instagram infipop.id Lewat di wall IG, WHO mengimbau agar bersiap-siap menghadapi datangnya penyakit berinisial “X.” Kaget dong ? Tentu! Siapa yang nggak kaget. Nah, yang lebih mengagetkan lagi, di bulan Mei nanti kemungkinan akan ada penetapan status pandemi  penyakit “X” ini . Buset dah . Baru saja napas terasa lega sehabis pandemi Covid (2020—2022) dinyatakan selesai, kok pada bulan Mei 2024 nanti kita akan diringkus pandemi baru. Wah, siapkah? WHO menyatakan agar bersiap-siap. Maka, mau tidak-mau, ya, kita  kudu siap. Gak bisa mengelak. Kesiapan menghadapi penyakit berinisial “X” dibahas WHO dalam World Economic Forum (WEF). Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia,  Tedros Adhanom Ghebreyesus, serius menyoroti pentingnya bersiap menghadapi akan munculnya penyakit berinisial  “X”. Jika betul bakal ditetapkannya status pandemi bulan Mei nanti, maka tentunya WHO sangat mengharapkan adanya kesepakatan dari berbagai negara di dunia. Kesepakata...

Menanti Hari Baru

Gambar
Bikin PIN ATM di Bank Mantap Kemarin, 17/1, kali terakhir istri mengenakan baju korpri. Dia menghabiskan injury time bulan Januari ini. Terhitung 1/2 dia purna bakti tugas mengajar setelah digelutinya selama hampir 30 tahun sejak tahun 1995. Sebentuk foto yang saya jepret di depan gerai fotokopi, membangun prasasti di IG miliknya, menuai beberapa comment haru biru, melankolia, dan like dari teman-teman dan saudara yang menjadi follower setianya. Dari beberapa waktu lalu dia sudah wara-wiri ke BKD dan Taspen untuk menyelesaikan administrasi yang berkaitan dengan dana pensiun dan lembaga bank yang nantinya akan meng- cover  uang pensiun bulanan. Siang tadi, dengan diantar oleh saya, kembali dia ke BKD dan Taspen untuk melakukan rekam biometrik. Kemudian ke Bank Mantap (Mandiri Taspen) di Kupang Kota untuk membuat PIN ATM tabungan Mantap. Dengan telah selesainya segala urusan, makin tampak tanda-tanda pensiun. Kalau melihat raut wajahnya, banyak orang tidak percaya istri saya...

Pindah Tempat Memilih

Gambar
Contoh Surat Pindah Memilih Model A Di Pemilu, entah tahun berapa dahulu, lupa persisnya, saya menguruskan surat pindah TPS untuk istri dan keluarga Mas Thoha yang kebetulan sedang perjalanan ke Jawa, namun singgah sejenak di Jakarta berkaitan dengan pemilu. Dengan diuruskan surat pindah TPS tersebut, mereka bisa lakukan pencoblosan di Jakarta. Tadi pukul 19:36 anak ragil meng-share surat pindah memilih yang ia urus di PPS daerah tempat indekos berdasar keterangan dari kantor tempat ia bekerja di kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Cukup mudah urusannya, hanya dengan menunjukkan surat keterangan dari tempat kerja dan tentu saja KTP. Di era digital saat ini, semua urusan lebih mudah diselesaikan. Dibanding di era pemilihan umum masa lalu, untuk mengurus pindah tempat memilih harus datang langsung ke kantor kelurahan atau rumah ketua PPS. Terbilang ribet, berdasar pengalaman saya menguruskan untuk istri dan keluarga Mas Thoha. Dengan telah mengantongi surat pindah ...

Kabut Sore

Gambar
Kabut sore yang tidak begitu kentara di dalam foto. Hujan sore tadi lumayan lebat. Setelah reda, kian senja semburat asap tipis mengambang di permukaan tanah. saya pikir ada yang membakar sampah. Saya keluar memastikan dari mana datangnya asap tipis tersebut. Ternyata bukan berasal dari pembakaran, melainkan kabut yang menguap dari tanam-tumbuh yang basah oleh hujan. Saya arahkan kamera hape memotretnya. Sayang tidak terlalu kentara kabut yang terekam. Di perumahan Bukit Kemiling Permai (BKP) memang kerap muncul kabut setelah hujan. Bila hujan malam hari, maka pagi-pagi niscaya sekujur perumahan dan jalan-jalan akan diselimuti kabut dari uap embun. Itulah salah satu eksotisme yang bikin perasaan senang tinggal di BKP, yaitu masih bisa menjumpai kabut tipis, masih bisa merasakan oksigen seperti begitu terbatas sehingga napas seolah-olah tersengal-sengal dibuatnya. Musim penghujan memang masih berintensitas rendah di BKP sehingga kabut pagi atau sore belum begitu mudah dijumpai....

Sepasang Sepatu

Gambar
Image Source: Riseloka.com Sepasang Sepatu Puisi  Zabidi Yakub Sepasang sepatu saling melengkapi Kiri kanan seiring sejalan Melangkah bergantian Tidak menaruh iri apalagi benci Tidak ada yang merasa didahului Tidak ada yang merasa ditinggalkan Satu per satu diangkat kaki yang memakai Satu per satu mengikuti kehendak tuan Sepasang kekasih bisakah seperti sepatu? Sepasang suami istri juga bisakah meniru? Seperti sepasang sepatu, saling menggenapi Seperti sepasang kaki, membawa sepatu pergi Hendaknya iya, kedua belah kaki selaras Membawa sepatu dengan mengangkat Menapak jalan, bukan menghempas   Perlahan dijejakkan lalu kembali diangkat Tidak terasa perjalanan kaki demikian jauh Keduanya, yang kiri dan kanan tidak lelah Apalagi kedua pasang sepatu, tetap tangguh Ke mana pun dibawa pergi, hanya pasrah Seperti sepatu, kiri dan kanan melengkapi Seberapa jauh dibawa pergi tidak mengeluh Hendaknya iya, sepasang kekasih atau suami istri Hidup berdampingan penuh asah, ...