Pedandanan


Kamis malam (malam tadi) ke rumah adik sepupu, jagongan dengan para kerabat (kakak adiknya) dari Bandung, Jakarta, Ranau. Mempersiapkan prosesi ijab kabul Jumat pagi (tadi). Pulang pukul 22:30.

Dan, pagi tadi acara ijab kabul berjalan lancar. Lanjut ke acara adat yaitu sesikok, belimau, dan penetahan adok (penyematan gelar). Ijab kabul berlangsung di ruang berhias pedandanan khas Ranau. Sulan Balak.

Sebutannya sulan balak, tapi wujudnya tidak benar-benar balak seperti yang biasa dipajang pedandanan di pekon. Yang dipajang itu hanyalah berukuran mini, hanya replika menyimbolkan susunan sulan balak.

Kalau anak tuha (sulung) biasanya sulan 7 lapis, tapi kalau anak ngura (bungsu) sulan 5 lapis. Atau diatur menurut ketentuan adat yang diarahkan tetua adat setempat. 7 atau 5 lapis itu tidaklah mutlak begitu.

Setelah pagi hingga jelang Jumatan tadi semua prosesi dijalani berangkai, malam ini dilanjutkan acara nyambai. Tentu saja bukan bujang gadis yang nyambai, melainkan ibu-ibu IKBARA. Biasanya gitu.

Saya nggak datang, kecapaian. Orang seusia saya sudah nggak kuat kalau seharian hingga malam juga mau mengikuti "tarian" mereka yang masih muda. Salah gerak nanti malah gerah. Bisa berabe akhirnya.

Bagus juga, sih, acara nyambai walaupun di kota tak ada salahnya buat melestarikan budaya peninggalan leluhur. Karena yang sudah membudaya dilakukan adalah orgenan. Tidak di kota, tidak di desa. Asyoilah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Angin Laut Pantura

Rumah 60 Ribuan