Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Penikmat Subsidi

Gambar
Dahulu waktu BBM jenis Premium dibikin langka, saya membatin pasti akan dihilangkan. Benar kan? sebagai pengganti BBM bersubsidi, Pertamina mengeluarkan jenis Pertalite. Yang menikmati mayoritas wong sugih. Coba perhatikan di SPBU, berapa banyak mobil yang mengisi jenis BBM Pertamax? Bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan kendaraan (motor dan mobil) antre di Pertalite. Merekalah penikmat subsidi ‘garis depan’. Premium adalah jenis BBM dengan research octane number (RON) 89, Pertalite jenis BBM RON 90, Pertamax jenis BBM RON 92, dan Pertamax Plus jenis BBM RON 95 (yang dikembangkan menjadi Pertamax Turbo). Kami punya motor Supra Fit 2004, saat Jokowi naikkan harga BBM di masa jabatannya periode pertama, saya langsung beralih dari Premium ke Pertamax hingga sekarang. Saya pikir selisih harga tidak begitu banyak. Meski sudah kami jual, kepada si pembeli motor saya anjurkan untuk tetap menggunakan Pertamax. Karena motor sangat terawat, suaranya masih halus dan masih berani lho diajak ‘lari’...

Purnama Lagi

Gambar
Malam ini purnama kedua di bulan Agustus. Purnama pertama jatuh tanggal 1 atau hari pertama bendera merah putih berkibar di depan rumah. Besok hari terakhir bendera dikibarkan selama satu bulan penuh. Malam ini jelang penurunan bendera di hari terakhir besok. Waktu purnama pertama tanggal 1 di lorong jalan, baru di depan rumah kami bendera dikibarkan. Purnama kedua ini belum ada bendera yang dilepas. Dari depan rumah saya potret purnama di cakrawala, bendera yang merunduk takzim jadi saksi, purnama terlihat tersenyum kemayu. Cemerlang bak mata Dewa mengintai Dewi yang lagi mandi telanjang di sendang.   Bulan Kemayu Puisi  Zabidi Yakub Orang-orang yang merasa merdeka Antusias mengekspresikan kemerdekaan Hanya pada bulan Agustus bisa begitu Selebihnya terpasung dalam ketakutan Jangankan pekik merdeka, bersuara saja hati-hati Di pengujung Agustus, bulan kemerdekaan Selain bendera yang tertunduk takzim Hanya cahaya Bulan tampak merdeka Selebihnya terlihat dikung...

Jambu Depan Rumah [2]

Siang tadi, selepas zuhur tunai kehendak memapras dahan dan ranting pohon jambu depan rumah yang deru suaranya kala dihantam angin menimbulkan perasaan ngeri. Malam ini hening, angin pun seperti menjauh. Hanya seperti. Sesungguhnya angin malam tetap datang laksana perjaka mendatangi dara pujaannya di malam Minggu. Mengantarkan kehendak ingin berbincang, berpegangan tangan, berpelukan, berciuman mesra. Atau jika tiba-tiba bahan pembicaraan seperti habis, maka saling berdiam adalah keputusan paling tepat. Biarkan hati yang saling berbicara, membawa pikiran pergi mengembara sejauh-jauhnya. Sampai tak tepermanai. Begitupun angin yang datang mengendap-endap. Hendak menyampaikan rasa rindu pada dedaunan jambu, menidurinya di hamparan asbes, mencumbu mesra sampai desah keluar. Sayang, dedaunan jambu sudah kupapras tadi. Disaat menyiapkan bahan postingan ini, angin masuk menyelinap lewat ventilasi. Hanya rasa, tidak ada lagi suara bergesa-gesa menabuh daun agar menciptakan seperti drum...

Jambu Depan Rumah [1]

Gambar
Sebatang pohon jambu biji merah depan rumah sudah beberapa malam ini dicumbu angin. Suara ranting dan dedaunan bergesekan dengan atap asbes, timbulkan kengerian tersendiri. Timbul niat ingin memaprasnya. Begitu pagi tiba dan siang meninggi, niat memapras ikut menguap. Sayang rasanya, rimbun dedaunannya begitu besar faedahnya di musim kemarau ini. Bisa menabiri deraan terik, suasana lingkungan jadi sejuk. Tetapi, begitu malam tiba, timbul lagi berisik akibat gesekan daun dan ranting dengan asbes. Timbul lagi keinginan memaprasnya keesokan hari. Seperti malam ini, terpaan angin kencang sekali, berisik dan ngeri. Apa sebaiknya keinginan untuk memaprasnya, besok siang saya eksekusi saja, ya? Kalau iya besok siang jadi saya eksekusi, besok malam Angin Laut pasti merasa kehilangan apa yang setiap malam dicumbunya mesra. Rumah kami menghadap ke arah selatan, lebih banyak mendapat tiupan angin. Karena baik Angin Laut, Angin Tenggara (Muson Timur), Angin Barat Daya (Muson Barat) senanti...

Senam Lansia

Gambar
Tumpukan hadiah yang saya dan istri bawa pulang dari kegiatan lomba 17-an. Ada hadiah door prize dari sponsor Diabetasol untuk lomba joget seru-seruan. Pagi tadi, kali pertama saya berdua istri ikut senam lansia. Sejak jauh sebelum pandemi Covid-19, setiap lewat depan Klinik Angsa Putih, pertokoan Springhill, BKP, pada hari Minggu pagi ada orang sedang senam. Ketika wabah Covid-19 melanda, kan, nggak boleh ada kerumunan. Setop, deh , ibu-ibu dan sedikit ada bapak-bapaknya melakukan aktivitas senam. Sejak beberapa pekan lalu, saya lihat aktivitas senam kembali aktif. Istri saya didaftarkan hoping -nya. Lah , masak saya cuman mengantar doang ke lokasi. Apa gak sebaiknya sekalian ikut. Maka, pagi tadi berdua istri memulai ikut senam lansia. Saya baru mendaftar dan bayar donasi. Donasi gunanya untuk membeli hadiah lomba 17-an. Setelah senam pagi tadi, dilanjut lomba. Ada empat tangkai lomba, memindahkan sarung, makan kerupuk, joget balon, dan memindahkan kardus. Seru-seruan. Bah...

Anniv Dinner

Gambar
menu anniversary dinner telah terhidang Sangat jarang saya buat status di fesbuk. Merayakan 30 tahun pernikahan di bulan Juni lalu, saya buat status sebagai caption foto berdua istri. Wah, lumayan banyak yang kasih like , komen, ucapan dan doa. Alhamdulillah. Setelahnya, hoping istri minta ditraktir makan-makan. “Oke, nanti kapan-kapan, bilang dulu sama Pak Suami,” jawab si istri. Waktu berlalu, belum kami realisasikan sehingga ‘ditagih-tagih’ mulu . Nggak enak, jadinya, kan. Sampailah ceritanya saya jadi juara 1 lomba menulis esai. Postingan istri di IG menjadikan ‘tagihan’ traktir makan-makan seperti mendapat bonus. “Wah, bakal mendulang dua traktiran, nih,” komentar hoping istri. “Iya, yang mana dulu nih yang akan didulukan,” sahut hoping lainnya di video call -an. Istri saya ngakak. “ Nih , ngomong langsung sama orangnya,” kata istri sambil mengarahkan layar hape ke arah saya di sampingnya. “ Gak ada dulu-duluan, nanti dioplos saja,” sahut saya. “Waduh, Pak, kalau dio...

Tentang Suatu Ketaatan

Gambar
Ilustrasi, foto: Lektur.ID Setelah dua minggu diekspos, apa kabar varian baru Covid-19 Omicron EG.5.1 alias Eris?  Kok , tidak ada  update  perkembangannya. Seberapa banyak orang yang mengalami dan seperti apa cara penanganannya. Siang tadi saya mengantar istri ke RS Bumiwaras, Bandar Lampung, untuk  kontrol . Tangan kanannya bermasalah. Tidak lagi leluasa untuk digerakkan. Kata dokter syaraf, ada pengapuran antara tulang dan otot. Obat yang diberikan dokter telah habis, pengin kontrol. Kata dokter kala itu, jika obat habis tetapi belum ada perubahan, maka akan disuntik. Tadi, pikir istri sudah langsung akan disuntik, ternyata dikasih obat lanjutan. Jatah obat untuk satu minggu ke depan. Sudah dikasih resep obat suntik, tetapi belum ditebus di apotek. Kata dokter, coba dulu obat ini. Jika masih belum sembuh, maka suntik sebagai alternatif terakhir, dieksekusikan. Saya lihat pegawai-pegawai RS yang melayani pasien dan terutama dokter di ruang praktik serta pener...

Pergi ke Bulan

Gambar
Pergi ke Bulan            Cherrybelle Siapakah mau ikut Ayo berangkat pergi denganku Di hari libur sekarang Pergi jauh (menuju bulan) Jangan lupa banyak-banyak membawa bekal Agar tidak kelaparan di jalanan Ayo kawan kita berangkat Naik delman atau onta Kita rame-rame pergi ke bulan Jangan lupa banyak-banyak membawa bekal Agar tidak kelaparan di jalanan Lagu  “ Pergi ke Bulan ”  yang dinyanyikan Cherrybelle di atas begitu enak didengar. Suara gadis-gadis cantik ayu kemayu kompak menyanyikannya merdu tertangkap telinga. Rasanya seperti benar mengawang ke bulan. Sebelum booming lagi ketika dinyanyikan Cherrybelle , lagu  “ Pergi ke Bulan ”  sudah tidak asing di telinga para generasi baheula ( old generation ) karena lagu itu dulu dinyanyikan Tetty Kadi, entah tahun berapa. Lupa. Begitulah, kita hanya baru bisa menikmati lagu saja, sementara India sudah berhasil mendaratkan wahana luar angkasanya ke bulan. Hebatnya, Chandr...

Tentang Bantaran Kali

Gambar
Suasana permukiman padat penduduk di kawasan bantaran Kali Ciliwung, Jakarta, Rabu (16/11/2022). (foto: liputan6.com/Faizal Fanani) Penjabat Gubernur DKI Heru Budi bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto, Pangdam Jaya Mayjen TNI Mohamad Hasan, Kajati Jakarta Dr. Reda Manthovani dan unsur terkait melakukan penanaman pohon. Sebanyak 125 bibit pohon ditanam di bantaran kali Mookevart depan Kapolres Kalideres, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.  Apa tujuannya? Mengatasi polusi udara yang membuat wajah Jakarta terlihat suram. Polusi udara mengepung Jakarta siang malam. K alau hari ini baru menanam pohon, lantas kapan fungsi mengatasi polusi udara itu akan terasa manfaatnya. Begitu pertanyaannya, kan? Nah, iya, juga. Kapan? Kenapa nggak dari dulu-dulu orang-orang yang ada di Polres Kalideres itu giat menanami pohon di bantaran kali depan markas mereka? Kasarnya depan hidung mereka. Harus seremonial baru ada gerakan, begitu? Nggak sedapnya pemandangan kali, nggak cantiknya ‘wajah’ kal...

Tentang Sebuah Aktivitas

Gambar
Mulai kemarin, terhadap ASN di Jakarta diberlakukan kebijakan WFH. Terutama di lingkup Pemprov DKI dan pemkot pendukungnya. Alasannya, guna mengurangi polusi udara. Padahal, polusi berasal dari asap PLTU. Ditengarai ada 16 PLTU mengepung Jakarta. 10 PLTU di Banten dan 6 PLTU di Jawa Barat. Terbayangkan, pada saat beban puncak pemakaian listrik dari sore hingga pagi, PLTU bekerja keras mengirim energi untuk PLN. Siasat mengurangi polusi udara, Opung Luhut melalui Penjabat Gubernur DKI, ‘mewajibkan’ pejabat pemprov mulai eselon IV ke atas agar menggunakan mobil dinas berbasis kendaraan listrik. Solusi jitukah? Belum tentu. Instruksi tersebut berdasarkan hasil rapat Budi Heru dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, Jumat, 18 Agustus 2023. Opung sudah bertitah, siapa berani membantah. Bah , terang, kali , penglihatannya,  Lae.  Siasat mantap membidik  cuan . Dahulu, waktu Covid-19 bisnis vaksin dan tes swab pcr . Kini, yang tampak...

Tentang Sebuah Musim

Gambar
Ilustrasi kekeringan (foto: Honda Power Products Indonesia) Gejala Insomnia Puisi Zabidi Yakub Mengaduhlah sampai jauh, ke langit ketujuh Aduhkan keluh, langitkan doa, aduh... aduh... Aamiin Musim berganti tanpa diberitahu peramal cuaca Kemarau terlampau cepat tiba, menjebak semua Kita terima meski tidak menyiapkan apa-apa Hanya punya gejala insomnia, makanya mampu tetap terjaga Peramal cuaca memang begitu, suka bercanda Tandon kosong, lupa diisi saat hujan berlimpah Kita tidak siap, kita semua alpa, sejatinya Kekeringan melanda, keluh kesah membahana Tuhan kita panggil-panggil Nama-Nya, kita cari-cari Alamat-Nya Dalam lirih doa, dalam aduh berpiuh, berpusar ke mana-mana Padahal, Dia begitu dekat, ada di antara azan dan ikamah Para pencari hujan, mendambakan bertemu Tuhan Dahaga terasa oleh apa dan siapa di mana Flora, fauna, primata, dan manusia tentu saja Tak apa-apa. Biar dahaga jiwa, hati tetap terbasuh doa Jaga baik-baik gejala insomnia, biar bisa melangitkan doa Dalam...

Berpikir Merdeka, Merdeka Berpikir

Gambar
Siang tadi telah diparipurnakan hajat memperingati 78 tahun kemerdekaan RI di RT kami. Mulai dengan pembagian hadiah lomba yang pesertanya anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak. Joget balon, dll. Kemarin hingga malam, panggung tempat acara dihias, nuansa merah putih mendominasi. Karpet pun merah, balon merah putih. Pot-pot kembang dijejerkan, pemantik rasa “manis” pemandangan.  Tadi , dress code ibu-ibu dan bapak-bapak juga merah putih atau sebaliknya. Kacamata hitam jadi asesoris buat penambah percaya diri saat bersenandung dan berjoget. Biarpun lagu yang itu-itu saja juga tak apa. Yang penting orgen tunggal pengiring paham nada dan melodi agar selaras. Yang penting adalah acara, jangan aja nggak . Jangan bendera dan umbul-umbul doang dipasang, tanpa ada perayaan apa-apa, kan? Suara fals juga tak apa, yang penting manggung. Namanya “suara merdeka, merdeka bersuara.” Jika pengin yang bagus, ya, mesti nanggap biduan yang semlehoy , tapi siapkan saweran segepok, sanggup? Usia rep...

Mal Kartini

Gambar
Moka (Mal Kartini), foto: Lampung - iNews.ID Siang tadi usai zuhur, saya dan istri ke Pasar Tengah, sesampai di depan toko emas Jakarta ketika hendak memarkirkan motor, saya sedikit ragu. Akhirnya saya dorong motor ke area yang khusus tempat parkir. Istri menyusul untuk menaruh helm di motor, tiba-tiba didatangi seorang ibu dan bertanya, “Bu, mau jual emas, ya?”  “ Nggak, ”  jawab istri saya. Lalu, kami berdua masuk ke toko emas Jakarta, membeli emas Antam. Selesai, bingung mau ke mana. Istri berseloroh hendak mencari kaus merah buat senam. “Kita ke Moka (Mal Kartini),” kata saya. Pikir saya ke Center Point di lantai 2 mal yang dahulu pernah kemasukan air luapan got. Di jalan Kartini dahulu, apabila hujan turun lumayan deras, air dari got akan melimpah keluar. Jadilah jalan di depan Central Plaza (eks Plaza Tanjungkarang atau Artomoro) itu digenangi air hujan, menyerupa sungai. Dari depan Artomoro air mengalir ke bawah sampai depan Moka. Saking dahsyat luapan air dari go...

Keberagaman

Gambar
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Pepadun dari Lampung (foto: CNN Indonesia) Dari tahun ke tahun, peringatan HUT Kemerdekaan RI makin hikmat dan meriah. Makin memperlihatkan kepada ‘dunia’ bahwa keberagaman bisa dipersatukan. Di situlah kekuatan Indonesia. Beragam, tapi bersatu. Amat sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara Indonesia yaitu Burung Garuda. Bhinneka Tunggal Ika mempunyai nilai filosofis untuk menyatukan bangsa lndonesia agar tidak tercerai berai. Sejak tahun 2017 Presiden Jokowi mulai pakai baju daerah saat upacara peringatan HUT kemerdekaan RI. Hingga tahun 2023. Diikuti menteri dan pejabat tinggi negara lainnya. Bersama dalam keberagaman. Pada 2017, Jokowi mengenakan baju adat khas Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Tahun 2018, baju adat khas Aceh. Tahun 2019, baju adat khas Klungkung, Bali. Tahun 2020, baju adat Timor Tengah Selatan, NTT. Tahun 2021, Jokowi baju adat khas Pepadun, Lampung. Tahun 2022, baju adat khas Kesultanan Buton...

Warna Jiwa

Gambar
Ilustrasi foto milik tvonenews.com “Saya tahu ada yang mengatakan saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tau apa-apa, fir’aun, tolol. Ya ndak apa-apa, sebagai pribadi saya menerima saja.” Demikian “curhat” Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan yang dibacakannya di sidang tahunan DPR/MPR/DPD, Rabu (16/8/2023). Di sisi lain Jokowi merasa sedih karena budaya saling menghormati mulai pudar. “Tapi yang membuat saya sedih, budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa ini kok kelihatannya mulai hilang,” ujarnya. Menurut dia kebebasan di negeri ini kini disalahgunakan untuk menyampaikan ujaran kebencian. Jokowi juga menyinggung istilah “Pak Lurah” yang santer didengungkan sejumlah politikus terkait siapa capres-cawapresnya? “Belum ada arahan Pak Lurah.” Jokowi sempat mikir siapa sosok “Pak Lurah” yang dimaksud. Belakangan ia mengetahui siapa sosok “Pak Lurah” yang dimaksud, ternyata dirinya.   “Saya bukan Pak Lurah, saya Presiden Republik Indonesia,” tegas Jokowi. “Curhatan” Jokowi di ...