Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

One Day One Juz

Gambar
Ilustrasi ODOJ, image source: Bukukita.com Sya’ban telah sampai stasiun tujuan, selanjutnya pintu Ramadan dibuka. Orang-orang yang beriman dipersilakan masuk ke dalam gerbong siyam berangkat menuju tangga makrifat paling tinggi, derajat takwa sebagai buah manis ritual puasa yang diwajibkan pada orang beriman. Aroma Ramadan kian mewangi. Oke, kita sepakati kalau memang begitu narasinya. Tapi, saya lebih suka menyebutnya “Gema Ramadan” karena pada hari-hari sepanjang bulan Ramadan sejak subuh hingga subuh lagi, lantunan ayat-ayat Alquran menggema di mana-mana. Tidak harus di masjid, di rumah-rumah tangga dengan berbagai status dan strata sosial, ada saja bibir-bibir yang kering karena menhana haus dan lapar, dibasahi dengan lantunan ayat suci. Ada yang sekadar baca, ada yang memang pakai target  one day one juz , satu bulan khatam. Saya pribadi, seperti yang sudah-sudah, satu bula Ramadan mampu khatam Alquran satu setengah kali. Artinya, pertengahan atau dua per tiga Ramadan khatam k...

Ramadan dan AI

Gambar
Celerates.id melalui kanal IG mereka mengajak ngabuburIT RamAI Ramadan with AI Aroma Ramadan kian mewangi. Teman-teman di grup sastra pada menarasikan 'aroma' berkait akan tibanya bulan puasa tahun 1446 hijriah ini. Saya kok lebih tertarik menarasikan 'gema' ketimbang 'aroma' karena di bulan Ramadan bukankah semarak dengan gema zikir, tadarus Alquran, dan dentum meriam bambu. Pada masa kanak-kanak saya, bermain meriam bambu di bulan Ramadan adalah salah satu cara mengisii waktu agar rasa lapar bisa 'dikibuli' dan tahan berpuasa hingga magrib tiba, saatnya berbuka. Apakah saat ini meriam bambu masih dipermainkan anak-anak di kampung? Entahlah. Yang pasti bermain hape lebih disukai. Ramadan di era kecerdasan buatan atau AI ( artificial intellegencia ), beragam cara bisa dilakukan. Menulis puisi misalnya, sudah banyak teman-teman yang memberdayakan AI. Lah, saya kok lebih memilih tetap setia menggunakan kemampuan otak kanan menjemput ide, mencari metafora ...

Ruwahan, Akar Budaya

Gambar
Ilustrasi, ruwahan di masjid (Pemprov Kepulauan Bangka Belitung)  Setelah tujuh malam berturut-turut tahlilan –(tadi malam nujuh-hari ), berakhir sudah ritual takziah dalam konteks tetangga menghibur sahibul musibah dan sahibul musibah bersedekah dengan menyiapkan suguhan air mineral dan kue jajana pasar dalam kotak kue. Senin malam karena hujan tak bersahabat, saya dan istri tidak berangkat. Alasan lain di samping hujan, saya ada undangan di rumah ketua takmir masjid. Beliau sekeluarga mengirim doa kepada almarhum/mah orang tua sekalian ruwahan menyambut puasa. Ruwahan, sebuah tradisi yang mengakar dalam kehidupan warga perdesaan. Di kota bersalin wajah menjadi doa bersama di masjid dengan membawa nasi kotak atau besek. Di masjid kami, ada semacam ‘kewajiban’ tiap rumah membawa dua nasi kotak atau besek. Setelah doa bersama ‘diaminkan’ nasi kotak atau besek dibagikan kepada jemaah yang hadir. Terjadi pertukaran saling silang nasi kotak atau besek yang dibawa tadi. Ada yang ...

Salip Menyalip

Gambar
Ilustrasi ketidaktertiban berhenti di lampu merah. (liputan6.com,) Hanya bisa membatin, kalau urusan ngebadog , orang salip menyalip. Coba kalau disuruh kerja atau dimintai tolong, semua kayak berpangku tangan. Yang enak-enak, rela dikejar hingga ke lubang semut sekalipun. Yang bikin soro , huh... siapa peduli. Ditunjukkan karakter seseorang. Orang akan panik manakala berita kelangkaan gas tiga kilogram sampai ke telinga mereka. Tahan meninggalkan pekerjaan demi antre gas melon. Kerumunan manusia kalap seketika itu membentuk barisan tanpa perlu dikomando dan diminta, saling salip. Lagi-lagi, karakter. Urusan ngebadog dan gas langka, fenomena yang amat mudah mengarahkan kerumunan manusia membentuk barisan antre tidak perlu dikomando. Sepertinya takut sekali kalau tidak kebagian. Karena itulah, ketika diminta tertib susah sekali untuk menaatinya karena kalap. Di jalan raya pun saling salip, lampu merah diterobos atau berhenti di paling depan, zebra cross yang semestinya hak para pejala...

Ngalah Ngalih Ngomong Ngobong

Gambar
ilustrasi, image source: YouTube Studi Filsafat Ngalah adalah ekspresi rakyat yang hanya bisa diam mengalah karena dipinggirkan, digusur, dipersekusi bahkan ‘dirampas’  lahan seperti kasus pagar laut di Tangerang dan Bekasi bahkan sepanjang pesisir laut Indonesia dari Sabang sampai Merauke, kabarnya dipagar. Ngalih (berpindah = bahasa Jawa) adalah ekspresi rakyat yang hanya mampu menyingkir, pindah mencari ruang tenang yang lebih menjanjikan. Lari dari hiruk pikuk yang bikin pusing dan stres sebagai jalan keluar lebih solutif ketimbang ngalah. Ngomong (berbicara) adalah cara paling masuk akal untuk menyuarakan perasaan. Jika perasaan itu senang, maka suara yang terdengar positif. Jika perasaan tertekan yang ada, maka suara yang keluar negatif bahkan memancing rasa sedih orang yang mendengar. Jika menahan diri (ngalah), menyingkir pindah ke tempat yang lebih bersahabat (ngalih), dan menyuarakan protes (ngomong) masih tidak ada perhatian dari penguasa, maka ngobong (mengamu...

“Bayar Polisi”

Gambar
  Duo pemusik Sukatani. (foto: Tempo.co) “No viral, no justice” itu bukan tanpa alasan digaungkan netizen di aneka platform media sosial karena dampak setelah viral itu yang dicari. Apa pun persoalan hukum di negeri konoha yang bersangkut paut dengan institusi kepolisian, selalu melahirkan perasaan “lelah.” Lagu “bayar, bayar, bayar” melambungkan nama grup musik punk Sukatani adalah potret perasaan “lelah” tersebut. Betapa “meleahkan” jika berurusan dengan polisi harus “bayar.” Bukan seberapa besar bayaran itu, melainkan seberapa tercorengnya wajah polisi di konoha. Seberapa tercoreng? Tiap individu yang pernah berurusan denga polisi punya jawaban masing-masing. Pun, oknum polisi yang suka “minta bayaran” punya tingkatan karakter masing-masing. Tapi, perlu digarisbawahi bahwa tidak semua polisi konoha buruk. Saya punya pengalaman menyenangkan ketika hendak bayar pajak motor di Samsat. Saat itu cek fisik motor dilakuka anak saya sendiri di Solo.  https://senangkalan.blo...

Tarup Bocor

Gambar
Rasanya masih gemetar badan. Terpaksa menerabas hujan deras pulang tahlilan tadi malam. Bapak-bapak yang di bawah tarup bubar kocar kacir karena tarup bocor. Bagai air di tempayan ditumpahkan, begitu perumpamaan hujan tadi malam, saking derasnya. Di mana kira-kira daerah yang dikepung banjir? Belum ada kabar. Samsu --sampai subuh. Ya, hujan deras tadi malam memang sempat reda tipis-tipis, tidak benar-benar berhenti total, tapi tetap turun kitis-kitis atau ricih-ricih sampai subuh. Ketika dibangunkan alarm dan saat keluar rumah hendak ke masjid, hujan ricih-ricih itu menyuruh siapa pun yang hendak ke masjid, pakai payung.  Genangan air di jalan depan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, tadi malam (prioritastv.com) Rasanya mustahil tak ada banjir. Sebagaimana kegalibannya, kota Tapis Berseri akan dilanda banjir di beberapa titik wilayah yang rawan banjir tatkala hujan deras melanda. Hujan seperti tadi malam yang super deras atau setipe dengan itu, tentulah akan memicu terjadinya b...

Cinta Ibu, Sayangi Bahasa Ibu

Gambar
  ilustrasi siluet Kepulauan Nusantara yang dibentuk dari ragam kata 'apa kabar' menurut bahasa ibu daerah masing-masing dari Sabang sampai Merauke. (sumber gambar: sukabumiupdate.com) Pada 21 Februari 1952, sekelompok mahasiswa di Dhaka turun ke jalan untuk memprotes keputusan pemerintah Pakistan yang ingin menjadikan bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa resmi negara. Padahal, mayoritas penduduk Pakistan Timur dan Pakistan Barat menggunakan bahasa Bengali. Aksi sekelompok mahasiswa pada mulanya berjalan tertib, tapi berubah menjadi chao s ketika aparat keamanan memuntahkan peluru, lima orang demonstran tewas dan ratusan orang luka-luka. Peristiwa gugurnya lima mahasiswa di Pakistan itu kemudian jadi tonggak sejarah Hari Bahasa Ibu. Mahasiswa di Pakistan rela unjuk rasa memperotes pemerintah karena mereka menilai bahasa adalah identitas yang patut dijaga keletariannya. Peristiwa berdarah di Pakistan tersebut mendorong UNESCO menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu...

Diam-diam Bersemayam

Gambar
Kembali lagi ke pemakaman ini Lebih 40 hari kuhitung dari tetangga belakang rumah meninggal, deretan makam sebaris dengannya, bapak yang tadi malam berangkat, menempati liang lahad ke-12. Menegaskan bahwa kematian begitu dekat begitu cepat. Deretan makam akhirnya cepat bertambah, lahan pemakaman kian susut, kaveling kian tereduksi. Kembali lagi ke TPU BKP mengantar orang tua kolega istri yang tadi malam berpulang. Dari wafat satu ke wafat lainnya, perputaran arloji dan langkah kaki beriringan. Takziah di rumah sahibul musibah adalah salah satu medium bertemu dan mengobrol dengan jiran tetangga. Medium lainnya gedung serba guna saat menghadiri undangan. Selain tentu saja masjid saat salat berjamaah. Saat bertemu dan mengobrol terapung banyak cerita. Ada keluh kesah tentang penyakit yang diderita. Jarang masalah sukacita. Begitulah, saat bahagia dengan kejadian menyenangkan, belum terasa kalau di dalam tubuh ada tamu diam-diam bersemayam membersamai hari-hari berlalu.

Guyub Rukun Tetangga

Gambar
Suasana di depan rumah duka Sepenggal kabar duka lewat WA diterima istri, bakda Isya, bunyinya, "Bapak udah nggak ada". Antara yakin dan ragu, istri menelepon temannya. Si teman ternyata belum tau karena memang belum dikirimi pesan yang sama oleh teman mereka yang kehilangan bapak. Saya langsung menelepon teman yang rumahnya di Blok tersebut. Saya tanya apa ada yang meninggal di sana? "Iya memang benar, bapak fulan, katanya menyebut nama almarhum. Bapak dari guru di SMP 28, cewek," katanya menambahkan. Oh, berarti benar. Kami berdua istri siap-siap untuk ke rumah sahibul musibah, teman istri yang kehilangan bapak. Istri duluan berangkat disamperin temannya yang tadi diteleponnya. Saya menyusul kemudian. Kami mempersiapkan menyambut jenazah dar RS. Tidak sampai setengah jam kami di rumah duka, raung ambulan mendekat dan berhenti di depan rumah. Jenazah diturunkan dan disemayamkan di ruang tamu. Warga se-rukun tetangga menyiapkan tarup yang kebetulan terpasang di deka...

Para Pensiunan

Gambar
Seorang yang ikut 'temu kangen' unjuk kebolehan menembangkan lagu kesayangan. Sinetron “Preman Pensiun” pernah dengar? Pernah nonton? Tapi, yang ini “Para Pensiunan.” Ya, pensiunan guru kolega istri. Beberapa orang membentuk komunitas arisan. Setiap sebulan sekali mereka berkumpul, makan-makan, mengobrol, kangen-kangenan dan mengumpulkan uang tabungan. Efeknya membuat hormon kebahagiaan meningkat. Banyak cara untuk bahagia sendiri. Tapi, bisa berbagi kebahagiaan terhadap orang lain justru di situ letak kebahagiaan hakiki. Arisan atau piknik bareng , itu medium yang tepat. Pindang Paw's Tidak sedikit orang yang purna-tugas langsung “disambut” penderitaan stroke. Paling banyak menyerang orang yang terbiasa menduduki kursi jabatan yang empuk dan nyaman. Post power sindrome sebagai pemicu. Tidak mudah bagi orang yang biasa dengan rutinitas kerja dan berinteraksi dengan teman kantor, tetiba pensiun dan harus ndekem di rumah. Di rumah hanya duduk nonton TV membuat kurang...

Modus PHK

Gambar
ilustrasi 'demi efisiensi' Dampak pandemi Covid-19 (2020--2022) yang membuat UMKM rontok, menyisakan histeria psikologis di tataran masyarakat marginal yang mengais rezeki dengan mengasong. Sementara di sektor industri besar, dengan terpaksa, juga merumahkan karyawan, memunculkan pengangguran. Pengangguran intelektual dari kalangan fresh graduate , tak terbilang bejibun. Satu periode wisuda jika 300—600 orang dan dikalikan dengan ratusan perguruan tinggi, betapa membeludaknya angkatan kerja yang berkompetisi. Kompetensi masing-masing yang akan menentukan. Siapa di antara ribuan pencari kerja yang akan jadi pemenang terpulang pada kemampuan individu masing-masing. Sementara peluang kerja yang tersedia semakin merosot jumlajnya. Industri raksasa sekelas Microsoft dan Meta saja mengurangi karyawan, apalagi industri menengah. Modus PHK yang Meta lakukan adalah dengan alasan kinerja. Karyawan yang dinyatakan punya ‘kinerja buruk’ mau tidak-mau harus menerima kenyataan pahit, ‘...

“Kuburan Prahistoris?”

Gambar
  “Tempat pembuangan sampah bagi orang hidup, suaka perlindungan bagi harta orang mati. Perpustakaan.” “Di masa depan, perpustakaan tak ubahnya pekuburan prahistoris. Di sanalah kita bertemu dengan seorang gadis, dan sebelas buku yang menceritakan sejarah dengan cara masing-masing. Cerita dalam buku-buku itu sering terasa ganjil, kadang terasa begitu asing, kadang pula sebaliknya: terasa dekat, seperti kita tahu tentang apa sebetulnya cerita-cerita itu. Setiap buku menyajikan cerita yang sepenuhnya berlainan dari buku lain, tetapi kita—sebagaimana gadis itu—tahu bahwa ada satu hal yang menghubungkan sebelas buku itu. Selanjutnya, kita diajak tenggelam dalam dunia di luar buku yang tak kalah ganjil, asing, dan dekat.” ..... Begitulah yang tertulis di sampul belakang buku “Tiga Dalam Kayu”, sebuah novel untuk usia 18+ karya Ziggy Zezsyazeovennazabrizkie yang sekilas saya baca di Gramedia, Kamis (13/2/2024). Penulis asal Lampung ini telah menulis lebih 30 judul buku. Salah satun...

Problema Bermata Empat

Gambar
  Lembiru, lempar beli baru Bangun tidur Kamis siang, saat akan memakai kacamata, tetiba lensanya jatuh sebelah. Ternyata gagang ( frame ) kacamata patah. Tak terbayang bila terjadi ketika sedang berkendara di jalan dan lensanya jatuh ke aspal. Beruntung saat kejadian pas di rumah. Beruntung pula kacamata lama masih bisa dipakai sementara sebelum ke optik ganti kacamata baru. Kacamata adalah alat vital bagi orang yang sudah rabun apalagi berusia senja seperti saya, di samping alat vital yang satu itu. Mata minus atau disebut rabun senja harus dibantu dengan kacamata minus agar penglihatan bisa seperti mata normal pada umunya. Bagi orang yang di samping minus ada pula plus, dibutuhkan kacamata berlensa dobel (plus-minus). Lensa (glass) kacamata lama saya jenis Biometric Progressive Lenses dari Rodenstock. Lensa khusus yang minus dan plus tidak kelihatan batasnya sehingga sekilas seperti kacamata minus saja. Sementara gagangnya (frame) dari besi. Sedangkan kacamata yang patah, ba...

Book Thrifting

Gambar
  Kios Buku Terban di Jalan Terban, Jogja, kondisinya sepi pengunjung. (foto arlianbuana.blogspot.com) Di Jogja ada shopping center, pusat buku bekas dan buku bajakan. Itu dahulu, zaman saya SMA dan kuliah tahun ‘80an. Sekarang sohor dengan sebutan Taman Pintar. Buku bekas dan bajakan yang lebih populer disebutnya buku loakan, pindah ke bagian sebelah dalamnya. Dahulu lagi, di sana juga pernah jadi terminal bus AKAP sebelum pindah ke Umbulharjo dan berakhir di Giwangan sekarang ini. Berburu buku bekas atau buku loak menurut bahasa english -nya book thrifting . Bagi orang yang hobi baca sekaligus kolektor buku, niscaya akan rajin melakukan book thrifting . Haus bacaan tidak jauh beda dengan dahaga terhadap air minum. Memenuhinya tentu akan menjadi obat satu-satunya. Haus bacaan, ya, melakukan  book thrifting . Begitu juga dahaga terhadap air, ya, minumlah sepuasnya. Book thrifting tidak hanya akan mendapatkan buku bekas ( preloved ), tapi juga mendapatkan harga yang murah....

Literasi dan Rekreasi

Gambar
Toko buku Makarya, lantai satu Gramedia Matraman, Jakarta Timur. (foto: Tia Agnes/detikcom) Di postingan blog kemarin, saya singgung perihal ‘kafe buku’, yaitu kafe yang nyambi jualan buku atau sebaliknya toko buku yang nyambi buka kafe. Kolaborasi dua hal yang disenangi anak muda, baca buku sembari ngopi atau sebaliknya ngopi sambil baca buku. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Malang, dan Surabaya sangat banyak ‘kafe buku’ tempat nongki yang asyik. Di Perum Bukit Kemiling Permai ada ‘pustaka kopi’ yang sayangnya sudah tidak aktif lagi. Entah mengapa kok belakangan ini saya lihat suwung . Padahal, sebelum-sebelumnya sempat ramai pengunjung yang kongkow , walaupun saya perhatikan saat lewat, tidak ada aktivitas baca buku yang mereka lakukan. Hampir semua tenggelam pada gawai masing-masing, main game, chatting atau sekadar  browsing . Di lantai 1 toko buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur, sejak 11 Januari lalu dibuka toko buku mini Makarya yang di...

Perhelatan Puitis

Gambar
    Dua buku Kang Maman dan buku "Menempuh Perjalanan Terjauh"-nya Mamang Muhamad Haerudin dipilih istri dari bazar buku Gramedia di Mal Kartini, Senin (10/2). Lima eksemplar buku masing-masing berjudul “Kitab Opini Maspril Aries –Untuk Literasi dan Jurnalisme”, “Hahiwang –Koleksi Mamak Lawok”, “Ranglaya Mulang –Sang Himpun Sajak”, “Lehot Meranai Sai jama Kundang ni –Sang Himpun Sajak”, dan “Minan Lela Sebambangan –Selusin Cerita Buntak” kemarin saya angkut dari penerbit Pusta LaBRAK. Seperti sudah saya singgung di postingan blog kemarin, buku “Minan Lela Sebambangan” karya Udo Z Karzi yang berisi selusin cerita buntak, diganjar Hadiah Sastera Rancagé dari Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan budayawan Ajip Rosjidi. Ini untuk kali ketiga Z Karzi meraih penghargaan khusus untuk karya sastra berbahasa daerah tersebut. Ragah Liwa paruh baya itu memang bisa dikatakan sedikit dari sastrawan, penulis, budayawan bertutur bahasa Lampung yang mau menempuh ‘jalan sunyi’ (sepe...

Buku-buku yang Asyoi

Gambar
Buku-buku yang asyoi buat teman ngopi baru saja saya angkut dari penerbit pustaka LaBRAK. Siang ini saya menjemput buku-buku yang saya pesan. Kembali bertamu dan mengobrol receh di “Lepau Buku” Udo Z Karzi, Kemiling Estate. Tahun ini belio kembali diganjar Hadiah Sastera Rancagé dari Yayasan Kebudayaan Rancagé milik budayawan Ajip Rosjidi di Bandung, Jawa Barat. Hadiah Sastera Rancagé untuk bukunya “Minan Lela Sebambangan” –kumpulan cerita buntak (pendek) kategori sastra Lampung. Itu adalah hadiah untuk kali ketiga yang ia peroleh dari yang kali pertama pada tahun 2008 untuk buku sanghimpun sajak “Mak Dawah Mak Dibingi”. Kedua, 2017 untuk Novel “Negarabatin”. Mengikutkan buku sastra bahasa Lampung pada anugerah yang diberikan Yayasan Rancagé tidaklah mudah mengingat sedikit sekali sastrawan/penulis/budayawan (bertutur bahasa Lampung) yang mampu melakukannya penuh kesadaran. Kemarin secara sengaja saya ditemani istri mencari buku di pekan bazar buku yang ditaja Gramedia di lant...

Kenangan Berharga

Gambar
  Porwanas XIV Kalimantan Selatan 2024 menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM. Tampak orang berburu suvenir di gerai pedagang. (foto: hallobanua.com) Ada dua even yang selalu dihadiri wartawan. Pertama, Pekan Olahraga Nasional (PON) dan kedua, Hari Per Nasional (HPN). Di luar itu memang ada even yang sifatnya peliputan semata. Ada juga pekan olahraga tingkat nasional yang dikhususkan bagi wartawan, namanya pekan olahraga wartawan nasional (Porwanas), diikuti oleh wartwan sesuai cabang olahraga yang mereka kuasai. Pada even PON maupun HPN, teman wartawan yang diutus kantor, ketika kembali akan membawakan sedikit oleh-oleh untuk kita-kita di kantor. Yang lebih sering saya terima berupa kaos bertuliskan PON atau HPN dan kota tempat diselenggarakan berikut logo tema dari kedua kegiatan tersebut. Tentu saja kita-kita yang diberi oleh-oleh sangat bersukacita menerima pemberian itu. Saya masih merawat kaos dari HPN di Maluku tahun 2017 dan Sumatra Barat bergambar rumah gadang...

Lagi, Ketemu HPN

Gambar
  Logo HPN 2025, image source: Media Formasi Sampai lagi di tanggal ini, 9 Februari. Insan pers kembali memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2025. HPN adalah momen penting bagi insan pers di seluruh Indonesia karena merayakan HUT ke-79 Persatuan Wartawan Indonesia. PWI adalah wadah yang menaungi insan pers dalam menjalankan profesi mereka sebagai pencari dan penyampai berita. Dahulu, PWI adalah wadah tunggal para pewarta sejak didirikan pada 9 Februari 1946 di Surakarta. Namun, seiring perkembangan zaman, muncul 27 organisasi wartawan dan mereka hadir dalam sidang pleno III lokakarya V pada 24 Maret 2006 di Jakarta menghasilkan surat keputusan Dewan Pers No.04/SK-DP/111/2006 tentang standar organisasi wartawan. Berdasar standar yang ditetapkan dalam sidang pleno, organisasi wartawan harus memiliki anggota 500 wartawan dari seluruh cabang yang dibuktikan dengan kartu pers atau tanda anggota. Dari 27 organisasi hanya 3 organisasi yang ada kala itu, yaitu Aliansi Jurnalis Indepen...

Kebiasaan yang Hilang

Gambar
  Photo Freepik by @azerbaijan_stockers Menanamkan kebiasaan membaca kepada anak di era serba digital ini bukan pekerjaan mudah. Di mana saja, sembarang tempat, begitu mudah menemukan anak, sembarang usia, tenggelam dalam asyiknya bermain gawai. Mata mereka fokus pada layar gawai. Apa yang mereka kerjakan atau perhatikan? Kalau bukan main gim tentu film menikmati kartun atau platform media digital seperti TikTok. Tumbuh dewasa dengan kebiasaan membaca, sejatinya penting bagi anak. Bukan perihal kemampuan mengeja huruf atau memahami kata, melainkan perihal bagaimana anak mengolah diri, hati, dan pikirannya. Membaca lebih dari sekadar aktivitas, membaca adalah percakapan diam-diam dengan pikiran manusia dari masa ke masa. Yaitu manusia yang melahirkan bahan bacaan; buku, dll. Membaca adalah salah satu cara terbaik untuk melatih kesabaran, memahami dunia luas, dan menjelajah imajinasi yang tak terbatas. Tentu saja, di era serba digital ini, ada banyak cara belajar. Ada platform Yo...

“Enggak Bisa Nulis”

Gambar
Ilustrasi, image source: Mithaza Journal Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro meminta Universitas Indonesi (UI) untuk fokus mengajarkan mahasiswa menulis, membaca, dan cara bersikap ( attitude ). Hal ini, menurut Satryo, perlu diajarkan karena lulusan S1 di Indonesia masih lemah dalam hal membaca dan menulis panjang, serta memiliki kebiasaan kerja yang baik. “Pak Rektor tadi very good Pak untuk masa depan, tapi in the meantime tolong di tiap-tiap kelas, bapak ibu dosen atau guru besar yang memang pegang kelas, pastikan lagi mereka (mahasiswa) bisa baca, bisa nulis (panjang), attitude -nya (baik), kerja bagus, teamwork , (bisa) komunikasi agar bisa memiliki daya saing,” kata Satryo dalam acara Dies Natalis UI ke-75, Senin (3/2/2025). Satryo mengungkap bahwa lulusan S1 Indonesia memiliki kekuraangan bukan tanpa alasan, tetapi berdasarkan hasil survei yang ia lakukan di tahun 2015. Dalam survei itu, Satryo mewawancarai bany...