Dimakamkan di Teras

Panas terik menyiram ubun-ubun pengusung keranda jenazah dan pengiring di belakangnya. Melewati gang kecil yang menurun tidak terlalu curam. Pikir saya, mau dibawa ke mana ini. Saya toleh kiri kanan, tapi tidak melihat ada gundukan makam lainnya.

Banduso berlabuh di teras rumah kecil di belakang rumah mereka di ketinggian tebing. Di teras rumah sudah siap liang lahad tempat jasadnya dibaringkan. Lubang galian makam tidak terlampau dalam bahkan terbilang cetek. Tidak seperti liang lahad umumnya.

Saya membatin, barangkali rumah kecil itu memang sudah miliknya sehingga sah saja ia dimakamkan di terasnya. Saya juga berpikir mungkin itu sudah hasil musyawarah keluarga dengan jiran tetangga. Sudah ada kesepakatan, persetujuan, dan permakluman.

Dan, benar saja rumah kecil setengah tembok setengah papan itu memang miliknya setelah saya menguliknya lewat obrolan dengan salah seorang pelayat yang, kebetulan kami berdua mencari tempat yang rindang untuk ngiyup dari terpaan panas terik.

Saya sengaja ngelipir menjauh dari kerumunan orang yang akan memendamkan jenazahnya, terlampau sempit teras itu untuk mengerumun. Saya seberangi sungai kecil yang airnya hitam pekat buat meneduh di bawah pepohonan yang tidak seberapa rindang.

Usai pemakaman para pelayat merangsek menaiki tebing yang tidak terlampau curam di gang sebelah rumahnya. Jadi terang benderang di mana posisi makamnya, yang seperti eksklusif gitu. Jadi gampang bagi anak cucunya bila hendak menziarahinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Angin Laut Pantura

Rumah 60 Ribuan