Ziarah Batin
Setelah doa diamiinkan, sebelum tumpeng dipotong, pose sejenak untuk didokumentasikan, ceklek... |
Riyungan Kecil
Tahun-tahun kemarin, utamanya 2018 dan 2019, bila mudik ke
Pacitan mengisi liburan nataru dan semesteran sekolah, kami ketepakan ultahnya
Asih Setiyowidiasmi, 27 Desember.
Pagi tadi di WAG keluarga saya ucapkan selamat untuk
ultahnya disertai doa semoga Gusti Allah mencurahkan keberkahan dan usia yang
panjang dan kajembaran rezekinipun.
Pada perayaan ulang tahunnya tahun 2018, saya didaulat untuk
mengimami doa, sebelum pemotongan ayam ungkep penghias nasi tumpeng. Sebuah
penghargaan buat diriku.
Doa yang saya panjatkan pengharapan yang baik-baik. Semoga
umur yang berlalu membawa keberkahan dan semoga dipanjangkan lagi usianya. Jaza-Killah
Khairan katsiiraa.
Di antara doa yang saya lafalkan dengan lirih adalah semoga
Allah Swt limpahkan kepercayaan kepadanya untuk dititipi amanah berupa momongan yang salih dan salihah.
Momongan yang
kelak jadi penghias pandang mata dan penyejuk jiwa (qurrota a’yun) kedua
orang tuanya. Jadi pengikat erat jalinan cinta dan kasih sayang di antara dia
dan suami.
Mengapa diselipkan doa tentang momongan? Karena hampir 10 tahun pernikahan mereka belum juga
diamanahi. Bukan main rindunya mereka berdua suami akan momongan.
Usaha secara medis dan nonmedis sudah mereka jalani. Kurma
muda yang kata orang bisa mempercepat kehamilan juga sudah dicoba, namun belum
membuahkan hasil.
November 2019 kami dapat kejutan. Asih dikabarkan hamil.
”Alhamdulillah,” gumam kami. Ternyata perlu waktu 10 tahun 2 bulan mereka
merawat sabar menunggu tuah ini tercurah.
Saya tidak berani mengklaim itu berkat doa yang saya
panjatkan pada perayaan hari ulang tahunnya itu. Kalau mengaku-ngaku itu berkat
doa saya, kesannya terlampau jumawa.
Mereka berdua suami dan orang tua pun tentu tak lelah
mendoakan. Tetapi, kita tidak tahu di doa yang ke berapa, dan melalui lantunan
siapa, Allah Swt baru akan mengijabahnya.
Tidak ada yang bisa mengintervensi hak Allah Swt dalam
menentukan Qudrat dan IradatNya kepada para hambaNya.
Kelahiran, jodoh, rezeki, dan maut ada dalam GenggamanNya.
Kelahiran, jodoh, rezeki, dan maut itu kapan datangnya murni
bergantung Kehendak-Nya. Tak ada yang bisa mengondisikan keempat hal yang begitu
misteri tersebut.
Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Selebihnya pasrah. Di puncak ikhtiar, di puncak pasrah, dan di puncak penyerahan diri dalam lantunan doa, Allah SWT turunkan Maunah.
Merayakan kelahiran dalam riyungan kecil tak ubahnya ziarah
batin. Doa selamat ulang tahun haruslah dimaknai sebagai kontemplasi, dari
mana dan akan ke mana badan diri.
Filosofi Tumpeng
Desember ini kami tak mudik mengisi libur nataru dan
semesteran. Pertama, karena istri sudah pulang sewaktu Ibunda kembali ke Haribaan
Ilahi pada 1 Desember 2021.
Kedua, ada pemberlakuan PPKM Level 3 dan PPKM Mikro yang
membatasi mobilisasi. Lagi pula meski libur, guru tetap diharuskan masuk walau
tidak ada pembelajaran.
Jika saja sang Ibunda belum dipanggil pulang ke Haribaan
Rabb, niscaya kami akan pulang menengoknya. Dan tentu akan ketepakan dengan
perayaan ultahnya Asih.
Tahun-tahun kemarin, utamanya 2018 dan 2019, pada perayaan
ultahnya Asih ada ritual potong tumpeng setelah berdoa. Entah mengapa kok saya
yang didaulat mengimami doa.
Tahun ini mungkin tetap saja ada riyungan kecil di keluarga
mereka merayakan ultah itu. Mungkin tetap saja ada nasi tumpeng, ayam ungkep,
sayur urap, dan lalap-lalapannya.
Yang mantap-surantap di samping nasi tumpeng ada aneka
cemilan khas jajanan pasar seperti lupis, cenil, gatot, klepon, dll. Usus
rasanya kurang jumbo untuk menampungnya.
Di detik sekian setelah doa diamiinkan, setelah puncak
tumpeng dipotong dan membentuk kepundan, di detik itu pula kebingungan menggoda
hasrat yang merajalela.
Hasrat ingin menyantap apa terlebih dahulu, apakah nasi
tumpeng berikut sayur dan lauknya ataukah jajajan pasar yang ngangeni itu.
Jian, benar-benar bingung dibuatnya.
Murdijati Gardjito,
peneliti di pusat studi pandan dan gizi UGM, Yogyakarta, dikutip Kompas.com,
Senin (8/8/2016, menjelaskan makna dan cara memakan tumpeng yang benar, adalah;
”Tumpeng representasi hubungan Tuhan (puncak) dengan
hambaNya dari berbagai lapisan (bagian tengah ke bawah) tumpeng. Puncak tumpeng
seharusnya tidak dipotong.”
”Memotong puncak tumpeng akan menyalahi filosofi tumpeng
yang menyimbolkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Kalau tumpeng dipotong,
putuslah hubungan itu.”
”Memakan tumpeng bukan dipotong dan dibagi-bagikan,
melainkan dimakan bersama-sama dengan mengepungnya. Dan menggunakan tangan
dimulai dari bagian bawah tumpeng.”
”Nasi diambil dengan tangan bersama sayur dan lauk lalu
disuapkan ke mulut. Dari bawah terus ke bagian atas sampai puncak tumpeng roboh
dan menyatu dengan bagian bawah.”
”Menyatunya puncak dengan bagian bawah tumpeng diartikan
menyatunya hamba dengan Tuhan, manunggaling
kawulo lan Gusti (Sang Pencipta tempat kembali semua makhluk).”
Waduh, baru paham filosofinya, deh. Selama ini tahunya cuma menikmati belaka. Walaupun soal rasa tak ubahnya nasi gurih kuning umumnya. Hanya saja, bentuknya tumpeng.
Ziarah Ingatan
Sementara kemarin (Minggu, 26/12/2021), di area parkir Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Kota Banda Aceh dihelat peringatan gempa dahsyat dan tsunami di Banda Aceh.
Sejak kejadian tsunami di tahun 2004, setiap tahun masyarakat Aceh melakukan tradisi tafakur menundukkan kepala mendoakan para syuhada yang gugur pada musibah itu.
Musibah gempa dahsyat dan tsunami Aceh memberi pelajaran berharga. Pemerintah di daerah rawan bencana makin gencar mengedukasi masyarakat untuk siaga bencana.
Bencana alam seperti gempa bumi tidak bisa diprediksi kapan dan di mana akan terjadi. Tak bisa dihindari, Indonesia rawan bencana karena berada di wilayah Cincin Api Pasifik.
Upaya minimal yang bisa dilakukan adalah senantiasa waspada dan siaga sehingga bila terjadi bencana, masyarakat sigap melakukan penyelamatan diri secara bersama-sama.
Mitigasi bencana telah dijadikan isu penting dalam mengedukasi warga masyarakat agar lebih tangguh dan siap menghadapi bencana, misal melakukan simulasi secara rutin.
Untuk mengabadikan memori kolektif masyarakat Aceh yang ditimpa tsunami, maka didirikanlah Museum Tsunami Aceh, diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2009.
Museum dirancang arsitek ternama Ridwan Kamil pada 2007, saat belum jadi Wali Kota Bandung. Kemarin Gubernur Jawa Barat itu menghadiri undangan masyarakat Aceh.
Kang Emil mengikuti acara ziarah kubur korban tsunami Aceh di area kuburan masal Ulee Lheue Banda Aceh. Lalu menghadiri zikir dan doa di area Pelabuhan Ulee Lheue.
Ziarah kubur merupakan salah satu rangkaian peringatan 17 tahun tsunami Aceh, diisi acara tabur bunga, membaca Surah Yas Siin, zikir dan lantunan doa bagi para syuhada.
Ziarah kubur sekaligus menjalankan nasihat Rasul Saw agar kita sering mengingat kematian. Dengan memperbanyak mengingat kematian akan bertambahlah keimanan kita.
Ziarah ingatan pada peristiwa pilu 17 tahun lalu tentu menerbitkan ulang kesediah mendalam. Tetapi, hendaknya menjadi iktibar dengan memetik hikmahnya agar menjadi lebih baik.
Allah Swt pemilik qudrat dan iradat, menurunkan takdir untuk menguji hambaNya, seberapa kuat dan sabar menerima cobaan. Seberapa tangguh melanjutkan kehidupan sesudahnya.
Ziarah ingatan pada peristiwa 17 tahun tsunami Aceh bisa juga menjadi ziarah batin dengan tafakur berzikir merenungkan jika Allah Swt berkehendak, kita tak berdaya apa-apa.
Tahun 2021 akan berakhir, meninggalkan peristiwa pilu erupsi Gunung Semeru. Tahun mendatang entah bencana apa yang akan menimpa, untuk menguji kekuatan batin kita.
Komentar
Posting Komentar