Ujung Mata Pena

Penyerahan Buku Suatu Hari Dari Balik Jendela Rumah Sakit : Antologi Puisi HUT ke-62 RSUP Sanglah, saat di-launching pada puncak HUT ke -62 RSUP Sanglah, 30 Desember 2021 (foto kiri dari laman facebook RSUP Sanglah). Paket buku yang sampai ke rumah saya pada 9 Januari 2022 (foto kanan dari koleksi pribadi)  

Dulu, sebelum ada alat tulis elektronik, ujung mata pena jadi andalan dalam mencatat apa pun. Dalam menulis naskah apa pun. Paling modern mempergunakan mesin ketik merek Royal atau Brother.

Sungguh ujung mata pena begitu penting maknanya dalam kehidupan manusia. Selarik puisi yang tiba-tiba memuai di kepala, terlebih dahulu diguratkan di buku notes atau diary, sebelum diketik di mesin tik.

Wartawan, di masa pergolakan perang julukannya begitu. Sampai masa setelah lama merdeka pun tetap itu julukannya. Organisasi yang mewadahinya pun bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Di samping menenteng kamera DSLR jadul, di kantong setiap wartawan pasti ada buku notes berikut pulpen atau pena. Mengandalkan mata pena mencatat berita dengan sistem steno (tulisan ringkas).

Sesampai di kantor surat kabar sepulang liputan, notes dikeluarkan untuk memindahkan tulisan ringkas dengan mengetiknya di mesin tik untuk kemudian diserahkan kepada redaktur penanggung jawab.

Di era digitalisasi, kamera digital meski sekadar pocket, lebih mantap kalau DSLR yang bisa membidik objek foto dari jarak jauh. Buku notes tidak lagi jadi andalan, tape recorder mini mengambil alih peran.

Dengan tape recorder di tangan, wartawan cukup merekam omongan narasumber saat siaran pers. Sesampai di kantor tinggal memutar ulang hasil rekaman tadi sambil mengetikkannya di komputer.

Seiring berjalannya waktu, makin tuanya profesi wartawan, perangkat kerja dan cara kerja mereka makin simple. Seiring makin redupnya pamor surat kabar cetak, profesi wartawan pantang ikut redup.

Profesi wartawan tetap bersinar seiring lahirnya platform media berita digital. Serikat Media Siber Indonesia, nama organ yang ngemong-nya. Lahir saat dunia pers dilanda disrupsi teknologi informasi.

Jauh sebelum media siber menggejala, julukan wartawan telah dipoles menjadi sebutan yang lebih berwibawa, yaitu jurnalis. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) adalah organ yang membawahinya.

***

Kembali ke ujung mata pena. Di era gadget begitu multifungsi saat ini, segalanya beres dengan ketukan jempol. Mencatat berita di ponsel, mengirim ke kantor via e-mail, buku notes dan pulpen jadi sampah.

Saking tak bergunanya lagi buku notes dan pulpen, ditegasikan oleh keberadaan platform WhatsApp. Seorang jurnalis seakan tak perlu lagi turun ke lapangan meliput, cukup menunggu kiriman dari kawan.

Ongkang-ongkang kaki di rumah, kiriman berita masuk via WhatsApp. Tinggal diedit sedikit, maka siap di-forward ke redaksi yang menunggu di kantor. Kode nama di bagian akhir berita, diganti dulu tentu.

Tak sekadar berita, foto penyerta pun didapat juga. Alhasil antara media satu dengan lainnya acapkali punya kemiripan berita. Lebih gampang lagi dapat berita dari hasil copy paste di situs web tetangga.

Semakin maju, semakin mudah, semakin gampang, membuat keakuratan berita semakin sulit dipertanggungjawabkan bila dikaitkan dengan kecepatan tayang dan mengejar views yang banyak.

Views sebanyak mungkin memang cepat diraih di era media sosial. Berbagai platform media sosial jadi medium penyebaran karena orang-orang seakan berlomba untuk jadi pelaku yang paling pertama.

Itulah mengapa berita bohong (hoaks) begitu mudah sampai ke pembaca yang paling pelosok sekalipun. Tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kebenarannya, jempol langsung mengedip menyebarkannya.

Jempol tidak sekadar piawai menyebarkan produk jadi, bahkan juga kuasa memproduksi konten berita atau gambar. Hanya bermodal ponsel dengan RAM 2 GB, cukup mendukung produksi sebuah konten.

Artinya, tak usah canggih-canggih amat alat produksi. Apakah sekadar status hasil perang antara pikiran dan hati, atau sekalian berbuat mesum direkam lalu sebarkan, niscaya akan dilaporkan orang ke polisi.

Laporan atas dasar apa pun, entah ujaran kebencian, menimbulkan kegaduhan, apalagi penghinaan dan pencemaran nama baik, niscaya akan direspon oleh kepolisian. Berujung penangkapan dan penahanan.

***

Kembali ke ujung mata pena. Di era lapor melapor masa kini, di kantor polisi segala isi laporan diketik di komputer lalu di-print dan ditandatangani dengan ujung mata pena, dokumennya tersimpan di file.

Kalau sudah begitu, kebenaran (menurut pikiran dan hati) belum tentu benar di mata hukum. Begitu juga kesalahan (menurut pengakuan yang tulus) belum tentu beneran salah dan bisa dimaafkan.

Isi laporan yang dicatat polisi akan menyeret pelaku ke ranau hukum. Diciduk, disidik hingga hasil penyidikan di-BAP-kan mengarahkannya langsung menjadi tersangka atau pada mulanya sebagai saksi.

Saksi pelapor dan saksi terlapor akan dipertemukan di ruang sidang, apa delik yang disengketakan akan diadu dalam argumen masing-masing baik secara sendiri-sendiri maupun didampingi penasihat hukum.

Dari dalam maupun luar ruang sidang pengadilan, para jurnalis sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang standing di hadapan kamera, live streaming dengan pembaca berita di stasiun TV.

Ada yang sibuk dengan gadgetnya, tak sedikit pula yang termangu-mangu. Sangatlah sulit menemukan yang sibuk dengan buku notes dan pulpen. Pencatatan ringkas a la steno terpinggir ke bilik sejarah.

Di era work from home di tengah pandemi Covid-19, tak ada lagi ritual menerima pembayaran gaji dengan membubuhkan tandatangan. Gaji langsung ditransfer Bendaharawan Gaji ke rekening bank.

Di era disrupsi media sehingga koran cetak tersaruk-saruk meniti kemajuan zaman, pamor teka-teki silang, sudoku, dan silang kata masih dipanggungkan di halaman koran. Tersedia hadiah, tentu.

Sarana asah otak legendaris itu sepertinya enggan dibuang oleh perusahaan surat kabar. Tidak demikian halnya dengan puisi. Hanya beberapa koran yang masih menyediakan ruang publikasi bagi puisi.

Tidak lagi mendapat tempat di koran, tidak membuat penulis puisi kehilangan jalan. Puisi tumbuh di platform media sosial. Justru melalui media sosial, puisi dan penikmatnya mudah saling menemukan.

***

Sepanjang saya mengkreasi tulisan, sewaktu SMA di Jogja, entah cerpen atau puisi dan opini saat kuliah, sebelum akhirnya dimuat bulletin kampus dan koran atau dibacakan di radio, mata pena jadi andalan.

Pada mulanya mata pena, kemudian mesin ketik dipinjami teman. Di masa itu, koran mau saja menerima naskah meski hanya ditulis tangan. Redaksi koran lalu mengetik ulang sebelum diproses di bagian layouter.

Koran edisi Minggu selalu ditunggu kehadirannya oleh para penulis. Disambangi di kios koran, mengintip kira-kira tulisan yang dikirimnya dimuat atau tidak. Bungah alang kepalang kalau tulisan dimuat.

Sebaliknya, gelo tur kuciwo apabila tulisan belum diloloskan Redaktur yang membidangi. Kalau tulisan dimuat alamat akan ada secarik wesel datang diantar Pak Posman. Lumayan buat nombok uang jajan.

Kini menulis puisi, cerpen, esai atau opini tak lagi mengandalkan mata pena dan mesin ketik manual merek Royal atau Brother. Komputer atau laptop sejak lama memodernisasi kerja manual jari jemari tangan.

Gerakan jari jemari tetap, namun mengoperasikan keyboard (papan ketik) personal computer (PC) atau laptop. Typo atau kesalahan ketik seketika bisa dibetulkan sehingga naskah memenuhi kaidah sempurna.

Naskah sempurna itu siap sewaktu-waktu dikirim ke media cetak atau online. Atau ke berbagai even perlombaan. Misal ada even penghimpunan puisi atau cerpen dalam antologi oleh komunitas tertentu.

Seperti buku ”Suatu Hari dari Balik Jendela Rumah Sakit : Antologi Puisi HUT ke-62 RSUP Sanglah” yang satu puisi saya katut di dalamnya. Even digelar sejak 8 Oktober hingga penutupan 5 November 2021.

Ada 249 judul puisi dari 121 penulis yang masuk ke meja panitia pelaksana. Dari sebanyak itu, hanya 62 puisi yang akan dibukukan. Mengurasi untuk menentukan puisi mana yang lolos adalah kerja keras dan cerdas.

Para kurator, Wayan Jengki Sunarta, Made Adnyana Ole, dan Sthiraprana Duarsa tentu berdebat sengit dengan argumen masing-masing dalam mempertimbangkan apakah puisi tertentu layak lolos kurasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Angin Laut Pantura

Rumah 60 Ribuan