Seperti Halnya Pelari
Ilustrasi gambar pelari dengan nomor dada peserta. (foto: gettyimages) |
Seperti para pelari saja wabah korona ini. Kok, bisa? Ya, bisa. Coba perhatikan para pelari, apakah lari sprint, jarak pendek, jarak menengah, maraton, estafet atau lari gawang.
Di dada mereka pasti ada nomor peserta. Begitu juga wabah korona, dari semula muncul namanya Covid-19. Kemudian mucul sepuluh varian lainnya. Nama sesuai alfabet Yunani.
Sepuluh varian; alpha (B.1.1.7), beta (B.1.351), gamma (P.1), delta (B.1.617.2), epsilon (B.1.429), zeta (P.2), theta (P.3), eta (B.1525), iota (B.1.526), kappa (B.1.617.1).
Nama dan kode diberikan WHO agar tidak terkait dengan nama negara asalnya. Kode dari nama varian baru virus corona itu yang saya maksudkan ibaratnya nomor dada para pelari.
Setelah varian delta meluas di Guangdong pada Mei—Juni 2021, jadi wabah gelombang kedua di Indonesia pada Juli 2021, kasus harian orang positif melampaui 50.000.
Data statistik dicatat oleh JHU CSSE Covid-19, kasus harian pada tanggal 15 Juli 2021 merupakan puncak gelombang kedua Covid-19 di Indonesia. |
Setidaknya terjadi lonjakan kasus harian pada pertengahan Juli dari tanggal 14—17 Juli. Tanggal 14 Juli 54.517 kasus baru, 15 Juli (56.757), 16 Juli (54.000), 17 Juli (54.517).
Memasuki bulan Desember 2021 baru saja varian delta melandai (hampir sampai garis finish) eh muncul varian Omicron, disebut-sebut jadi pemicu gelombang ketiga.
Jadilah wabah korona dengan berbagai varian ini tak ubahnya ibarat para pelari yang tak pernah menyentuh garis finish. Terus saja berlari saling berkejaran tanpa jeda, tanpa henti.
Kasus aktif Covid-19 nasional kian hari kian bertambah. Dalam hitungan empat hari, tanggal 19 Januari (1.232), 20 Januari (1.532), 21 Januari (1.791), dan 22 Januari (2.573).
Satu pekan kemudian, 29 Januari 2022 penambahan kasus positif Covid-19 mencapai 11.588 orang. Ini kian menggelembungkan jumlah orang positif corona.
Data statistik dicatat JHU CSSE Covid-19, kasus harian pada tanggal 30 Januari 2022 |
Tanggal 30 Januari 2022 penambahannya mencapai 12.422 kasus positif Covid-19. Walhasil sejak diumumkan kasus pertama pada 2 Maret 2020, kasus positif menjadi 4.343.185.
Sementara pasien meninggal, sejak awal pandemi hingga 30 Januari 2022 mencapai 144.303 orang. Menemukan angka ini, saya kok terpesona. Karena ada angka 303nya.
303 adalah nomor rumah kami. Sejak awal pandemi ada beberapa kali update Covid-19 berisikan angka 303. Baik jumlah kasus positif, jumlah yang sembuh maupun yang wafat.
Ini salah satu yang berisi angka 303. Foto dibidik 4 Oktober 2020 pukul 15:35 WIB. |
Tambahan 12.422 kasus positif di atas sudah mengindikasikan ada ledakan pandemi Covid-19 di Indonesia. Bukannya melandai lalu reda, melainkan semakin ganas memangsa.
Varian Omicron tentu layak jadi biang keladi munculnya gelombang ketiga Covid-19 sejak varian ini resmi diumumkan Menkes masuk Indonesia pada Kamis, 16 Desember 2021.
Angka orang positif, angka pasien sembuh, dan angka pasien meninggal dunia masing-masing bertambah signifikan. Ibarat pelari, semuanya saling susul mengejar angka.
Angka pertambahan tentunya. Pertambahan yang positif, pertambahan yang sembuh, dan pertambahan yang meninggal. Saling susul-menyusul seperti halnya pelari.
Khawatirkah terhadap varian Omicron? Entah juga. Yang patut dipahami adalah seperti apa gejalanya. Konon katanya seperti sakit flu biasa. Covid-19 di awal juga begitu.
Kalau sama seperti sakit flu biasa, berarti apa pun variannya tidak begitu mengkhawatirkan. Mengapa penting adanya pembatasan sosial? Merusak tatanan sosial ’kan.
Kalau sudah paham gejalanya, tinggal mendeteksi diri sendiri termasuk orang yang punya komorbid atau tidak. Orang yang komorbidnya banyak atau sedang-sedang saja.
Orang yang sudah kategori lansia dan penyintas penyakit yang komplikatif tentu harus lebih waspada. Ibarat pelari, lansia adalah pelari yang digolongkan veteran.
Pelari veteran tentu tak boleh lagi berambisi untuk jadi juara. Berlari pun tentu bukan hal mudah. Karenanya cukup dengan jogging saja, yang penting ada aktivitas gerak otot.
Aktivitas gerak itu itu kunci untuk menjaga imunitas fisik tetap tinggi. Meski demikian, imunitas fisik saja tidak cukup. Perlu juga menjaga imunitas psikis tetap tinggi.
Menjaga imunitas psikis tetap tinggi, caranya menjaga kestabilan emosi. Emosi negatif akan memicu meningginya tingkat inflamasi (peradangan) dan menurunkan imunitas fisik.
Mencegah inflamasi caranya selalu ceria. Meski varian Omicron memicu gelombang ketiga, janganlah mengurangi tingkat keceriaan. Waspada boleh, khawatir jangan.
Ibarat pelari, jogging atau jalan di tempat boleh, berlari kayak nguber maling jangan. Begitulah halnya menghadapi serbuan Omicron. Berjalan santai akan lebih baik, rasanya.
Komentar
Posting Komentar