Sajak-Sajak 1986
Kepada Ahli Waris
Malang, 6 Desember 1986
mari kita berangkat atas
karunia
Rahmat Robbul ’Alamin
yang taburkan tetes-tetes
nikmat
dengan Titah-Nya: Kun
Fayakun
dan kita punguti satu-satu
dengan tekun
dari segenggam benih yang
kita tabur
yang tumbuh, bersemi jadi
ribuan bulir
yang hampa, bersedia jadi
rabuk penyubur
menyertai retih keringat
mengucur
jatuh di rimbun
rumpun-rumpun ranum
kini, apa pasal kita semai
benih sengketa
berebut, saling tuntut,
makin mengusut
tali persaudaraan yang tadi
erat, renggang
keakraban tutur sapa yang
tadinya biasa
jadi asing di telinga,
begitu kaku terasa
kalau saja masih ada niat,
sekedar ingat
pernahkah yang tua
tinggalkan wasiat
bahwa sebidang huma
peninggalannya
layak jadi benih selisih
antara kita
kita kaji riwayat sumbangan
huma
saat kita masih kecil, masih
kanak-kanak
di bawah naungan kasih
sayang ayah-bunda
kita tak pernah peduli kelak
milik siapa
kini, setelah keduanya tiada
mestinya kita garap bersama,
bahu membahu
dan nikmati hasilnya dengan
rasa gembira
tapi mengapa malah dijadikan
umpama bola
kita berebut saling mengejar
beradu kaki
dengan kekerasan hati
masing-masing
padahal itulah napas
kehidupan kita
yang membesarkan kita hingga
dewasa
berhentilah, meski tak ada
wasit penyela
kita guratkan kalimat yang
lama tersembunyi:
”meski huma ukurannya berbilang bidang,
tempat berkubur kita hanyalah seliang”
Yogyakarta, 8 Januari 1986
Bingkai Etika
berguru padamu kiai
mengurai benang
menggantungkannya pada
langit
buat tangga bersilaturahmi
pada-Nya
relasi vertikal: An Naas Min
Allah
berguru padamu kiai
menyolek diri dengan
taqorrub
berjemur di cahaya-Nya
buat perisai hati berlaku
keji
berguru padamu kiai
lakonkan perilaku bijak
bestari
pahami kesahajaan dalam arti
hakiki
berguru padamu kiai
mengukir pigura tuk bingkai
etika
kugantungkan di sisi jendela
tameng bagi angin keras
meretas benang
tak putus pegangan pada Tali
Allah
berguru padamu kiai
tumbuhkan cinta di seluruh
rongga dada
cinta pada segala karunia
berguru padamu kiai
nyanyikan seloka etika
memetik dawai tasbih
tuntaskan reffreinnya
sempurnakan bait-bait iman
berguru padamu kiai
zikirkan puji dengan khidmat
syukuri nikmat, rahmat,
hidayat
berguru padamu kiai
menempa diri capai derajat
paripurna
suci bagai bening telaga
Yogyakarta, Maret 1986
Jerat
entah berupa apa dia
begitu sakitnya kala menyirat
erat
entah di mana yang kena
luar biasa sakit yang terasa
jerat
bila berupa tali rapia
ikatannya sangatlah padat
dan rapat
bila berupa kawat berduri
ikatannya menjepit, menusuk
melukai
duh, Rabbi
kenapa jerat mengikat diri
jerat cinta mengikat hati
jerat janji mengikat
kebebasan
jerat ambisi memaksa
bertindak sesuka hati
jerat
sangat susah dihindari
bila kesadaran dipertaruhkan
tanpa kendali
bila harga diri digadaikan
tanpa arti
jerat
sangat mudah menguasai
bila kewaspadaan tak pernah
mawas diri
bila naluri tak sadarkan
diri
bila mata buta menatap
segala gejala
bila hati dungu menangkap
segala makna
Yogyakarta, 23 Juni 1986
Sebuah Sapaan
bulan keemasan, Kasih
adakah Kau saksikan jatuhnya
meniarap di hamparan telaga
tempiasnya isyaratkan ketenangan
goyang ujung-ujung ilalang
kiaskan berjuta lambaian
entah ucapan selamat datang
atau ucapan selamat jalan
tak mudah dimengerti
sebab tanpa nyanyian
tari perdu-perdu di
belantara
kiaskan upacara penyambutan
entah bagi siapa, adakah
bagi-Mu?
tanpa dengung gamelan,
memang
semoga Kau peka, Kasih
pada sejuta resah terendap
di akar ilalang
hingga Kau curahkan
tetes-tetes Kasih-Mu
memberi kesejukan pada
sukmanya
peka pada kenestapaan
merindu ampun-Mu
tangan-tangan hamba-Mu yang
menggapai-gapai
harapkan sebuah jalinan
Tangan-Mu
hingga mereka puas dan
mengerti
bahwa Kau tak berpaling dari
mereka
Yogyakarta, 15 Juli 1986
Lukisan Kerinduan
meski di sunyi yang suci
tak pernah berkesudahan
hati ini menggambar Rupa-Mu
walau angin membantu
sampaikan takaran Cinta-Mu
kala raga mereguk sejuk
dan matahari beri rasa
hangat
seperti itukah bila Kau
peluk diriku?
tapi di renunganku
yang menjelma dalam
mangu-mangu
asri cakrawala pagi, kala
Kau pendarkan matahari
panasnya mengais embun,
enyahkan kelembaban
lalu Engkau lengkapkan semua
rasa
suka-cita, duka-lara,
nestapa-nelangsa,
manis dan pahit getirnya
asmara
jadi perias berwarnanya
ekspresi muka
semuanya bagiku cukup beri
gambaran
Ksatria-Mu yang Maha bisa
oh, Penguasa Yang Bijaksana
lagu margasatwa dan kidungku
mengimprovisasi rasa yang
bersemayam di kalbu
terpancar ceria, serasa
terlena dalam Buaian-Mu
wewangian yang terbawa angin
melintasi lengang padang,
menyeruak jendela
segarkan jiwaku yang
tenggelam tafakkur
lantunkan puji, membahasakan
syukur
atas yang telah kuterima
dalam hidup ini hari
semoga masih Kau kasih esok,
lusa, selamanya
jaga khusukku, jaga rasa
terima kasih ini
Yogyakarta, Agustus 1986
Introspeksi
entahlah,
seberapa lama waktu harus
kubutuhkan
untuk mempertautkan
janji-janji
jadi sebuah kepastian
entahlah,
seberapa panjang kesabaran
harus kuuraikan
untuk menyatukan kata-kata
jadi sebuah kesepakatan
telah banyak waktu kucuri
merumuskan sebuah pendirian
sejak janji-janji bersikeras
menyatu
rapat kujaga kuncup emosi
agar tak mekar dan gugur
lalu tumbuh menjadi benci
entahlah,
sampai kapan kujemu mengeja
selaksa tanda dan gejala
untuk kenal semua maknanya
hingga aku dapat membaca
suasana hati
yang menyimpan teguh semua
janji
telah banyak waktu kucuri
kekalkan sebuah pendirian
sejak ikrar bersikeras
menyatu
ketat kuawasi suara hati
agar tak berontak lagi
dan ingkari kesetiaan
yang memegang teguh semua
janji
Yogyakarta, 22 Juli 1986
Hati Menikam Hati
kutatap kau jauh melangkah
tanpa pernah menoleh lagi
sampai hilang di perempatan
bayangmu yang hanyut dalam
remang jalan
tinggalkan aku terpaku di
pintu pagar
gerak langkahmu gontai tak
menentu
seakan tembangkan lagu
ungkapan sakitnya hati yang
tertikam
mengapa mataku tak menangkap
kesan sakit hati yang
terpahat di wajahmu
sebab, dalam pamitmu semalam
senyum khasmu masih
mengembang
mungkin lampu taman yang
kacanya buram
mengaburkan semua makna
perasaanmu
tentang sakitnya hatimu yang
tertikam makian
sesal pun mulai merayapi
dinding kalbu
”mengapa aku mesti memakimu”
karena tak datang di saat
ulang tahunku
padahal aku tahu waktu itu
hujan
kutinggalkan pintu pagar
kugiring sesal masuk kamar
kuhempaskaan tubuh di
peraduan
kupaksa mata memejam mencari
bayangmu
di tengah lelap tidurku
semalam
mimpiku mendengar suara
rintihan
”hatimu yang luka, begitu
sakit kau rasa”
sejak kusayat-sayat dengan
makian
angin malam menelusup lewat
ventilasi
biaskan guratan pesan darimu
di tembok
meski samar mataku dapat
jelas membaca
”bahwa kau tak akan pernah
lagi datang”
menjelangku yang betah
menunggu
selepas maghrib setiap malam
Minggu
pagi ini sesal kembali
meresahkan hati
mengalutkan pikiran jadi tak
menentu
membuat hilang nafsu sarapan
pagi
bahkan bisa berlangsung
sepanjang hari
hingga gejala sakit mag
datang mengganggu
ujungnya bakal tak lelap
tidur malam nanti
duh, Tuhan Maha Penjaga Hati
mengapa terjadi hati menikam
hati
hatiku yang egois menikam
hati kasihku yang suci
Yogyakarta, 29 Agustus 1986
Kesan Pertama
dulu saat awal perkenalan
sekilas kelembutanmu
memancing kesan pertamaku
penampilan yang bersahaja
tingkah yang cenderung dijaga
baik di tutur sapa atau di
gelak tawa
bahkan hanya tersipu malu
terpaksa pun, tawa tanpa
suara
tak juga cekikikan apalagi
terbahak
kesan ini memancingku
menilaimu
kau gadis remaja yang anggun
daya pesonamu mendebarkan
dada
siapa memandang pasti enggan
berkedip
menatap lekat, tak hendak
berpaling
ingin lebih dekat, duduk
berdamping
berbincang, atau sekadar
basa-basi
tapi, alangkah terkejut aku
kemarin
emosimu meledak, mengagetkan
celoteh nyerocos tak terbendung
kata-kata makian tak tersaring
sepertinya kau tumpahkan
semua
wajah anggun yang kau punya
menampak topeng dasamuka
membuat aku diam mematung
tenggelam dalam pusaran bisu
meski diam, pikiranku tetap
melata
aku coba menangguk makna
ucapanmu
adakah kebenaran bisa aku renungkan
atau semua hanya ungkapan
perasaan
lantaran terbawa emosi
tegangan tinggi
tapi yang bisa aku endapkan
di hati
kesan yang dulu menghipnotis
mata
hanyut sudah ke muara
emosimu
Malang, 18 September 1986
Sajak Pisau
tajam nian nalurimu
senantiasa mengerti
apa yang mesti kau perbuat
untukku
meski kau terkurung dalam
sarungmu
tajam nian kemilaumu yang
mengkilat
senantiasa beri cahaya
terang
pada duniku yang hitam kelam
meski karatmu mencekam
betapa kau bantu aku
mengupas segar kulit buah Apel
pembasuh dahaga sukmaku
betapa kau bantu aku
membuka ujung sampul surat
kekasihku
pembasuh rindu batinku
meski kau kini lama
tersarung
bersabarlah menanti apa yang
kuinginkan
bantuanmu senantiasa masih
berharga
bila kelak aku makin tak
kuasa
mengalahkan frustrasi yang
kian mengalut
kuharap kau bantu aku
menjemput maut
Jl. Borobudur, Malang, 19
November 1986
Sejuta Harum Bunga
sejuta
harum bunga, menyeruak tingkap hati
makin
mendorong hasrat ungkapkan kekaguman
pada
ketidakputusasaanmu menerima cobaan
atas
balasan cinta yang kau berikan pada kasihmu
adalah
dia meninggalkanmu di saat mekarnya cinta
kini
sejuta harum bunga kembali menebarkan wangi
sampaikan
untaian kata cinta bagimu
datang
dari kedalaman nurani yang suci
mampukah
sejuta harum bunga ini
membuaimu
dalam keharuan
di
tengah jenuhnya penantian
ternyata
masih datang jua dewa asmara
berikan
semua yang kau damba
membuaimu
dalam kesadaran
tentang
kemaha-adilan sang pencipta
di
tengah kekalutan pikiranmu
di
tengah ketidaktegaranmu berdiri
di
tengah ketidakhabisanmu merenungkan
betapa
yang namanya mengagungkan cinta
perlu
ketegaran hati, perlu kesadaran diri
perlu
perjuangan dan pengorbanan yang besar
perlu
ketabahan akan apa yang bakal terjadi
agar
bisa temukan cinta sejati
sejuta
harum bunga yang menebarkan
wangi
jangan
sampai melenakanmu
melambungkanmu
dari alam sadar
hingga
kau masih dapat menerima kenyataan
betapa
yang namanya mengagungkan cinta
begitu
banyak hati yang bakal retak ripu
bahkan
ada yang sampai melayangkan sukma
sejuta
harum bunga, menyeruak tingkap hati
membuaimu
dalam cinta yang bersemi
datang
dari kebeningan hati bak embun pagi
datang
dari ketulusan hati bak sinar surya
syukurilah
ini sebagai karunia Sang Pemberi
nikmatilah
ini sebagai hikmah
bening hatimu
rasakan
harumnya, jagalah kesegarannya
hingga
sejuta harum bunga tetap mewangi
semerbaknya
menghias indah cintamu
Komentar
Posting Komentar