Sajak-Sajak 1985
Saksikanlah
*) Q.S. Al-Hujurat [49] : 10
saksikanlah hai kalian yang
tak buta
sepagi ini cemeti ibu tiriku
telah menggeletar di tubuhku
bagai biola digesek,
tangisku pun menggema
menyambut mentari jelmakan
sinarnya
saksikanlah hai kalian yang
dapat membuka mata
sepertinya ia ingin
menghapal lagu kesayangannya
dengan senantiasa memutar
kasetnya
demikianlah aku doperlakukan
bagai tape-recorder
pagi hari telah disetel
dengan menjewer telingaku
agar menyanyikan tangis yang
syahdu lagi pilu
bagi orang yang berjalan
malam
akan bersuka cita bila pagi
tiba
tidak demikian halnya bagiku
berakhirnya malam berarti
datangnya sengsara
belum lagi kering air mata
tangisku semalam
pagi ini sudah memancar lagi
*) tentang perlakuan kejam
seorang ibu pada anak tirinya.
Yogyakarta, 25 Januari 1985
Prasangka
: Eny M. Jalan Wahid Hasyim
rinai hujan berkepanjangan
malam pekat, angin berhembus
tipis
telah mencuri kebahagiaanku
semalam
yang hilang ditelan
kesendirian
ada sebuah ketakutan
mengancam
membuat resahku menyayat
hati
mulai menjauhikukah dia
itu tanya menuding begitu
menikam
hujan berkepanjangan tadi
malam
membantunya merumuskan
sebuah alasan
tentu saja aku akan sia-sia
belaka
bila masih mempertanyakan
mengapa dia tak datang apel
padaku
karena hujan, tentu itu
alasan tepat baginya
bila kudebat pasti akan timbul
pertengkaran
yang ujungnya memudahkannya menegaskan
untuk benar-benar menjauhiku
tapi ada sebuah obat mujarab
penaka rasa takut yang
menjelma hantu di kalbu
”jangan tanya apakah dia
mencintaimu,
tapi tanyalah hatimu apakah
benar-benar mencintainya.
sebab, itulah jalan menuju
cinta yang sebenarnya”
demikianlah bisik itu
mengiang
entah dari mana arah
datangnya
mungkin ia sugesti sang
batin
mencoba keluar jadi sosok
pahlawan
menenteramkan hati dari rasa
takut mencekam
ya… benarkah aku
mencintainya, dengan sepenuh hati
kalau benar sudah seperti
itu yang kurasa
mengapa masih ada rasa takut
melingkupi kalbu
betapa lemah jalan nalar,
selalu dihantui rasa takut
kadang pikiran yang hanya
jalan sejengkal
jarak sependek itu, memang
tak akan pernah mampu
menemukan hal-hal yang nyata
atau sekedar menipu
tirani ego yang ingin selalu
menang, selalu bahagia
membuatku sulit menerima,
sulit memaklumi
alasan yang disodorkannya,
setiap kali waktu alpa
kadang terbersit juga jauh
dari alam bawah sadar
betapa aku menuntut terlalu
banyak padanya
tapi dasar hati yang egois,
setiap kali dongkol timbul
tak bisa berpikir tenang,
tak mampu berbuat banyak
hanya terbawa emosi, dan mau
dituruti perasaan
pengertian yang mestinya
tajam, seketika tumpul
maaf kasih, aku berprasangka
yang bukan-bukan padamu
Yogyakarta, hujan malam
Minggu, akhir Juli 1985
Nyanyian Kelana
semerbak cempaka sepanjang
dusun
memupuk sebutir cinta buat
perawan desa
meski sampai di mana kan
kujelajah jua
sampai kutemukan kekasih
cendera mata
pucuk bidara menari ceria
menyambut gadis buka jendela
dan aku bernyanyi menanti
tatapannya
aku kan senyum agar dia
terpana
dari setiap pekarangan rumah
desa
kunikmati paras jelita penuh
pesona
kutebar jaring-jaring
harapan
agar cintaku tertabur di
ladang hatinya
tapi hasratku bertemu gadis
berambut panjang
agaknya mulai sulit
menemukannya
gadis jelita, berambut
panjang, ceria dan manja
paras ketemu, tapi rambutnya
hanya sebahu
mereka sudah kenal gaya
rambut kota rupanya
aku akan terus menjelajah desa
sampai mana juga
sampai kutemukan bakal
kekasih cendera mata
gadis jelita punya rasa
manja, tapi bisa dewasa
gadis semampai, rambut
tergerai, indah di mata
gaya rambut kota telah
merambah ke pelosok desa
gadis-gadis tak lagi
berbusana kain dan kebaya
telah banyak gaya busana
mereka pakai
rambut juga tak ada lagi
macam mayang mengurai
duhai wajah desa, kenapa kau
tetap masih lugu
tidakkah kau hendak tambah
cantik pula
serupa gadis-gadismu yang
kini selangkah lebih maju
mereka telah tampil bagai
kebanyakan gadis di kota
duhai gadis desa, mengapa
kalian biarkan dia
desamu pun ingin tampak
cantik sepertimu
cobalah dihias agar tampak
cantik pula
poleskan warna indah di
bingkai jendela
seperti kau poles gincu agar
merah bibirmu
semerbakkan wangi bunga, tanam
di pekarangan
seperti kau semprotkan
deodorant di ketiakmu
agar kau dan desamu
sama-sama cantik dan harum
Pantai Karang Bolong,
Gombong, Agustus 1985
Arti Hidup Ini Hari Terlukis Dalam Mimpi
meski panas begini hari
pintu tertutup rapat dan
terkunci mati
ada ketukan yang
diulang-ulang dengan rapi
adalah ketukan mentari yang
menggeletarkan cemeti
menanti pintu dibuka dan
menerawang ruang
menggerahkan kalbu yang
mengukir hari ini
sayang hati telah paham
segala arti
dan naluri telah biasa atas
segala rasa
meski panas begini hari
mimpi tetap datang mengukir
hati yang lelap
menanti mentari kesal
mengetuk
lalu pergi membawa
kejengkelan yang menggumpal
setelah senja menggamit
tangannya menuju janji mereka
menuruni tebing dan
melangkah ke jurang malam
kemudian mendaki bukit untuk
mengintai
pintu mana pagi esok yang
menganga menyapanya
”sialan, kalau pagi begini
pintu pada menganga ramah
tak satupun yang bisu, semua
menggiurkan,” gumamnya
tapi bila siang tiba, semua
terkatup bisu
semua memandang curiga
kedatangan mentari
memang, dalam siang panas
begini
kalau pintu tak terkatup dan
dikunci mati
gerah sinar matahari yang
menerjang ruang
takkan dapat bebaskan semua
mimpi dapat leluasa
mengukir arti kehidupan ini
hari
Gombong, Oktober 1985
Taubat
semakin jauh kumenekur
langkah
dan pikiran makin
kukuatkan
tiada kehidupan sesempurna
ini
melainkan berkat
Keagungan-Mu
yang mencipta segala jadi
ada
makin kumerasuk dalam
kepastian
makin terang mata memandang
alam semesta pun beri
jawaban
hilang keraguan, timbul keyakinan
bahwa Engkaulah yang
akhirnya kujumpa
terbukti dari tiap tetes doa
muai mendaki panjatan
menuju-Mu
dan Kau pancarkan jawaban
mengalir lewat nadi;
kehidupan
tuntun setiap gerak pandang
dan langkah
agar tak gelap mata dalam
membedakan
antara merah dan putih yang
kusaksikan
agar tak salah langkah
menyusuri
hitam dan putih lembah
kehidupan
berulang-ulang doa menetes
dan mendaki
Kau senantiasa limpahkan
Karunia
sebagaimana telah Engkau
janjikan:
”barang siapa meminta, akan
Kau kabulkan”
dan taubat kucapai
setelah bangkitnya kesadaran
bahwa tiada yang patut
disembah
selain Engkau Yang Maha
Membangkitkan
dengan sepenuh keyakinan aku
bertakwa
tiada pegangan yang kokoh
dan abadi
selain bait-bait Kalam-Mu
Yogyakarta, 6 November 1985
Antara Data dan Tanda
sebenarnya tak perlu
kita berpanjang-panjang
waktu merenung
sebab semua yang kita beri
tanda tanya
telah ada dalam Data
yang terstruktur rapi dan
saling berkait
dari tiap Dia berujar: Kun
Fayakun
dan yang tak ada dalam Data
merupakan Tanda bahwa Dia Maha
Bisa
atas tiap sesuatu
Data mengajari kita membaca
Tanda
Data mengajari kita
menyingkap rahasia
tapi acapkali kita enggan
mengenal Dia
bahkan banyak di antara kita
tak percaya karena Dia kasat
mata
Dialah Udara yang mengalir
lewat angin
tak pernah tertangkap mata
kita
tapi Dia masuk dan keluar
lubang hidung kita
menyiram sukma untuk Tanda
kita ini hidup
hal ihwal yang melingkup
hidup
merupakan Sunnatullah
senantiasa terjadi berulang
berkali-kali
kita anggap sebagai
kebutuhan
yang sulit untuk menghapusnya
dari jadwal harian dalam
agenda
yaitu tidur dan bangun
kembali
adalah persinggahan dalam
siklus waktu
sebenarnya, wujud Kasih
Sayang-Nya
pada kita yang lelah mengais
rezeki
yang bergelimang
dilimpahkan-Nya
Peanguasa Yang Adil Membagi
dan yang letih mengeja doa
dalam khusuk tafakkur
panjatkan sembah bakti,
haturkan syukur
maka diciptakan-Nya kantuk
dan nyenyak tidur untuk
beberapa waktu
bahkan dihiaskan-Nya mimpi
adalah kesempatan bagi kita
untuk mengerti
rasa suka cita atau duka
lara
yang tersembunyi dalam
komedi atau tragedi
ada yang tak terulang memang
terjadi sekali atas
takdir-Nya
adalah lahir, adalah mati
dan kita tak akan pernah
bisa lari
menghindar dan sembunyi dari
maut
sebab kita tak bisa tahu
pasti
kapan ia kita alami
Yogyakarta, 6 Desember 1985
Tugas Berat Telah Selesai
dia kini lepaskan napas lega
senyumnya merekah indah
ada tugas berat
terselesaikan
mempersatukan dua bersaudara
yang lama dikurung
perselisihan
pelihara dendam paling
kesumat
terpisah jurang yang dalam
adalah tugas suci yang wajib
diemban
oleh siapapun yang merasa
terpanggil
untuk menyelesaikannya
meski berat dan banyak
rintangan
akan selesai dengan sedikit
kesabaran
dan kekokohan pribadi yang
tajam
mampu robohkan tantangan
tiada yang lebih berharga
daripada persaudaraan yang
erat
dan bila kita senantiasa
ingat
apa yang sudah tersurat
dalam dua kitab
yang bila kita berpegang
teguh pada keduanya
kita tidak akan sesat
selamanya
kita pelajari dan amalkan
sepenuh hati
karena panggilan-Nya yang
suci
agar terhindar dari fitnah
yang keji
timbul rasa benci, iri dan
dengki, lalu sakit hati
bakar dendam di hati, biang selisih
di muka bumi
dia yang begitu sangat
bersahaja
berjiwa besar dan bijaksana
nampaknya memegang teguh
wasiat nabi
Kitabullah dan Sunnah Rasul
kedua hal itu telah
memperkasakan jiwanya
dengan nasihat yang
digalinya dari Kitab
dengan
perumpamaan-perumpamaan berkhasiat
dia berhasil mendamaikan dua
bersaudara
hapuskan dendam kesumat di
hati
tumbuhkan rasa kasih yang
hakiki
bukan sebilah pedang
senjatanya
dalam mendekatkan jarak yang
memisahkan
hanya keteguhan hatinya
untuk berbuat
dan perintah Tuhannya dalam
Al-Kitab:
”sesungguhnya orang-orang
mukmin adalah bersaudara,
maka itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan
bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat” *)
Yogyakarta, 14 Desember 1985
Komentar
Posting Komentar