Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Perempuan-perempuan di Tengah Lautan Demonstran

Gambar
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Jawa Barat melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/10/2020). Dalam aksinya, mahasiswa dari berbagai kampus itu menyuarakan menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang sudah disahkan DPR RI. (Foto: Tribun Jabar/Gani Kurniawan) Di tengah lautan domonstran menolak disahkannya RUU Omnibus Law Cipta Kerja, yang digelar elemen mahasiswa berbagai perguruan tinggi pada Selasa-Kamis (6-8/10/2020), banyak sosok perempuan menahan debar di dada. Pertama , sosok perempuan yang terlibat langsung dalam aksi massa yang turun ke jalan. Mereka adalah cewek-cewek kece , para mahasiswi dari berbagai kampus, bisa dikenali dari jaket almamater yang membalut tubuh mereka melapisi baju atasan masing-masing. Dengan bawahan celana jeans atau rok panjang yang menyembunyikan legging di dalamnya. Sosok perempuan yang terlibat langsung dalam aksi demo, para mahasiswi entah semester berapa, ikut...

Banality of Evil

Gambar
Banality of evil (banalitas kejahatan) didefinisikan oleh Hannah Arendt sebagai anggapan yang wajar terhadap kejahatan, dan tidak menganggap kejahatan itu sebagai sesuatu yang salah, atau lebih parahnya kejahatan dianggap tidak ada. Adanya banalitas disinyalir karena manusia kehilangan kepribadian dalam dirinya. Belum tiris betul hebohnya media memviralkan kasus pelecehan seksual di sebuah gerai kopi dengan jenama populer. Kembali netizen dikejutkan viralnya kasus permintaan sejumlah uang disertai pelecehan seksual, dialami seorang cewek berinisial LHI, saat melakukan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (13/9/2020). Pelakunya, menurut utas twet LHI, adalah oknum berinisial EFYS (S.Ked) yang bertugas melayani keperluan rapid test calon penumpang di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. EFYS bertugas pada sebuah klinik milik perusahaan farmasi berpelat merah. Hasil tes itu sangat menentukan seseorang boleh terbang atau tidak. Dari curhatan di Twitter itu terungkap oknum...

Terapi Perilaku

Gambar
  Kemarin pagi, Senin (14/9/2020), sambil mencecap kopi, membayang di benakku wajah orang-orang yang kembali harus menjalani aktivitas kantor dari rumah, seiring diberlakukannya kembali PSBB yang diperketat di DKI Jakarta mulai kemarin. Tetapi, tidak jelas benar wajah-wajah itu menyiratkan semringah kegirangan atau mecucu menggambarkan kekesalan. Ya, WFH harus kembali mereka jalani karena eskalasi orang positif Covid-19 di Provinsi DKI melaju kencang ’balapan’ dengan Provinsi Jawa Timur. WFH maksudnya work from home , ya. Bukan We Fell in love with a person Have never met . Matahari meninggi, eh kopi malah menyurut ke dasar cangkir. Sudah agak siang rupanya. Perlahan aku susuri jalan Imam Bonjol ke arah Bambu Kuning, ketika lewat di Pasar SMEP tertangkap mataku sesosok pria sedang push up ditunggui aparat TNI. Aku paham, pasti ia sedang menjalani sanksi akibat tidak menjalankan protokol kesehatan, karena di mulutnya tidak tersampir masker jenis apa pun. Di Pasar Koga, ketik...

In Memoriam Pendiri Kompas

Gambar
Baru saja Kompas merayakan peringatan 100 tahun PK Ojong pada 27 Juli 2020, eh... 9 September 2020 koran besar itu kehilangan lagi salah seorang pendirinya, Jakobus Oetama. Petrus Kanisius Ojong (terlahir dengan nama Auwjong Peng Koen) dan Jakobus Oetama adalah pendiri koran Kompas yang terbit perdana pada 28 Juni 1965. PK Ojong lahir di Sumatra Barat, 27 Juli 1920 dan wafat di Jakarta 31 Mei 1980. Dalam sikap dan tindakan, Ojong menolak segala hal yang punya bau feodalisme. Baginya, itu adalah sikap tak adil dan menghambat kemajuan. Ojong ingin perusahaan yang ia rintis, dirikan, dan pimpin bersama Jakob Oetama tidak bersifat onmisbaar . Perusahaan yang baik yang dapat menjamin kesejahteraan pegawainya, kata dia, adalah yang tidak onmisbaar . Artinya, ketika pemimpin pendahulu tak ada lagi, perusahaan tetap harus bisa berjalan. Jadi, lanjut Ojong, perlu disusun sistem yang memungkinkan untuk itu. Harus ada pula kader-kader untuk menggantikan pemimpin lama. ”Saya yakin Tuhan ti...

Buku dan Minat Baca

Gambar
”Setiap bulan sedikitnya saya membeli 300 buku,” demikian budayawan Taufik Rahzen bertutur di sebuah acara bertajuk ”Temu Blogger Buku” di pertengahan Mei 2008. ”Kadang-kadang bisa juga sampai 600 buku,” tambahnya. Ratusan pengunjung yang terkejut mendengar angka 300, dibuatnya lebih terperangah lagi. Acara yang ditaja di Kafe Matahari, Jakarta, tersebut memang diselenggarakan oleh para ’kutu buku’ yang tidak hanya hobi baca tapi juga rajin membuat ulasan di blog tentang buku yang dibacanya. Paslah memang acara itu bertema ”Temu Blogger Buku” karena yang hadir sebagian besar para blogger yang suka baca buku. Keterkejutan mendengar pernyataan Taufik Rahzen yang setiap bulan membeli 300 bahkan 600 buku, penggila buku yang berani-beraninya ngaku  ’kutu buku,’ tentu sedikit pakewuh jika ternyata hanya bisa membeli 2 atau 3 buku dalam sebulan. Lebih-lebih bagi orang yang masih menganggap buku hanyalah kebutuhan sekunder. Di masa pandemi Covid-19, yang mengharuskan orang st...

”INFLUENCER”

Gambar
Influence , sepenggal kata bahasa Inggris ini memiliki arti ’mempengaruhi.’ Kalau dalam bahasa bakunya ’memengaruhi’ karena pada kalimat tertentu yang menggunakan kata kerja yang berawalan huruf k-p-s-t akan diluluhkan bila diikuti atau ada imbuhan (awalan) ’me-’, ’men-’, dan ’meng-’. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ’influens.’ Jika kata aslinya ditambahi huruf ’r’ untuk melekatkannya kepada ’orang’ atau ’barang’ yang memiliki pengaruh, akan menjadi ’influencer’ yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi pemengaruh. Apa pun bisa jadi pengaruh dan siapa pun bisa terpengaruh. Tidak usah yang berat-berat, ambil saja misal bacaan. Tidak mesti berupa buku, status seseorang di laman media sosialnya pun akan menimbulkan pengaruh, baik pengaruh yang positif maupun negatif. Positif dalam arti bila status seseorang tersebut mengandung kelucuan sehingga memancing tawa. Dan negatif manakala status seseorang itu justru membuat orang yang membacanya terpancing emos...

Setia Mengabdi

Gambar
Pada masanya dulu, angkutan kota (angkot) menjadi ”raja jalanan”  beradu cepat satu dengan yang lain, berebut penumpang. Keluar kandang dari subuh buta dan baru kembali ngandang hampir tengah malam. Itu rutinitas kerja para supir angkot. Demi apa? Demi setoran ke pemilik angkot. Banyaknya angkot yang melaju di jalanan, tentu saja membuat sedikitnya penghasilan para supir. Setelah dikurangi setoran dan mengisi penuh tanki BBM, acapkali hasil yang mereka bawa pulang hanya cukup untuk mengebulkan dapur satu hari, hampir tak ada yang bisa disisihkan untuk ditabung. Demi merebut simpati penumpang, angkot menghias diri dengan asesoris menarik dan raung musik cadas yang menggelegar memekakkan telinga. Kini, di tengah majunya teknologi, ternyata masih ada satu dua angkot beroperasi, mengejar peruntungan nasib. Adakah penumpang yang masih sudi menggunakan jasa angkot? Masih ada satu dua. Selebihnya, penumpang tinggal memesan taksi online lewat aplikasi di gadget . Menggunakan taksi onli...

Koran Besar pun Terimbas Korona

Gambar
Kamis, 23 Juli 2020, saya beli koran Kompas di Jalan Malioboro. Kok tipis? Saya lalu tanya ke pengecer koran yang duduk di bangku sebelah tumpukan koran yang ia ecerkan, yang memang tidak banyak. Hanya beberapa eksemplar terdiri dari Kedaulatan Rakyat , Radar Jogja , Republika , Jawa Pos , dan Kompas . ”Memang segini , ya? Biasanya tebal?,” tanya saya menyadari kok koran itu tipis, tidak seperti biasanya. ”Memang segitu, sudah lama, sejak ada korona ini,” jawabnya.  Duh, Gusti. Koran sebesar Kompas , tinggal 16 halaman.  Saya bawa koran ke tempat duduk semula, di dekat penjual Lumpia Samijaya. Sambil ngopi dan ngemil lumpia di situ, saya celingak-celinguk memastikan kalau ada pengecer koran lewat. Selalu begitu saya. Tak bisa lepas dari bacaan. Di dalam tas yang selalu terselempang di pundak, mesti ada paling tidak satu buah buku ikut serta. Gunanya untuk teman jenuh, terutama ketika sedang menunggu sesuatu. Misalnya sedang mengurus sesuatu, seperti bayar pajak kendaraan di S...

Masker dan Kondom

Gambar
ilustrasi orang mengenakan masker merah putih (foto: google) Selama ini, WHO meyakini bahwa virus corona menular melalui  droplet atau cipratan dari orang yang bersin atau batuk, dan belum melalui udara atau airborne . WHO bersikukuh pada keyakinannya tersebut. WHO beranggapan droplet tidak terlalu lama berada di udara, tetapi langsung jatuh ke permukaan tanah atau menempel ke benda yang beredekatan dengan sumber cipratan. Oleh sebab itu, imbauan paling utama WHO adalah untuk sering-sering mencuci tangan. Beberapa kelompok peneliti kemudian memberikan bukti bahwa virus corona bisa menular melalui udara. Upaya kelompok peneliti untuk meyakinkan WHO dengan bukti bahwa virus corona dapat disebarkan oleh partikel-partikel kecil yang melayang di udara pun berbuah manis. WHO akhirnya mengakui, bukti-bukti yang disampaikan para peneliti tak bisa  dikesampingkan.  Perubahan paradigm WHO ini akan lebih menyelaraskan protokol kesehatan. Sebelum ini WHO masih menyangkal bukti-bu...

”Konser di Surga”

Gambar
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seseorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. [Q.S. Al-Anbiyaa’ (21) : 34-35] تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ Maha suci Allah yang di Tangan-Nya lah segala Kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi...

#MaturNuwunGustiAllah

Gambar
Ardha Krisna Putra bersama Lord Didi Kempot (credit foto: jateng.idntimes.com) Dalam acara ’Rosi’ di Kompas TV, Kamis (7/5/2020), spesial even Tribut to Didi Kempot Godfather of Broken Heart, untuk mengenang Didi Kempot, Rosi Silalahi mengungkap bahwa konser amal #darirumah bertajuk Tresno Ambyar di Kompas TV dalam aksi menggalang dana untuk Covid-19, Sabtu (11/4/2020), direncanakan begitu mendadak. Blontank Poer, sahabat Didi Kempot menghubungi Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV pada Kamis (9/4/2020), mewakili Didi Kempot menyampaikan niat Didi Kempot untuk menggelar konser amal tersebut. Dengan persiapan yang mendadak, disettinglah acara itu untuk disiarkan langsung #darirumah Didi Kempot di Solo. Dan disepakatilah waktunya pada tanggal 11 April itu. Meski begitu mendadak, namun konser amal itu berhasil mengumpulkan sumbangan Rp7,6 M lebih. Dalam waktu 3 jam terkumpul Rp5 M, kemudian diperpanjang 1 jam dan ternyata mencapai Rp7,6 M. Karena merasa konsernya #darirumah itu cuku...