Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Sajak-Sajak 1984

Renjana malam ini tiada lagi keluh kesah semua telah kugantungkan di dinding kamar aku tidur membuang penat yang menggumpal di pundak dan memberati kedua kaki semua kualirkan melalui nadi-nadi lalu keluar dari setiap ujung jari berharap nanti kujumpa mimpi yang bakal melumat habis semua lelah beri rasa damai, beri rasa bahagia berharap pula besok pagi tiada lagi resah gelisah yang membentang di depan mata menghalangi jalan yang bakal kutapaki untuk bebaskan diri dari sakit hati serta rasa benci, iri dan dengki aku telah muak dengan kemesraan karenanya tak sanggup lagi aku bercinta aku juga bosan akan rayuan-rayuan yang membius kesadaranku akan akibatnya kali ini, kuubah haluan hasrat hati agar aku dapat leluasa bernyanyi esok pagi akan segera kujalani langkah yang telah kuatur rapi semoga di jalan aku dapat terjaga terhindar dari panah-panah asmara yang siap melumpuhkan langkah kaki dan melenakanku dalam buaiannya sungguh ...

Sajak-Sajak 1983

Sajak Sepi terlalu getir untuk dikaji terlalu pahit untuk dinikmati terlalu sulit untuk dihindari terlalu mudah untuk dialami terlalu menyiksa diri terlalu sengsara tinimbang mati Yogyakarta, April 1983 Prasangka percayalah, kasih fajar takkan mungkin ingkar selagi tekadmu tetap membara menjemput pagi mencabut mimpi mimpi yang barusan usai kau nikmati bikin hatimu cemas, apa yang bakal kau alami bersabarlah menanti datangnya pagi tuk membuang prasangka jauh di beting kali Yogyakarta, akhir Mei 1983 Sepotong Hati /1/ sepotong hati terpanah ada berontak terpatahkan kekejaman lebih tajam dari elakan ada rintihan kecil sekali mengiringi gejolak syahwat meniti urat sungai ke jurang birahi mengalirkan air surga yang menyembur dari raga seorang perjaka muda belia sepotong hati lunglai ada berontak tanpa daya ada gairah mereguk kenikmatan sendiri ada pasrah menanti usainya regukan hingga tuntas sepotong hati t...

Sajak-Sajak 1982

Siklus minggu yang lalu kusaksikan bulan sabit di akhir pekan sekarang tengah kunantikan sebentuk purnama di pertengahan bulan dan esok lusa kan kulepas purnama beranjak surut ke akhir bulan mengambang meniti jumantara mengapung menggiring bintang-bintang berloncatan dan sembunyi di balik mega hingga lenyap tenggelam terbenam dan kelam akhirnya kembali bangkit menjelma sabit di bulan depan kekasih, kulepas kepergianmu hari ini mengikuti jejak bulan ke ufuk barat kuharap jangan bertolak belakang supaya kau bisa kembali segera bersama datang bulan berikutnya semoga kau datang dengan seribu rindu laksana malam rindukan rembulan demi luruhnya duka yang berselimut gulita yang bakal menghalangi cinta kita bersemi dari hari ke hari mengikuti siklus pergantian bulan penantianku sejenak kusandarkan bagai purnama bertengger di ranting cemara yang kering kerontang juga kesetiaanku padamu sesaat kugenggam seerat mungkin jangan samp...