Tiga Bulan Mulia

”Allahumma bariklana fii Rajab wa Syaban wa balighna Ramadan. 
Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, 
serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan” 
(H.R. Ahmad dan Tabrani)

Demikianlah doa yang pernah diajarkan Rasulullah Muhammad Saw kepada para sahabat beliau. Itu bisa ditafsirkan betapa mulianya tiga bulan tersebut, sehingga manakala memasuki bulan Rajab Nabi Saw perlu memanjatkan doa agar mendapat keberkahan di dalamnya. Di dalam bulan Sya’ban terdapat apa yang disebut malam Nisfu Sya’ban. Yaitu malam pada nisfu (pertengahan) pada bulan Sya’ban. Ada apa di malam ini? Penjelasannya tergambar pada dialog antara Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad Saw berikut: ”Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nisfu Sya’ban seraya berkata; Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan salatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu ke langit.” Rasulullah Saw bertanya; malam apa ini Jibril? Jibril menjawab; ”Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar, terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu.”  

Dari dialog antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad Saw di atas, tergambar bahwa Allah Swt mencurahkan Rahmat bagi hamba-Nya yang bertaubat dan memanjatkan doa di malam Nisfu Sya’ban. Bahkan jauh hari sebelumnya, yaitu memanjatkan doa begitu hendak memasuki bulan Rajab. Dan, sebagai orang yang beriman, tentu bergembira bila dipanjangkan usia hingga diberi kesempatan memasuki bulan Ramadan, sehingga menyambutnya dengan senang hati karena mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah puasa dan lebih meningkatkan amalan solihan, dengan tujuan menjadi orang yang lebih bertakwa serta meraih kemenangan dengan memperoleh imbalan pahala yang berlipat ganda dari Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 183). Kemudian dijelaskan juga; di dalam bulan Ramadan diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 185)

Selain dibukakan 300 pintu rahmat dan diampuni segala dosa, dikisahkan juga pada malam Nisfu Sya’ban ditutup buku catatan amal dan diangkat ke Rabbul ’Alamin. Itulah sebab begitu masuk bulan Sya’ban Rasulullah Saw semakin meningkatkan amal ibadah puasanya dibanding bulan sebelumnya. Dengan harapan pada saat diangkatnya catatan amal itu ke Hadirat Ilahi Rabbi, Nabi Muhammad Saw sedang dalam keadaan berpuasa. Sebagaiman terlukis dalam hadits beliau berikut ini; Usamah bin Zaid berkata, ”Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa dalam beberapa bulan seperti puasamu di bulan Sya’ban. Beliau menjawab, ‘Itu adalah satu bulan yang manusia lalai darinya. (Bulan itu adalah) bulan antara Rajab dan Ramadan, dan pada bulan itu amalan-amalan manusia diangkat kepada Rabbul ‘alamin, maka aku ingin supaya amalanku diangkat pada saat aku berpuasa.’ ” (HR. an-Nasa’I : 1/322, dinilai shahih oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil: 4/103)     

Kalau mau mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah Saw seperti di atas tidak ada salahnya, ataupun tidak juga tidak masalah. Mengenai berdoa, ada baiknya dilakukan setiap helaan napas kehidupan. Tidak hanya saat usai mendirikan salat atau waktu-waktu tertentu. Karena, Allah Swt memang menganjurkan hamba-Nya untuk berdoa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring. Sebagaimana firman-Nya: ”Maka apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An Nisaa’ [4] : 103)

Kalau anjuran berdoa setiap waktu, apakah tidak akan menjadikan jenuh? Tergantung bagaimana menjadikan perasaan di dalam kalbu. Kalau berdoa dianggap sebagai suatu kesenangan tentu yang timbul adalah perasaan senang. Sebaliknya, kalau dianggap semacam keterpaksaan tentu yang timbul perasaan tidak menyenangkan. Sabda Rasulullah Saw: ”Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah Swt telah berfirman ’Ud’uni astajib lakum’ yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti Aku mengijabahnya.” (Q.S. Al-Mukmin [40] : 60)

Bertanyalah salah seorang di antara sahabat Rasul: ”Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?” Sebagai jawabannya, turunlah ayat yang bunyinya: ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 186)

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa berdoa tidak harus waktu tertentu. Apalagi menunggu datangnya tiga bulan mulia (Rajab, Sya’ban, dan Ramadan), tapi jadikanlah semua bulan, semua hari dan semua helaan napas kita sebagai waktu yang baik untuk berdoa. Allah Swt justru akan murka apabila ada hamba-Nya yang enggan berdoa. Memang, kalau ada orang yang enggan berdoa, kesannya seperti sombong sekali. Benar Allah Swt tidak akan mengurangi sedikit pun rasa kasih sayang-Nya kepada seseorang meski tidak pernah berdoa. Akan lebih baik bila senantiasa berdoa agar curahan kasih sayang dari Allah Swt tak akan putus.

Kalau saya pribadi, di samping berdoa di setiap usai salat lima waktu, juga sejak lama mendawamkan berdoa saat berangkat tidur. Doa indah yang selalu saya panjatkan adalah ucapan syukur atas segala nikmat yang dirasa sejak mulai bangun tidur Subuh hingga akan tidur dinihari. Syukur atas nikmat sehat, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ibadah. Syukur atas perlindungan yang Allah berikan di perjalanan sejak keluar rumah hingga sampai di tempat bekerja, demikian pula saat kembali pulang ke rumah. Yang namanya bala’ atau musibah itu rahasia Allah, tak seorang hamba-Nya di muka Bumi ini yang tahu kapan dan siapa yang akan tertimpa musibah. Karenanya, perlu meminta perlindungan dari Allah Swt agar dijauhkan dari sekalian bala, musibah, gangguan orang yang ber-niat/buat jahat.

Kemudian, selain nikmat sehat yang merupakan nikmat dari segala nikmat. Yang paling saya syukuri adalah nikmat panjang umur. Tetapi, tidak sekadar mensyukuri melainkan saya mohon kepada Allah Swt agar diberi keberkahan pada umur panjang itu. Sebab, apalah artinya umur panjang kalau tidak diisi dengan perbuatan yang berkah. Kalau hanya dihabiskan dengan kesia-siaan, tanpa menghamba kepada Alloh Swt, artinya umur panjang itu tidak membawa kebajikan. Ibaratnya pohon hanya lebat daunnya tapi tidak pernah berbuah, sehingga hanya sekedar meneduhkan tapi tidak memberi nikmat berupa buah yang ranum dan manis rasanya. Pohon yang demikian sama halnya dengan umur panjang tetapi dilewatkan tanpa perbuatan amal kebajikan yang meneteramkan jiwa.

Kemudian, setelah mensyukuri segala nikmat yang dilimpahkan Allah Swt, berupa nikmat sehat, perlindungan dan umur panjang, saya juga mensyukuri atas perkenan Allah Swt telah mempertemukan dengan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan pada tahun yang lalu, dan senantiasa memohon agar dipertemukan lagi dengan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan pada tahun mendatang, Itulah sebab begitu memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, doa mohon bertemu bulan Ramadan itu makin khusyuk dipanjatkan. Karena, umur juga rahasia Allah. Siapa bisa mengira bulan Rajab masih bertemu, bulan Sya’ban juga bertemu, tapi giliran menjelang Ramadhan tiba-tiba dipanggil Allah Swt untuk menghadap-Nya. Maha Pengasih Allah yang mengabulkan segala doa. Mahabesar Allah yang mengetahui apa yang terucap di lisan dan yang tersembunyi di hati hamba-Nya.

| Warahan | LAMPUNG EKSPRES | Senin, 8 Juni 2015 |


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Angin Laut Pantura

Rumah 60 Ribuan