Gagap Budaya
Bicara tentang penembang bahasa
jawa (sinden) dalam grup wayang tentu pikiran kita akan tertuju pada sosok
Nurhana atau Soimah Pancawati. Sebab kepiawaian keduanya sudah sohor di publik
pemirsa televisi dan penikmat pertunjukan wayang.
![]() |
Megan bercengkerama dengan pelawak-pelawak Jogja. (foto: Kedaulatan Rakyat/Surya Adi Lesmana) |
Salah satu kreasi busana dengan motif tapis di bagian penutup kepala. |
Di balik decak kagum saya akan
kehebatan Megan, terselip rasa iba dalam benak. Mengapa justru ada orang asing
yang antusias menimba ilmu tentang seni olah vokal jawa dan bukannya anak-anak
muda bersuku jawa yang lidahnya tentu saja lebih fasih. Mengapa di zaman
sekarang yang punya minat mempelajari dan melestarikan budaya daerah justru
orang asing. Ironis jadinya manakala orang bule seperti Megan antusias
mempelajari budaya jawa, sebaliknya orang jawa sendiri malah enggan.
Peserta dari Komunitas Tionghoa Barongsai. |
Hari Minggu (3/11/2013) siang
digelar ”Super Carnaval Budaya Lampung Indonesia” dalam rangka memperingati
Sumpah Pemuda, dipersembahkan oleh Paguyuban RIDHO berBHAKTI (pariti). Yaitu Muhammad
Ridho Ficardo & Bakhtiar Basri, pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur
Lampung Periode 2014-2019. Karnaval yang dimulai pukul 14.00 itu diikuti sekira 3.000 peserta
yang tergabung dalam 400 komunitas, para peserta mengenakan busana adat dan mempertunjukkan kebolehan yang mereka kuasai sesuai khas
daerahnya masing-masing.
Komunitas Kalimantan Selatan (ada jua ai urang Banjar nang umpat karnaval di Bandar Lampung). |
Dari pengamatan saya, sekian banyak
peserta yang mengikuti karnaval, apa yang mereka tampilkan nyaris sama yaitu
hanya baris beriring-iringan. Minim sekali yang mempertunjukkan gerak atau seni
vokal. Di antara yang minim ini adalah Reog Ponorogo yang mempertontonkan kebolehannya dengan atraktif, walau berguling-guling tetap bisa bangkit kembali padahal bobot reognya mencapai puluhan kilogram. Dan komunitas Jawa Barat, dengan menyertakan sebuah mobil pikap yang di belakangnya ada penabuh gamelan, rebab dan suling khas Sunda sementara di depan (sebelah supir) duduk seorang wanita paruh baya menembangkan lagu sunda seperti halnya menyinden di jawa.
Komunitas Sai Batin (muli mekhanai batin) dengan pakaian adat khas Lampung lengkap dengan Siger. |
Jak khani
manom
Sampai pagi
khani
Nyak mak
dapok pedom
Tebista
di niku
Kutunggu-tunggu bang
Khani demi
khani
Kidang api
daya mak ngidok gunani
Aduh sayang,
aduh sayang
Aduh sayang,
aduh sayang
Andahni
sakik hati mu busuya
Dang jadi
laju kham pulipang tega
Sayang di
niku bang, mak ngidok bandingan
Kidang niku
pagun sebik di lom hati
Aduh sayang,
aduh sayang
Aduh sayang, aduh sayangWanita ini tak henti-henti menembangkan Lagu Sunda diiringi irama suling, rebab, dan kendang yang ditabuh para pemusik di bagian belakang bak mobil pikap yang mereka tumpangi. |
Sementara, Indonesia yang luas ini
terdiri dari 17.508 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan
6.000 pulau yang tidak berpenghuni), ada 746 bahasa, 740 suku/etnis). Di Papua
saja ada 270 suku dan 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan
berbagai suku bangsa. Bayangkan kalau semuanya dikumpulkan dalam suatu parade
budaya atau karnaval, alangkah banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya
dan alangkah beragam busana yang dikenakan dan indahnya tari serta nyanyi yang
terdengar. Sehingga warna-warni Indonesia akan terlihat bak pelangi di senja
hari.
Komunitas Sumatera Utara (Gadis-gadis Batak) berselendang kain ulos, menyimpul senyum saat akan dibidik kamera. |
Kalau generasi muda tak mau peduli, lantas siapa yang akan
melestarikan budaya daerah? Sehingga jangan kaget kalau suatu saat ada negara
tetangga yang mengklaim apa yang tadinya adalah bagian dari adat budaya kita,
diakui mereka sebagai adat budaya negaranya. Bukankah itu karena keteledoran (kesalahan)
kita, mengapa abai dan tak mau peduli, merawat dan menjaganya dengan baik. Jangan
hanya paham teori bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi
dan melestarikan budayanya. Tapi, tidak bisa mempraktekkannya.
Kenyataannya, dari ratusan bahasa daerah yang ada di nusantara hanya sebagian kecil yang masih dipakai sebagai alat berkomunikasi. Selebihnya mulai ditinggalkan karena berbagai faktor yang memengaruhinya. Misal terbukanya akses pembauran antardaerah dan antaretnis, yang dipicu oleh perluasan persebaran penduduk atau wilayah permukiman, sehingga daerah yang tadinya berjauhan berubah menjadi berdekatan bahkan menyatu. Sehingga secara otomatis dibutuhkan bahasa pengantar yang dimengerti bersama yaitu Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu). Akibatnya, lama-lama bahasa daerahnya masing-masing secara perlahan ditinggalkan, yang akhirnya terancam punah.
Kenyataannya, dari ratusan bahasa daerah yang ada di nusantara hanya sebagian kecil yang masih dipakai sebagai alat berkomunikasi. Selebihnya mulai ditinggalkan karena berbagai faktor yang memengaruhinya. Misal terbukanya akses pembauran antardaerah dan antaretnis, yang dipicu oleh perluasan persebaran penduduk atau wilayah permukiman, sehingga daerah yang tadinya berjauhan berubah menjadi berdekatan bahkan menyatu. Sehingga secara otomatis dibutuhkan bahasa pengantar yang dimengerti bersama yaitu Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu). Akibatnya, lama-lama bahasa daerahnya masing-masing secara perlahan ditinggalkan, yang akhirnya terancam punah.
Komentar
Posting Komentar