Gagap Budaya

Bicara tentang penembang bahasa jawa (sinden) dalam grup wayang tentu pikiran kita akan tertuju pada sosok Nurhana atau Soimah Pancawati. Sebab kepiawaian keduanya sudah sohor di publik pemirsa televisi dan penikmat pertunjukan wayang.
Megan bercengkerama dengan pelawak-pelawak Jogja. (foto: Kedaulatan Rakyat/Surya Adi Lesmana)
Tapi, kalau kita sebut nama Megan, tentu hanya segelintir orang yang tahu sosoknya. Wanita berkebangsaan Amerika itu sengaja datang ke Indonesia khusus untuk belajar menjadi sinden. Setelah lebih delapan tahun usahanya menekuni seni olah vokal bahasa jawa (menyinden), akhirnya dia memunyai kemampuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Langgam Ngimpi bisa dibawakannya begitu baik, lafal dan cengkok bahasa Jawa Kuno yang kental pada lagu tersebut begitu fasih di lidahnya, sehingga bisa dikatakan nyaris sempurna dia melagukannya.
Salah satu kreasi busana dengan motif tapis di bagian penutup kepala.
Sabtu malam (2/11/2013), Megan tampil menjadi sinden pada konser bertajuk ”Kota Terang Hemat Energi” bersama PT Philips Indonesia di Alun-alun Kraton Yogyakarta yang juga tayang live di RCTI. Yang membuat saya berdecak kagum pada Megan adalah kefasihan lidahnya yang sejatinya londo tapi tak ubahnya jowo. Membuka penampilan konser yang bertabur artis papan atas seperti Ari Lasso, Bunga Citra Lestari, Seila on 7, Princess, Juwita Bahar dan Jelita Bahar, malam itu Megan lagi-lagi menunjukkan kepiawaiannya menembag jawa, lengkap dengan kebaya dan jarik serta sanggul khas pesinden jawa tenanan.
Di balik decak kagum saya akan kehebatan Megan, terselip rasa iba dalam benak. Mengapa justru ada orang asing yang antusias menimba ilmu tentang seni olah vokal jawa dan bukannya anak-anak muda bersuku jawa yang lidahnya tentu saja lebih fasih. Mengapa di zaman sekarang yang punya minat mempelajari dan melestarikan budaya daerah justru orang asing. Ironis jadinya manakala orang bule seperti Megan antusias mempelajari budaya jawa, sebaliknya orang jawa sendiri malah enggan.
Peserta dari Komunitas Tionghoa Barongsai.
Yang terjadi justru generasi muda sekarang lebih tertarik dengan budaya barat. Mereka malu dengan budaya daerahnya sendiri. Takut kalau dicap ndeso, jadul, ketinggal zaman, dan stigma buruk lainnya. Lalu, dengan melihat kemampuan Megan apakah kita hanya berhenti pada berdecak kagum, hanya terkesima dan berlalu begitu saja. Tidakkah terbit rasa nelangsa yang amat sangat lalu terbit tekad ”ayo... jangan sampai kalah dengan Megan yang orang bule.”
Hari Minggu (3/11/2013) siang digelar ”Super Carnaval Budaya Lampung Indonesia” dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, dipersembahkan oleh Paguyuban RIDHO berBHAKTI (pariti). Yaitu Muhammad Ridho Ficardo & Bakhtiar Basri, pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung Periode 2014-2019. Karnaval yang dimulai pukul 14.00 itu diikuti sekira 3.000 peserta yang tergabung dalam 400 komunitas, para peserta mengenakan busana adat dan mempertunjukkan kebolehan yang mereka kuasai sesuai khas daerahnya masing-masing.
Komunitas Kalimantan Selatan (ada jua ai urang Banjar nang umpat karnaval di Bandar Lampung). 
Karnaval yang mengadopsi JFC (Jember Fashion Carnival) ini memang diikuti juga oleh perwakilan dari JFC. Karena sudah kaya pengalaman, apa yang ditampilkan JFC terlihat lebih profesional baik tata busana dan kreatifitas rancangannya serta hias wajah para peragawan/peragawatinya. Selain perwakilan Jember, daerah yang mengikutsertakan utusannya di antaranya Jawa Tengah, Jawa Barat, Madura, Banyuwangi, Reog Ponorogo, Bali, Papua, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara,  Kalimantan Selatan. Sementara dari Lampung diikuti para Saibatin dari daerah kabupaten/kota dan Marga yang ada di Sai Bumi Ruwa Jurai (seantero Lampung).
Dari pengamatan saya, sekian banyak peserta yang mengikuti karnaval, apa yang mereka tampilkan nyaris sama yaitu hanya baris beriring-iringan. Minim sekali yang mempertunjukkan gerak atau seni vokal. Di antara yang minim ini adalah Reog Ponorogo yang mempertontonkan kebolehannya dengan atraktif, walau berguling-guling tetap bisa bangkit kembali padahal bobot reognya mencapai puluhan kilogram. Dan komunitas Jawa Barat, dengan menyertakan sebuah mobil pikap yang di belakangnya ada penabuh gamelan, rebab dan suling khas Sunda sementara di depan (sebelah supir) duduk seorang wanita paruh baya menembangkan lagu sunda seperti halnya menyinden di jawa.
Komunitas Sai Batin (muli mekhanai batin) dengan pakaian adat khas Lampung lengkap dengan Siger.
Sepanjang jalan yang dilalui iring-iringan karnaval (GOR Saburai-Jl. Ahmad Yani-Jl. RA Kartini-Jl. Kol. Suprapto-Jl. Raden Intan-kembali ke Saburai), wanita ini tak henti-henti menembang lagu Sunda. Saya yang menangkap momen dari pinggir jalan menyimak seksama adakah dari komunitas lain juga menyertakan olah vokal selalin memeragakan busana adat. Ternyata ada satu rombongan yang juga secara periodik setiap berhenti berjalan karena terhambat laju iringan di depannya, mereka menyanyikan Lagu Lampung yang berjudul Sebik Dilom Hati Ciptaan Syaiful Anwar. Lirik lengkapnya:

Jak khani manom
Sampai pagi khani
Nyak mak dapok pedom
Tebista di niku

Kutunggu-tunggu bang
Khani demi khani
Kidang api daya mak ngidok gunani

Aduh sayang, aduh sayang
Aduh sayang, aduh sayang

Andahni sakik hati mu busuya
Dang jadi laju kham pulipang tega
Sayang di niku bang, mak ngidok bandingan
Kidang niku pagun sebik di lom hati

Aduh sayang, aduh sayang
Aduh sayang, aduh sayang
Wanita ini tak henti-henti menembangkan Lagu Sunda diiringi irama suling, rebab, dan kendang yang ditabuh para pemusik di bagian belakang bak mobil pikap yang mereka tumpangi.
Mendapati kenyataan itu agak melegakan saya. Betapa tidak, di tengah gempuran budaya asing seperti K-pop atau K-wave dari Korea, di tambah lagi kegandrungan fasilitas BlackBerry masuk Android membuat orang-orang mabuk budaya asing dan gagap budaya sendiri. Peserta karnaval yang tampil ini hanyalah segelintir dari yang ada di seluruh Indonesia. Kalau saja tiap provinsi mengirimkan pesertanya alangkah panjang iring-iringannya. Bisa jadi tak seimbang dengang panjangnya ruas jalan yang akan ditempuh. Sehingga peserta pertama start sudah sampai kembali di tempat finis (tempat start semula) sedang peserta terakhir belum beranjak dari sana alias belum bergerak.
Sementara, Indonesia yang luas ini terdiri dari 17.508 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni), ada 746 bahasa, 740 suku/etnis). Di Papua saja ada 270 suku dan 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa. Bayangkan kalau semuanya dikumpulkan dalam suatu parade budaya atau karnaval, alangkah banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya dan alangkah beragam busana yang dikenakan dan indahnya tari serta nyanyi yang terdengar. Sehingga warna-warni Indonesia akan terlihat bak pelangi di senja hari.
Komunitas Sumatera Utara (Gadis-gadis Batak) berselendang kain ulos, menyimpul senyum saat akan dibidik kamera.
Tapi, masihkah berbagai daerah di Indonesia memelihara kelestarian adat budayanya. Adakah pemerintah daerah yang menganggarkan dalam APBD untuk dana pemeliharaan berbagai cagar budaya yanga ada. Adakah generasi muda masa kini juga peduli mempertahankan dan melestarikan adat budaya, lebih-lebih budaya tradisi? Kalau tidak, pastilah seni tradisi terasing di daerahnya. Pastilah lamban laun budaya warisan leluhur akan punah tak berbekas. 
Kalau generasi muda tak mau peduli, lantas siapa yang akan melestarikan budaya daerah? Sehingga jangan kaget kalau suatu saat ada negara tetangga yang mengklaim apa yang tadinya adalah bagian dari adat budaya kita, diakui mereka sebagai adat budaya negaranya. Bukankah itu karena keteledoran (kesalahan) kita, mengapa abai dan tak mau peduli, merawat dan menjaganya dengan baik. Jangan hanya paham teori bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi dan melestarikan budayanya. Tapi, tidak bisa mempraktekkannya.

Kenyataannya, dari ratusan bahasa daerah yang ada di nusantara hanya sebagian kecil yang masih dipakai sebagai alat berkomunikasi. Selebihnya mulai ditinggalkan karena berbagai faktor yang memengaruhinya. Misal terbukanya akses pembauran antardaerah dan antaretnis, yang dipicu oleh perluasan persebaran penduduk atau wilayah permukiman, sehingga daerah yang tadinya berjauhan berubah menjadi berdekatan bahkan menyatu. Sehingga secara otomatis dibutuhkan bahasa pengantar yang dimengerti bersama yaitu Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu). Akibatnya, lama-lama bahasa daerahnya masing-masing secara perlahan ditinggalkan, yang akhirnya terancam punah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Angin Laut Pantura

Rumah 60 Ribuan