Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Sajak-Sajak 1988

Hati yang Suram tiba-tiba bahagia tergerus nelangsa tinggal gelap yang setia mendekap dan suram yang bersemayam mengekalkan amarah berkepanjangan hasrat yang diharap mekar begitu tepat malah sesap sebelum mengendap tak terurai lantaran terlarai melucuti kemauan yang tak terperi hati keruh dicemar kisruh emosi yang terlampau tinggi gairah tak pernah sempurna diasah menyulut perasaan kian mengusut kemauan telah lama dibengkalaikan sejak hati tak merasa nyaman lagi pasrah yang dirawat dengan susah berharap tumbuh rasa begitu sedap Malang, 11 Februari 1988   Kukenang Kau yang Jauh malam ini aku mengingat-ingat lagi namamu yang kuperam di hati jadi layu dan beranjak membusuk setelah kau cerabut dengan penuh emosi “jangan kau kenang lagi aku,” katamu kau memaksa aku menghapus semua yang mungkin aku kenang jangan segala hal di antara kita “boleh yang indah-indah saja,” katamu tapi bagiku yang tak enak justru lebih kui...

Sajak-Sajak 1987

Sansai andai sejuta kabut itu tirai cakrawala Langit-Mu adalah kepastian gugusan mega untuk nanti pecah jadi hujan di pelataran tanah merah-Mu niscaya tanga-tangan segera tengadah berebut panjatkan syukur betapa lelah menanti anugerah betapa sendu wajah menunggu hasrat menggapai gugusan mega itu jangan hanya terbentang di Langit-Mu tercurahlah, luruhlah di bumi pijakan tapi kabut-kabut itu hanya menampak di angan harapan Cakrawala-Mu begitu cerah Udara Bumi-Mu begitu gerah hasrat yang semula membara malah terbakar lunglai yang tinggal hanya mata menatap nanar dan batin begitu kelu, rasa begitu sansai Batu, Malang, Tahun Baru 1987 Kelabu jemari lentik siapa yang coba mengusik perhatian angin mengajak singgah di beranda kelam menyimak nada-nada falsetto denting gitar yang tak pas setelannya alangkah sendu itu lagu tertegun aku dibuainya hati siapa yang tak gundah gulana bila kekasih dicinta tak apel padanya m...

Sajak-Sajak 1986

Kepada Ahli Waris mari kita berangkat atas karunia Rahmat Robbul ’Alamin yang taburkan tetes-tetes nikmat dengan Titah-Nya: Kun Fayakun dan kita punguti satu-satu dengan tekun dari segenggam benih yang kita tabur yang tumbuh, bersemi jadi ribuan bulir yang hampa, bersedia jadi rabuk penyubur menyertai retih keringat mengucur jatuh di rimbun rumpun-rumpun ranum kini, apa pasal kita semai benih sengketa berebut, saling tuntut, makin mengusut tali persaudaraan yang tadi erat, renggang keakraban tutur sapa yang tadinya biasa jadi asing di telinga, begitu kaku terasa kalau saja masih ada niat, sekedar ingat pernahkah yang tua tinggalkan wasiat bahwa sebidang huma peninggalannya layak jadi benih selisih antara kita kita kaji riwayat sumbangan huma saat kita masih kecil, masih kanak-kanak di bawah naungan kasih sayang ayah-bunda kita tak pernah peduli kelak milik siapa kini, setelah keduanya tiada mestinya kita garap bersama, bahu ...