Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

BBC London, Terkenang Ayah

Setiap pukul 06.15 pagi dan 20.00 malam, ayahku ”pasti” mendengarkan siaran berita radio BBC London, dengan radio PHILIPS 4 band kesayangan. Malam, bakda Isya ayahku sudah bersiap untuk menepatkan tali gelombang radionya. Menepatkan tali gelombang perlu dilakukan agar jarum tuningnya pas pada pemancar radio BBC London. Kadang ayah sendiri, kadang ditemani tetangga yang bertamu dengan maksud sengaja ingin juga mendengarkan berita dari BBC. Sembari menyeruput kopi panas atau teh hangat dan menghisap dalam-dalam kretek, mereka khidmat menyimak suara penyiar yang hilang timbul tenggelam di sela suara kresek-kresek karena ditangkap pada gelombang SW-1. Dentang jam di Menara Big Ben dan terompet concerto yang khas di setiap awal siarannya terekam di benak karena telinga kanak-kanakku masa SMP 70—80an juga terbiasa mendengar radio yang punya program pelajaran bahasa Inggris itu. Aku sendiri sejak lama tidak mendengarkan radio BBC London—yang belakangan namanya jadi BBC News Indonesia...

Adios NOVA

Ketika melanjutkan kuliah di Malang, 1986, saban Kamis sore saya belanja dua media massa. Tabloid N ova dan koran Surabaya Post . NOVA untuk bacaan my girl friend dan Surabaya Post ada tulisan di kolom ”bina manajemen” yang saya kumpulkan buat dikliping, sisa korannya dijual kiloan di pasar. Rutinitas itu akhirnya membuahkan tumpukan tabloid yang diperuntukkan bagi wanita tersebut. Di akhir masa kuliah, NOVA saya urutkan nomornya dan membawanya ke tempat membundel. Ada beberapa bundel besar menjelma menjadi ”barang-mewah” yang belum tentu semua orang punya. Selain dua media massa tersebut, ada satu majalah dewasa yang juga saban terbit (setiap minggu) tak pernah saya lewatkan untuk mengangkutnya dari kios koran ke rumah kost. Entahlah, yang namanya belanja bacaan melebihi kesenangan belanja kaset—yang juga pernah saya gilai pada masanya. Ya, ada beberapa bundel Majalah MATRA yang jejaknya tertinggal di Jogja karena saya titipkan pada adek sepupu yang menikah dengan perempuan ...

Cerita Pengalaman

Bubar tahlil hari ketiga kemarin (21/12/22) malam, sambil beriringan pulang Pak RT kami bercerita pengalamannya saat dulu ditinggal istrinya pulang. Mulai besok, empat hari, tujuh hari, empatpuluh hari, hingga seratus hari –hari-hari si suami dan anak-anaknya akan disergap rasa sepi dan pikiran kosong. Ini bukan rekaan saya lho, kata Pak RT. ”Dahulu saya merasakan benar. Waduh, pikiran melayang-layang gak karuan, sulit untuk bisa tidur nyenyak” imbuhnya. ”Nah, setelah lewat seratus hari secara perlahan baru mulai bisa tidur nyenyak. Bukan takut ya, melainkan hanya semacam tak enak perasaan ini,” tambahnya. Cerita pengalaman pribadi Pak RT terputus karena kami harus berpisah di mulut gang. Inti dari ceritanya bisa saya tangkap garis besarnya seperti di atas. Masuk akal, serbarasa tak karuan tentu akan mengisi hari-hari orang yang ditinggal pulang oleh orang yang mereka kasihi. Suami ditinggal istri atau sebaliknya. Anak ditinggal orang tua atau sebaliknya orang tua kehilang...

Ada Tangis Tertahan di Pemakaman

Gambar
tempat pemakaman umum bukit kemiling permai (foto: koleksi pribadi) ”Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam… Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana….”  –Pramudya Ananta Toer Pagi belum terlalu tinggi, dari TOA masjid yang sedikit loyo dikabarkan seorang ibu kembali pulang. Baru saja, pagi itu juga. Bahkan putrinya sudah berangkat ke tempat kerja, mungkin sedang di jalan dengan sepeda motornya. Dikabari ibunya berpulang, dia pun putar balik pulang ke rumah. Posisi ibunya memang sedang di rumah sakit. Dilarikan ke rumah sakit pada malam harinya setelah gula darahnya meningkat. Itulah sebab sang putri masih beraktivitas seperti biasa. Tetapi, sepertinya bersamaan waktu dengannya berangkat kerja, sang ibu juga berangkat ke Haribaan-Nya. Warga perumahan satu blok pada melayat. Bapak, ib...

Jalan Sastra Lampung

Gambar
Buku Jalan Sastra Lampung (foto koleksi pribadi) Sejak diluncurkan Jumat (2/12/2022), butuh dua pekan saya merampungkan membaca buku ini. Baru senja kemarin selesai membaca semua esai di dalamnya. Buku ini hanya jadi pengisi senja berteman secangkir kopi. Hanya pengisi senja, tak menjadikannya bacaan utama. Ada bacaan lain, terutama yang berseliweran di platform media sosial yang aplikasinya tertanam di halaman gawai. Silih berganti menelusup mencandai. Setelah rampung membaca semua sesuai urutan dari awal hingga akhir. Kesan awal, pada umumnya ”lari jauh” meninggalkan tema dan aturan. Aturan semula, panjang tulisan 12.000 – 15.000 karakter termasuk spasi. Nyatanya, pada melesat melampaui jumlah itu. Panjang esai saya persis 15.000 karakter. Agak masygul manakala mencermati esai lainnya ternyata lebih panjang dari itu. Pengin misuh,  piye . Masa iya misuh, siiih. Ya, sekadar masygul. Kalau boleh melanggar ya tentunya saya pengin tulisan lebih panjang dari itu biar lebih menguliti t...

SAMPIAN

Gambar
Buku SAMPIAN, Antologi Puisi Dwibahasa Lampung-Indonesia. (foto koleksi pribadi) Bukan main lama menunggu buku bagus ini sampai ke tangan kemudian menimang-nimangnya dalam genggaman. Produksinya lebih lama dari proses seorang ibu hamil lalu melahirkan bayinya. Setelah terbit baru ngeh ternyata harus diterjemahkan sehingga menjadi dwibahasa (Lampung-Indonesia).  peserta diskusi buku (Farida Ariyani, Iwan Nurdaja-Djafar, Udo Z. Karzi) didampingi moderator Yuli Nugrahani. Dibutuhkan waktu satu tahun menanti, dua buku hasil sayembara Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) ditaja tahun 2021, diluncurkan  juga akhirnya, Jumat, 2 Desember 2022. Jalan Sastra Lampung , memuat 25 esai sastra dan Sampian , 50 puisi dwibahasa (Lampung dan Indonesia). Ketua Akademi Lampung, Ir. Anshori Djausal, M.T. membacakan puisi Bupengatu di Bulan Bara Sebelum peluncuran buku resmi dihelat, sehari sebelumnya digelar lomba baca puisi bahasa Lampung yang puisinya ada di buku Sampian . Lumayan ant...