Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Tak Disangka-sangka

Gambar
PPKM DARURAT dan VAKSINASI MASAL (ilustrasi foto by: https://www.muslimahnews.com/) وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ،وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا Waman yattaqillaaha yaj ’ al lahuu makhrahaa wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib , Waman yatawakkal ’ alallaahi fahuwa hasbuhuu , innallaaha baalighu amrihii qad ja ’ alallaahu likulli syaiin qadraa . Artinya: ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At Talaq [65] : 2-3) PPKM yang Tuman PPKM Darurat (3—20 Juli 2021) yang kemudian diperpanjang terus d...

Lagi Hoki

Gambar
” Lagi hoki rupa ni Abang tahun inji sampai mangsa ruwa hadiah ,” ani Udo Z Karzi via wasap. ” Reno rupani ya . Payu, kekalau nambah energi nguatko ati aga ngebukuko puisi bhs lpg . tumbai sa msh tang é h kidang kekalau ,” balosku. Seberapa urgen melestarikan bahasa ibu dan menyelamatkannya dari kepunahan? Menjawab pertanyaan ini susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Keberadaan bahasa ibu, apa pun, di nusantara ini kian terdesak karena penduduk setempat ’tersedak’ bahasa pasaran. Sejak Soempah Pemoeda diikrarkan, bahasa Indonesia dijunjung tinggi-tinggi, diperlakukan sebagai bahasa persatuan. Dipergunakan sebagai alat komunikasi yang luas. Sejak itu bahasa ibu perlahan tersisih.  Dalam esai berjudul ”Merindu Negeri Ujung Pulau, Negeri Para Penyair”, saya menulis, ”Sebagai Bahasa Ibu yang penuturnya kian susut, dibutuhkan terobosan untuk membuat bahasa Lampung kian membumi di rumah sendiri.” Beruntungnya, person-person yang berkecimpung di Dewan Kesenian Lampung, khusuny...

Merdeka dari Penyakit

Gambar
Pandemi Covid-19 lebih 1,5 tahun mendera negeri tercinta ini. Sudah jenuh rasanya. Semua aktivitas tidak bisa dilakukan secara normal, imbauan agar berdiam #dirumasaja tidak lagi dipatuhi. Orang-orang mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk melepas kejenuhan dengan berwisata meski tempatnya tidak jauh-jauh dari tempat tinggal. Paling jauh, seperti orang Jakarta lakukan adalah ke Puncak. Pantang sekali ada waktu libur terjepit di antara sebelum atau sesudah weekend . Misalnya tanggal merah jatuh di hari Kamis atau ada hari kejepit seperti Senin (9/8) yang diapit hari Minggu dan Selasa (10/8) yang merupakan tanggal merah bertepatan dengan 1 Muharram. Jagat Twitter ramai dengan twitan @mohmahfudmd yang typo menulis Covid-19 dengan Covid-29. Tanggapan @azumi_tsuyoshie begini, ”oh berarti covid itu banyak varian ya kakek di mulai dari covid- 19 covid- 20 covid -21 covid- 22 covid- 23 covid- 24 covid- 25 covid 26 covid- 27 covid -28 covid-29.” @Nisaruhullutpa2 menanggapi begini, ”Paaakkk.....

Senang Sekaligus Terkejut

Gambar
  Zabidi Yakub saat menghadiri diskusi Gamolan Pring di Lampost, 20/11/2013 (foto: koleksi pribadi) Tercekat dirimu seketika Padahal, Rabu (11/8) pukul 21.35, saya ngepos tulisan di blog. Tetapi, sama sekali tidak hendak membuka fesbuk. Kalau saja membuka fesbuk tentu tahu ada pengumuman hasil sayembara yang ditaja Komite sastra Dewan Kesenian Lampung. Tentu tidak manjang hingga Kamis (12/8) siang baru tahu, baru akan senang sekaligus terkejut. Tetapi , memang begitu sejak dulu. Selagi sibuk bekerja di LE dulu  — dulu sekali —  saya ya serius kerja, tidak nyambi-nyambi sambil main sosmed. Tidak buka akun fesbuk ato twitter. Sampai-sampai Tumpak Chandra Pakpahan, kerabat kerja di LE dulu berseloroh, ”Pak Kabag ini kalau lagi kerja serius kali , gak sempat sambil main fesbuk segala .” Padahal, Kamis (12/8) pukul 3.27 PM atau 15.27 WIB, Sekretaris Komite Sastra DKL, Yuli Nugrahani, mengirim pdf pengumuman hasil sayembara ke email semua peserta serentak. Tetapi, karena...

Tangéh Kidang Kekalau

Gambar
Skybridge Rest Area Pendopo 456 A & 456 B, 28 Juni 2021 pukul 15.48. (foto: koleksi pribadi)   Dan, hujan saat salat Jumat sedang berlangsung siang tadi alangkah lebat nian. Siasat melestarikan Bahasa Lampung dari ketidaktertarikan generasi milenial memberdayakannya sebagai bahasa percakapan sehari-hari karena tersedak bahasa pasaran, salah satunya ialah dengan cara menguji seberapa besar minat mereka ikut sayembara menulis puisi berbahasa Lampung. Maka, untuk menguji itu, Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung menaja Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung dan Esai Sastra ”Budaya Lampung dalam Keanekaragaman Indonesia” (postingan fesbuk Udo Z Karzi, 6 Juni 2021), yang pesertanya tidak dibatasi umur, suku, domisili, dan sebagainya. Persyaratan sayembara yang tidak dibatasi umur, suku, domisili, dan sebagainya, itu mencerminkan betapa terbukanya kesempatan bagi siapa pun, umur berapa pun, dan di mana pun untuk mengikuti sayembara tersebut. Sesuai salah satu falsafah Lampung...

Sampai Kapan?

Gambar
ilustrasi gambar, Ariel Noah, menerima vaksin (foto: merdeka.com) Sudah kuduga, dari pertama PPKM Darurat ”disematkan” pada 3 Juli 2021, niscaya akan diperpanjang terus dan terus diperpanjang. Ah, jadi ingat tagline Philips; ”terus terang..., terang terus”. Dan faktanya memang demikian. PPKM Darurat (3 — 20 Juli) diperpanjang jadi PPKM Level 4 (21 — 25 Juli), diperpanjang lagi (26 Juli–2 Agustus), lalu (3 — 9 Agustus), lanjut terus (10 — 16 Agustus). Mungkinkah masih akan berlanjut? Sangat mungkin, mengingat varian Delta B.1.617.2 masih terus menyatroni mangsanya. Utamanya yang tidak taat prokes (5-M), meskipun sudah dua kali disuntik vaksin. Pertanyaannya, sampai kapan? Di media sosial beredar mémé, cuplikan video Presiden Jokowi seolah bertanya pada anggota kabinet mewakili masyarakat; PPKM Darurat ini akan diperpanjang apa tidak? Lantas seolah jawabannya disisipkan cuplikan-cuplikan vokal beberapa penyanyi. Menonton buah kreativitas netijen seperti itu, beban berat dampak PPKM ...

Pertolongan Allah Amat Dekat

Gambar
Sekilas saya mengulang cerita mengenai anak bungsu kami yang diterima bekerja di sebuah platform  media berita digital di Jakarta, namun masih WfH dari Jogja, membuat kami ”setengah tenang.”  Tetapi, mengingat varian Delta B.1.617.2 yang akhirnya sampai juga ke Jogja, tak ayal ”setengah galau” tetap saja melingkupi pikiran kami (saya dan istri tercinta), terutama Ibunya. Kebawa-bawa pikiran bercabang-cabang, asam lambungnya naik. Harus nguntalin beberapa macam obat agar sehat. Hampir seluruh kost-kost-an di seantero Jogja sepi penghuni, sejak pembelajaran jarak jauh diterapkan di kampus-kampus, praktis mahasiswa di Jogja pulang ke kampungnya msing-masing dan mengikuti perkuliahan secara daring. Bimbingan tugas akhir dengan dosbim pun dilakukan lewat pesan WhatsApp. Ujian tugas akhir pun tak urung juga dijalani secara daring. Bahkan wisuda pun tak luput dilaksanakan secara daring. Beruntung anak kami, ia bisa ikut wisuda secara luring di kampusnya. Sebulan pasca-ujian...