Setia Mengabdi

Pada masanya dulu, angkutan kota (angkot) menjadi ”raja jalanan” beradu cepat satu dengan yang lain, berebut penumpang. Keluar kandang dari subuh buta dan baru kembali ngandang hampir tengah malam. Itu rutinitas kerja para supir angkot. Demi apa? Demi setoran ke pemilik angkot. Banyaknya angkot yang melaju di jalanan, tentu saja membuat sedikitnya penghasilan para supir. Setelah dikurangi setoran dan mengisi penuh tanki BBM, acapkali hasil yang mereka bawa pulang hanya cukup untuk mengebulkan dapur satu hari, hampir tak ada yang bisa disisihkan untuk ditabung. Demi merebut simpati penumpang, angkot menghias diri dengan asesoris menarik dan raung musik cadas yang menggelegar memekakkan telinga. Kini, di tengah majunya teknologi, ternyata masih ada satu dua angkot beroperasi, mengejar peruntungan nasib. Adakah penumpang yang masih sudi menggunakan jasa angkot? Masih ada satu dua. Selebihnya, penumpang tinggal memesan taksi online lewat aplikasi di gadget . Menggunakan taksi onli...