Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Bahasa Daerah Kian Tersisih di Aceh

Gambar
BANDA ACEH, KOMPAS — Sebanyak 13 bahasa lokal dari sejumlah wilayah di Aceh mulai tersisih. Hal itu akibat pemakaian bahasa Aceh pesisir yang lebih dominan sebagai bahasa sehari-hari dibandingkan dengan bahasa lokal. Pemerintah perlu melestarikan bahasa lokal dengan menjadikannya sebagai mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan di Aceh. Demikian yang mengemuka dalam Pra Kongres Peradaban Aceh 2015 yang digelar di Banda Aceh, Sabtu (26/9). Hadir dalam acara itu, antara lain Ketua Kongres Peradaban Aceh Ahmad Farhan Hamid, Wali Naggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haytar, dan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Nazaruddin Sjamsuddin. Uniknya Pulau Simeulue, 1 pulau dengan 4 bahasa yang terancam hilang (foto: Abdul Hadi/acehkini) Pra Kongres Peradaban Aceh 2015 membahas penguatan bahasa-bahasa lokal di Aceh. Sudah terbentuk tiga komisi, yakni komisi kebijakan yang focus membuat kebijakab untuk penguatan bahasa lokal di Aceh, komisi produk yang foc...

Dua Buku Tebu dan Budaya Literasi

Gambar
Berapa buku tebu kira-kira dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram gula pasir. Dan berapa sendok gula perlu ditaburkan ke dalam segelas kopi atau teh agar mencapai kesempurnaan rasa manisnya. Kopi atau teh mungkin tidak tahu bahwa gula pasir penuh jasa bagi keduanya sehingga selalu dipesan suami kepada istri di pagi hari, atau pebecak bila istirahat di warung langganannya di pojok pasar.  Dua gelas minuman merakyat –satu kopi dan satu teh– terhidang di hadapan kami berdua Udo Z. Karzi, untuk teman berbincang di ’kafe’ pojok Gang Catur Tunggal Jalan Teuku Cik Ditiro, Kemiling. Kami berdua memang tidak memperbincangkan perihal dua buku tebu atau dua gelas minuman yang sesekali kami dua seruput meningkahi obrolan biar terasa lebih hangat. Maklum pertemuan jelang siang itu membiaskan kangen mendalam karena lama disimpan. Yang dibincangkan adalah perihal dua eksemplar buku yang saya pesan. Satu ’Rumah Berwarna Kunyit’ dan satu lagi ’Menulis Asyik.’ Yang pertama topik bahasa...

Perda Bahasa Lampung, Pernah Digagas Mudiyanto Thoyib

Gambar
Menurut beberapa pengamat Bahasa Lampung diprediksi dua puluh tahun mendatang terancam punah. Untuk itu Sumarsono, anggota Komisi I dari Fraksi PDIP DPRD Lampung Tengah menggagas terbitnya Peraturan Daerah (Perda) wajib berbahasa Lampung. Keinginanya untuk menggagas Perda Berbahasa Lampung sangat beralasan, karena antarsesama masyarakat Lampung sudah banyak yang meninggalkan bahasa pribumi. Berita LAMPUNG EKSPRES, Rabu, 9 September 2015, Halaman 7. Yang ada justru masyarakat Lampung lebih memilih menggunakan bahasa Betawi (Elo-elo. Gua-gua), ketimbang bahasa ibunya (Mother Tong). Lebih parahnya lagi, para orang tua, tidak lagi mengajarkan anak-anaknya menggunakan bahasa Lampung melainkan menggunakan bahasa melayu. Seakan-akan bahasa Lampung, adalah bahasa kampungan, dan dianggap ketinggalan jaman, lalu dikaitkan dengan modis pergaulan masa kini. Hingga saat ini banyak masyarakat asli Lampung yang tidak bisa berbahasa Lampung. Untuk itu sebelum terlambat, dan bahasa L...