Bahasa Lampung Terasing di Rumahnya Sendiri
Asal mula saya menulis artikel yang berjudul “Halokke di Lamban Tuha” baca lengkap di : http://zabidiyakub.blogspot.com/2013/09/halokke-di-lamban-tuha.html adalah berangkat dari keanehan yang saya rasa. Dinyatakan sebagai “bahasa daerah” tapi “Bahasa Lampung” sangat jarang saya dengar dipergunakan orang dalam berkomunikasi. Persis seperti di artikel “Halokke di Lamban Tuha” tersebut, sejak terbuka mata di pagi hari, sejak mulai melangkahkan kaki menuju tempat bekerja, ke pasar atau ke mana pun. Di dalam moda tranportasi umum seperti angkutan kota (angkot), bus rapid transit (BRT) dan lainnya bisa dikatakan tak pernah telinga saya menangkap obrolan orang menggunakan Bahasa Lampung. Di perkantoran, pasar, dan perumahan tempat tinggal bahkan di warung, juga sangat jarang menjumpai dialog antarpegawai, orang-orang yang belanja, anak-anak yang bermain, ibu-ibu yang ngerumpi, serta bapak-bapak yang kongkow sembari bertukar cerita tentang peliharaan atau hobi yang sedang merek...