Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Banality of Evil

Gambar
Banality of evil (banalitas kejahatan) didefinisikan oleh Hannah Arendt sebagai anggapan yang wajar terhadap kejahatan, dan tidak menganggap kejahatan itu sebagai sesuatu yang salah, atau lebih parahnya kejahatan dianggap tidak ada. Adanya banalitas disinyalir karena manusia kehilangan kepribadian dalam dirinya. Belum tiris betul hebohnya media memviralkan kasus pelecehan seksual di sebuah gerai kopi dengan jenama populer. Kembali netizen dikejutkan viralnya kasus permintaan sejumlah uang disertai pelecehan seksual, dialami seorang cewek berinisial LHI, saat melakukan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (13/9/2020). Pelakunya, menurut utas twet LHI, adalah oknum berinisial EFYS (S.Ked) yang bertugas melayani keperluan rapid test calon penumpang di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. EFYS bertugas pada sebuah klinik milik perusahaan farmasi berpelat merah. Hasil tes itu sangat menentukan seseorang boleh terbang atau tidak. Dari curhatan di Twitter itu terungkap oknum...

Terapi Perilaku

Gambar
  Kemarin pagi, Senin (14/9/2020), sambil mencecap kopi, membayang di benakku wajah orang-orang yang kembali harus menjalani aktivitas kantor dari rumah, seiring diberlakukannya kembali PSBB yang diperketat di DKI Jakarta mulai kemarin. Tetapi, tidak jelas benar wajah-wajah itu menyiratkan semringah kegirangan atau mecucu menggambarkan kekesalan. Ya, WFH harus kembali mereka jalani karena eskalasi orang positif Covid-19 di Provinsi DKI melaju kencang ’balapan’ dengan Provinsi Jawa Timur. WFH maksudnya work from home , ya. Bukan We Fell in love with a person Have never met . Matahari meninggi, eh kopi malah menyurut ke dasar cangkir. Sudah agak siang rupanya. Perlahan aku susuri jalan Imam Bonjol ke arah Bambu Kuning, ketika lewat di Pasar SMEP tertangkap mataku sesosok pria sedang push up ditunggui aparat TNI. Aku paham, pasti ia sedang menjalani sanksi akibat tidak menjalankan protokol kesehatan, karena di mulutnya tidak tersampir masker jenis apa pun. Di Pasar Koga, ketik...

In Memoriam Pendiri Kompas

Gambar
Baru saja Kompas merayakan peringatan 100 tahun PK Ojong pada 27 Juli 2020, eh... 9 September 2020 koran besar itu kehilangan lagi salah seorang pendirinya, Jakobus Oetama. Petrus Kanisius Ojong (terlahir dengan nama Auwjong Peng Koen) dan Jakobus Oetama adalah pendiri koran Kompas yang terbit perdana pada 28 Juni 1965. PK Ojong lahir di Sumatra Barat, 27 Juli 1920 dan wafat di Jakarta 31 Mei 1980. Dalam sikap dan tindakan, Ojong menolak segala hal yang punya bau feodalisme. Baginya, itu adalah sikap tak adil dan menghambat kemajuan. Ojong ingin perusahaan yang ia rintis, dirikan, dan pimpin bersama Jakob Oetama tidak bersifat onmisbaar . Perusahaan yang baik yang dapat menjamin kesejahteraan pegawainya, kata dia, adalah yang tidak onmisbaar . Artinya, ketika pemimpin pendahulu tak ada lagi, perusahaan tetap harus bisa berjalan. Jadi, lanjut Ojong, perlu disusun sistem yang memungkinkan untuk itu. Harus ada pula kader-kader untuk menggantikan pemimpin lama. ”Saya yakin Tuhan ti...

Buku dan Minat Baca

Gambar
”Setiap bulan sedikitnya saya membeli 300 buku,” demikian budayawan Taufik Rahzen bertutur di sebuah acara bertajuk ”Temu Blogger Buku” di pertengahan Mei 2008. ”Kadang-kadang bisa juga sampai 600 buku,” tambahnya. Ratusan pengunjung yang terkejut mendengar angka 300, dibuatnya lebih terperangah lagi. Acara yang ditaja di Kafe Matahari, Jakarta, tersebut memang diselenggarakan oleh para ’kutu buku’ yang tidak hanya hobi baca tapi juga rajin membuat ulasan di blog tentang buku yang dibacanya. Paslah memang acara itu bertema ”Temu Blogger Buku” karena yang hadir sebagian besar para blogger yang suka baca buku. Keterkejutan mendengar pernyataan Taufik Rahzen yang setiap bulan membeli 300 bahkan 600 buku, penggila buku yang berani-beraninya ngaku  ’kutu buku,’ tentu sedikit pakewuh jika ternyata hanya bisa membeli 2 atau 3 buku dalam sebulan. Lebih-lebih bagi orang yang masih menganggap buku hanyalah kebutuhan sekunder. Di masa pandemi Covid-19, yang mengharuskan orang st...

”INFLUENCER”

Gambar
Influence , sepenggal kata bahasa Inggris ini memiliki arti ’mempengaruhi.’ Kalau dalam bahasa bakunya ’memengaruhi’ karena pada kalimat tertentu yang menggunakan kata kerja yang berawalan huruf k-p-s-t akan diluluhkan bila diikuti atau ada imbuhan (awalan) ’me-’, ’men-’, dan ’meng-’. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ’influens.’ Jika kata aslinya ditambahi huruf ’r’ untuk melekatkannya kepada ’orang’ atau ’barang’ yang memiliki pengaruh, akan menjadi ’influencer’ yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi pemengaruh. Apa pun bisa jadi pengaruh dan siapa pun bisa terpengaruh. Tidak usah yang berat-berat, ambil saja misal bacaan. Tidak mesti berupa buku, status seseorang di laman media sosialnya pun akan menimbulkan pengaruh, baik pengaruh yang positif maupun negatif. Positif dalam arti bila status seseorang tersebut mengandung kelucuan sehingga memancing tawa. Dan negatif manakala status seseorang itu justru membuat orang yang membacanya terpancing emos...